Pelatihan Inovasi BUMdes Wilayah Pati Kota, Serap Ilmu BUMdes hingga ke Semarang dan Klaten

Sejumlah Kades dan Lurah dan beberapa anggota BUMDes di wilayah Kecamatan Pati Kota foto bersama usai mengikuti pelatihan di Jogjakarta. FOTO : DOK/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOS.CO.ID, PATI – Puluhan kepala desa (kades) dan lurah serta anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMdes) se-Kecamatan Pati mengikuti pelatihan pengelolaan Dana Desa (DD) bidang pemberdayaan penguatan pendapatan asli desa (PAD) melalui BUMDes. Apa saja materi yang didapatkan?

Pelatihan tersebut sengaja dilakukan di dua tempat yang berbeda, yakni di Desa Lerep, Kabupaten Semarang dan Desa Ponggok, Kabupaten Klaten.

Sedangkan materi terkait pelatihan tersebut, adalah seputar inovasi tentang BUMdes. Hal itu untuk memberikan wawasan kepada kades dan pengelola BUMDes, agar kedepannya  pengelolaan BUMDes bisa lebih maksimal.

Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kecamatan Pati Yunita Ekhapuspita, mengaku banyak ilmu yang didapat yang tidak pernah terpikirkan sebelum mengikuti  pelatihan itu.

Banyaknya wawasan yang didapat peserta, kata Yunita, nantinya bisa menjadi ide dalam pengembangan BUMDes. Ia juga berharap Dana Desa yang dikucurkan, tidak hanya terfokus untuk  dialokasikan infrastruktur saja.

Namun Dana Desa juga sebagian bisa dianggarkan untuk modal  pengembangan BUMDes. Jika hal tersebut dilakukan, maka bisa menjadi salah satu cara mengurangi  pengangguran dan meningkatkan perekonomian masyarakat melalui BUMDes.

“Desa-desa di wilayah Kecamatan Pati khususnya, diharapkan dapat mengembangkan  BUMDes. Karena program pengembangan dan kemajuan desa juga bisa dilakukan dengan cara tersebut,” ungkapnya.

Nantinya, Yunita berharap pemerintah agar benar-benar dapat membimbing dan  memfasilitasi BUMDes, agar dapat bersama-sama dengan pemerintah desa mengentaskan kemiskinan.

Yunita mengakui bahwa selama ini, ada ketakutan kades dalam mengembangkan BUMDes. Seperti halnya  jika dana BUMDes dibuat simpan pinjam, akan hilang seperti dana-dana bantuan yang terdahulu.

“Insyaallah dengan pelatihan tersebut, ternyata banyak sekali inovasi yang bisa  dijalankan sebagai usaha selain simpan pinjam yang jadi momok bagi kepala desa.  Karena ada unit usaha lain yang bisa dijalankan,” pungkasnya.(lis/rif)