Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Implementasinya bagi Penguatan Motivasi Belajar Siswa

Dwi Rahayu Wijayanti, S.Pd.

JATENGPOS.CO.ID,  – Dasar pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang tujuan Pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manjusia maupun anggota masyarakat. Oleh sebab, itu pendidik itu hanya menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar dapat memperbaiki lakunya hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak.Dalam menuntun laku dan pertumbuhan anak, Ki Hajar Dewantara mengibaratkan pendidik seperti petani. Anak-anak seperti bibit tanaman, petani memiliki berbagai macam bibit tanaman yaitu bibit tanaman padi, bibit tanaman jagung, bibit tanaman kedelai. Ketika bibit padi ditanam maka tumbuhkanlah sebagai padi, jangan menumbuhkan padi berharap jagung karena itu tidak  akan terjadi. Dan jangan pernah memelihara jagung menggunakan ilmu memelihara padi. Dalam proses menuntun , anak diberi kebebasan namun pendidika sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya,. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar.

                        Ki Hadjar Dewantara menjelaskan bahwa dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Ki Hadjar Dewantara hendak mengingatkan pendidik bahwa pendidikan anak sejatinya menuntut anak mencapai kekuatan kodratnya sesuai dengan alam dan zaman. Bila melihat dari kodrat zaman, pendidikan saat ini menekankan pada kemampuan anak untuk memiliki keterampilan Abad ke-21 sedangkan dalam memaknai kodrat alam maka konteks lokal sosial budaya murid di Indonesia Barat tentu memiliki karakteristik yang berbeda dengan murid di Indonesia Tengah atau Indonesia Timur. Mengenai Pendidikan dengan perspektif global, Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pengaruh dari luar tetap harus disaring dengan tetap mengutamakan kearifan lokal sosial budaya Indonesia. Oleh sebab itu, isi dan irama yang dimaksudkan oleh Ki Hadjar Dewantara adalah muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sejatinya tidak bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya yang ada di Indonesia. Kekuatan sosial budaya Indonesia yang beragam dapat menjadi kekuatan kodrat alam dan zaman dalam mendidik  (menuntun kekuatan kodrat anak).

                         Ki Hadjar Dewantara memiliki filosofi tentang pendidikan yaitu ada perubahan. Yang berubah adalah   budi pekerti pada siswa. Budi memiliki kedalaman arti cipta , rasa dan karsa. Cipta adalah pikiran, rasa adalah perasaan, karsa adalah jasmani. Dengan  menajamkan pikiran, menghaluskan rasa, memperkuat kemauan, menyehatkan jasmani.Maka, Pendidikan itu harus holistik dan seimbang tidak bisa timpang, agar terjadi kesempurnaan budi pekerti yang membawa anak pada kebijaksanaan. Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara memiliki pemikiran bahwa tujuan pendidikan adalah untuk anak,yang memiliki kaitan dengan salah satu analogi berhamba pada anak. Yang memiliki makna bahwa guru melayani siswa sesuai dengan keinginan siswa untuk mencapai kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

                        Dengan beberapa pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang masih memiliki relevansi dengan pendidikan saat ini yaitu dengan perubahan budi pekerti siswa , kodrat alam, kodrat zaman, dan menghamba pada anak.  Perubahan budi pekerti pada siswa adalah penting dari proses dan hasil pembelajaran, siswa tumbuh menjadi  manusia bijaksana. Selain itu, dalam proses pendidikan penting untuk memperhatikan kodrat alam dan kodrat zaman pada anak , sehingga mewujudkan tujuan belajar yang memerdekakan anak. Untuk menghamba pada anak dapat diimplementasikan pada pembelajaran, yang awalnya siswa  masih menurut apa yang diinginkan guru sekarang berubah guru melayani siswa.sehingga guru dapat memberikan penguatan pada siswa dalam belajar. Tujuan memberikan penguatan menurut Marno & Idris (2014:130 131) yaitu (1)Meningkatkan perhatian siswa dalam proses belajar;(2)Membangkitkan, memelihara, dan meningkatkan motivasi siswa;(3)Mengatur dan mengembangkan diri anak dalam proses belajar. Dengan mmberikan penguatan baik verbal maupun non verbal, siswa dapat meningkat motivasi belajarnya. Sebagai contoh dalam pembelajaran guru memberikan senyuman, mengajak siswa juntuk membuat kesepakatan kelasdan  bermain dalam ice breaking agar pembelajaran terasa santai namun serius. Siswa yang bersenang-bersenang dalam pembelajaran memiliki motivasi  belajar yang tinggi.

 

Dwi Rahayu Wijayanti, S.Pd.

Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 1 Rembang