Beranda Politik Pelaku Perempuan jadi Fenomena Baru Aksi Terorisme

Pelaku Perempuan jadi Fenomena Baru Aksi Terorisme

27
MENCEGAH : Para pembicara dalam Sosialisasi Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) bertema "Pencegahan Terorisme dan Radikalisme di Masyarakat", Sabtu (10/04) di Kantor Perwakilan DPD RI Jawa Tengah, Jalan Imam Bonjol Semarang. Foto : Rita H

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Fenomena perekrutan kaum perempuan dalam aksi terorisme menjadi hal baru dalam aksi terorisme yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia. Beberapa aksi terorisme dengan mengorbankan jiwa pelaku dilakukan oleh perempuan.

Hal itu menjadi salah satu perhatian para pembicara dalam Sosialisasi Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) bertema “Pencegahan Terorisme dan Radikalisme di Masyarakat”, Sabtu (10/04) di Kantor Perwakilan DPD RI Jawa Tengah, Jalan Imam Bonjol Semarang.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Ketua I DPD RI Dr Nono Sampono MSi, Ketua Majelis Ulama Indonesia Jateng Ahmad Darodji, Ketua Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme Jateng Prof Dr Syamsul Maarif, dan Pemuka Agama Katolik Romo Aloysius Budi.

Dalam paparannya Prof Syamsul mengemukakan, fenomena pelaku terorisme yang dilakukan oleh perempuan harus memperoleh perhatian karena merupakan fenomena yang baru dalam aksi terorisme. “Kita tahu aksi pelaku teror akhir akhir ini dilakukan oleh perempuan, ini adalah fenomena baru dalam pelaku terorisme,” ungkapnya.

Menurutnya, pada sejumlah penelitian yang dia lakukan, aksi terorisme memanfaatkan berbagai isu dan faktor sosial. Sensitifisme agama yang berlebihan, dibumbui dengan kondisi sosial, politik serta persoalan keuangan, menumbuhkan tekanan tertentu yang berpengaruh secara psikis.

Sedangkan Romo Aloysius mengatakan jika pihaknya tidak sepakat jika terorisme adalah ajaran agama. Melalui berbagai kesempatan pihaknya selalu menyampaikan jika terorisme adalah paham di luar ajaran keagamaan.

Menurut Ahmad Daroji, fenomena perempuan dalam terorisme bisa jadi dikarenakan pelaku teror memanfaatkan sisi emosional dan aktualisasi diri sehingga mudah dipengaruhi untuk melakukan aksi terorisme. Hal itu juga diperparah dengan merebaknya konten hoaks yang marak beredar dan mudah diakses melalui media sosial.

Melalui sambutannya, Nono mengatakan pencegahan terorisme dan radikalisme adalah tanggung jawab seluruh warga negara. Melalui perannya dalam parlemen sebagai anggota MPR RI, Nono melaksanakan tanggung jawab itu dengan terus menerus melakukan sosialisasi pencegahan terorisme dan radikalisme.

Kegiatan diikuti oleh puluhan mahasiswa dari sejumlah universitas di Kota Semarang, dengan menerapkan protokol kesehatan. Rit/biz