Beranda Ekonomi Pengusaha Berharap Infrastruktur Gas di Jateng Segera Terealisasi

Pengusaha Berharap Infrastruktur Gas di Jateng Segera Terealisasi

30
Petugas PGN memeriksa instalasi jaringan gas pabrik vulkanisir ban di Kawasan Industri Tambak Aji, Semarang. Industri vulkanisir ban berkapasitas produksi sekitar 200 ton karet vulkanisir per bulan tersebut memanfaatkan energi gas bumi PGN untuk kegiatan operasionalnya. (Foto : Prast.wd/jateng pos )

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kota Semarang merupakan kota di Jawa Tengah yang dipilih PGN untuk diaktifkan kembali kegiatan operasionalnya pada tahun 2014 lalu dimana sebelumnya sempat terhenti beroperasi pada periode tahun 2000-an sebagai pelaksanaan peran pengelola gas bumi domestik.

Terobosan pembangunan infrastruktur gas bumi yang dilakukan PGN untuk wilayah Semarang adalah melalui pembangunan infrastruktur CNG sebagai solusi sementara sebelum infrastruktur pipa gas bumi terbangun untuk menghubungkan Jawa Timur sebagai titik pasok dengan JawaTengah sebagai titik pasar.

Layanan gas bumi melalui CNG diawali di Kawasan Industri Tambak Aji dan terus melakukan pengembangan wilayah di Kawasan Industri Wijaya Kusuma. Pada tahun 2016, PGN juga menerima penugasan pengoperasian Jargas APBN di Kota Semarang dan Blora.

Sekretaris Perusahaan Rachmat Hutama menjelaskan untuk rata-rata hari biasa, gas bumi yang dipasok PGN untuk sektor industri dan rumah tangga di wilayah Semarang, dikonsumsi sekitar 220.000-250.000 meter kubik per bulan. Sedangkan pemakaian rata-rata gas bumi untuk sektor rumah tangga di tahun 2019 sebesar 22.000 meter kubik per bulan, yang mengalami kenaikan 37 persen dibandingkan dengan tahun 2018.

“Pasokan gas bumi dalam bentuk CNG yang tersedia di Stasiun Penurun Tekanan (Pressure Reducing Station/ PRS) Tambak Aji angkanya memang berada di atas angka konsumsi gas bumi rumah tangga, bahkan kenaikan konsumsi gas bumi masih dalam cakupan volume gas bumi yang tersedia di PRS Tambak Aj,” tutur Rachmat.

Rachmat menjelaskan, setelah menyelesaikan proyek tersebut, PGN akan membangun pipa distribusi jalur Semarang-Kendal-Ungaran sepanjang 96 kilometer. Jaringan pipa gas ini akan menjamin wilayah Jawa Tengah dan sekitarnya mendapatkan pasokan gas secara berkelanjutan.

Ke depannya, koneksi infrastruktur gas bumi Trans Jawa diharapkan akan tersambung sampai Jawa Barat dan Sumatera sehingga akan meningkatkan keandalan pasokan serta perluasan pasar gas bumi untuk utilisasi gas bumi domestik.

“Pembangunan berbagai infrastruktur gas itu menjadi prioritas utama PGN, mengingat semakin besarnya kebutuhan energi yang lebih efisien di berbagai wilayah di Indonesia, terutama untuk daerah-daerah yang selama ini belum terjamah gas bumi dan memiliki potensi ekonomi yang sangat baik untuk pengembangan sektor kelistrikan, industri, transportasi, dan rumah tangga,” jelasnya.

CV Darat adalah salah satu perusahaan yang menggunakan energi baik gas bumi PGN sebagai bahan bakar boiler selama 5 tahun ini. Manager CV Darat, Agustinus mengatakan jika banyak sekali manfaat yang didapat setelah ia beralih menggunakan gas bumi PGN sejak 2014 silam. Satu di antaranya adalah efisiensi.

Agustinus menjelaskan, sebelum menggunakan gas bumi PGN, pihaknya mengandalkan solar sebagai bahan bakar boiler. Biasanya, sebulan pihaknya butuh 15 ribu liter solar industri. Sementara dengan gas bumi, ia cukup hanya dengan 7 ribu meter kubik.

“Satu meter kubik harganya Rp 6.300. Sementara solar industri per liter lebih mahal dibanding itu. Penghematannya mencapai 30 persen,” terang Agustinus. Kelebihan lainnya adalah dari sisi kebersihan. Penggunaan gas bumi, ujar dia, sama sekali tidak menimbulkan asap. Hal itu tentu bikin pekerja kian nyaman saat beraktivitas di lingkungan pabrik vulkanisir ban yang menghasilkan 200 ton tiap bulannya.

Kalori yang dihasilkan juga lebih tinggi. Jadi berdampak pada produktivitas dan efisiensi,” tambah dia.

Sudah terbiasa menggunakan gas bumi PGN, Agus berharap tidak berhenti di boiler semata. Ia sangat berharap suatu hari nanti bisa menikmati gas bumi PGN sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Dengan demikian, anggaran untuk memenuhi kebutuhan sumber energi, bisa lebih hemat.

Untuk itu, ia berharap pembangunan infrastruktur gas di Jateng segera terealisasi. Agus yakin jika gas dialirkan melalui pipa, harganya akan lebih kompetitif. Hal itu sangat membantu pelaku industri seperti dirinya. (Prast.wd/biz/rit)