Pemimpin Muda, Kuncinya Nylondohi

Ratih Pramudya Jati S.Pd

MUDA: Ratih Pramu Jati, S.Pd.

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG –  Sekilas masih seperti gadis. Tampak muda dan energik. Tapi siapa sangka ternyata sudah punya dua anak. Bahkan mbarepnya sudah SMP.

Itulah Ratih Pramudya Jati, S.Pd, Kepala Sekolah (Kepsek) Pleburan 01 Semarang. Wanita anggun itu, adalah salah satu Kepala Sekolah muda di kota Semarang. Pemimpin milenial. Padahal usianya masih 36 tahun.

“Saya jadi kepala sekolah setelah mengikuti berbagai tahapan seleksi secara terbuka dan kompetitif,”kata wanita kelahiran Semarang, 18 Agustus 1986 itu.

Sebagai pemimpin muda, dia mengakui memang ada sedikit kendala ketika memimpin para guru yang lebih senior. Terutama ketika masih menjadi Kepsek Plt di sekolah sebelumnya.

“Ada sedikit kendala terutama komunikasi. Maklum kita hidup di Jawa sehingga tidak bisa meninggalkan tradisi senioritas. Untuk mengatasinya, saya kalau memerintah menggunakan bahasa nyuwun tulung, nyuwun sewu, istilahnya yang muda harus nylondohi,”tambah alumni Unnes Semarang yang baru sekitar 3 bulan menjabat Kepsek itu.

Tetapi untuk di SDN Pleburan 01, Ratih mengaku belum menemui kendala senioritas. Semua guru dan tenaga didik (tendik), relatif mudah dan terbuka untuk komunikasi. Apa saja bisa dirembuk dan dijalankan dengan kompak. Meski dia masih unior, sebagai Kepsesk didukung penuh para senior.

Istri I Made Darma Mei Setiawan, SH, itu menambahkan, sebagai Kepsek punya opsesi meningkatkan prestasi anak-anak SDN Pleburan 01 bisa bersaing dengan sekolah lain. Sejak menjabat dia membuat motto sekolah “SDN Pleburan 01 OKE”. Obyektif, Kreatif, dan Energik.

“Pekerjaan utama pendidikan termasuk saya itu menyiapkan generasi unggul untuk menyongsong Indonesia emas tahun 2045,”tambah ibu dari Gede Rama Janitra Darmaezar dan Amara Ayu Darmaezar itu.

Warga Jln Kanfer Utara Pedalangan Banyumanik itu berpendapat, era sekarang sudah buka saatnya lagi wanita hanya di belakang. Tetapi punya kesempatan sama dengan kaum pria untuk menginspirasi orang lain dalam kebaikan. Sekalipun seorang ibu yang lembut, perempuan juga harus mandiri untuk diri sendiri.

“Perempuan memang bisa berkaris sukses, tetapi jangan lupa semua atas dukungan dan doa restu suami, di dalamnya juga ada doa Bapak dan Ibu yang luar biasa,”kata penghobi soto dan gudeg, yang dilahirkan dari orang tua bernama Sunarjadi dan Kusmiyati itu.

Di sela kesibukanya, pemilik akun IG @Bali_Ayu Rajut itu mengisi harinya dengan traveling ke gunung dan alam yang sejuk. Dia juga gemar merajut dan membaca. Bahkan masa pandemi lalu Ratih mengisi waktunya dengan merajut untuk dijual.

Pemilik motto hidup “Lakukan yang Terbaik” itu mengaku bangga hidup di Semarang. Baginya kota lumpia sangat indah dan menawan. Pembangunya maju. Pelayanan publiknya oke. “Semoga Semarang bisa menginspirasi kota lain menjadi maju dan semakin hebat,”tutupnya. (jan)