Beranda Opini Pesan untuk Relawan Laka Sungai Sempor Turi: Jangan Labeli Mereka Trauma

Pesan untuk Relawan Laka Sungai Sempor Turi: Jangan Labeli Mereka Trauma

463

Oleh Diana Setiyawati
Centre for Public Mental Health
Fakultas Psikologi UGM
@cpmhugm

Kita semua berduka dan sangat ingin mengulurkan tangan untuk membantu korban dari kejadian yang melanda SMPN 1 Turi, Sleman. Ini merupakan hal yang baik di balik setiap kejadian bencana. Sudah menjadi fitrah kemanusiaan kita untuk berbagi. Semangat ini memberi kekuatan kita untuk merespons cepat situasi duka semacam yang menimpa adik-adik ini.

Alangkah baiknya jika proses menolong tersebut kemudian diberikan dengan tepat, sehingga bisa meringankan beban adik-adik dan keluarganya. Namun, tak jarang, keinginan kita membantu tersebut –mungkin karena terlalu bersemangat-juga bisa berwujud hal-hal yang kurang tepat, seperti mem-forward foto, menyampaikan berita yang tidak simpatik, dan juga memberikan label “trauma” (yang dalam rasa bahasa kita kurang lebih bermakna luka psikologis yang mendalam).

Benar, bahwa yang baru saja terjadi adalah peristiwa traumatis, namun kita percaya, Allah SWT akan memberi kekuatan kepada mereka yang mengalaminya untuk bisa melaluinya dengan baik, tanpa meninggalkan trauma berkepanjangan. Sehingga tidak perlu label “mengalami trauma berat” dan semacamnya kita ucapkan atau kita populerkan melalui berbagai media.

Apa yang dirasakan oleh keluarga besar SMPN 1 Turi (dan mungkin juga oleh kita semua yang peduli adalah REAKSI NORMAL TERHADAP SITUASI ABNORMAL atau “NORMAL REACTION TO ABNORMAL SITUATION”. Susah tidur, takut, cemas, merasa was-was, tidak bisa konsentrasi, tidak nafsu makan, dan bahkan sakit perut, dan lain-lain, adalah reaksi emosi dan perasaan yang normal dalam situasi yang berat ini. Adalah sangat wajar bagi siapapun untuk mengalami hal tersebut sementara waktu.

Yang harus kita lakukan adalah membantu dan memberi dukungan emosi, bukan justru memberikan label. Bagaimana caranya? Pertama, dengarkan. Semua orang yang terlibat dalam suatu kejadian sangat ingin menceritakan apa yang dialaminya. Yang harus kita lakukan adalah mendengarkan dan tidak menolak perasaan mereka.

Kedua, empati. Empati ini tidak semudah yang kita kira. Kadang-kadang spontan kita bilang, “sabar, tawakal”, padahal bagi sebagian orang pernyataan tersebut justru seperti meragukan kesabaran mereka. Empati kadang tidak perlu diucapkan jika kita ragu dengan ucapan yang paling tepat pada situasi itu. Cukup mengangguk, menggelengkan kepala atau menarik nafas dalam sebagai respon cerita dan mengatakan “Laa haula wa laa quwwata illa billah” atau doa lain seperti ”Semoga Allah mudahkan, semoga diberi kekuatan” dan semacamnya.

Ketiga, beri perhatian. Misalnya, dengan mengambilkan makanan, memastikan kebutuhan pokoknya terpenuhi, dan semacamnya. Dengan memberikan support yang tepat, insyaallah kita bisa membantu adik-adik kembali ke kondisi semula. Mereka insyaallah akan mampu menjadikan peristiwa ini sebagai tahap untuk menguatkan jiwa mereka, bukan sebaliknya.

Hal-hal di atas bisa disebut dengan Psychological First Aids atau PFA. PFA secara umum memiliki prinsip-prinsip tindakan yang dapat dibagi menjadi tiga aksi. Pertama, look. Contoh tindakan dari prinsip pertama ini adalah memberikan perhatian kepada keamanan siswa yang baru saja terpapar kejadian traumatik, mengamati kondisi diri siswa dan kemudian memberikan kebutuhan dasar yang harus segera diberikan kepadanya, serta memerhatikan gejala-gejala yang terjadi pada siswa, jika dia tampak membutuhkan pertolongan lebih lanjut.

Prinsip kedua adalah listen. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan, misalnya melakukan kontak dengan siswa yang membutuhkan bantuan psikologis, menanyakan secara baik-baik kebutuhan-kebutuhan yang menjadi prioritasnya saat ini, kemudian mendengarkan dengan seksama jika siswa hendak bercerita dan bantu mereka untuk menjadi lebih tenang.

Yang ketiga, link. Beberapa hal yang dapat dilakukan terkait ini adalah penuhi kebutuhan dasar siswa yang membutuhkan bantuan psikologis dan akses ke bantuan tenaga professional jika dibutuhkan, bantu mereka dalam menghadapi masalah-masalah yang ada sesuai dengan kapasitas kita, beri mereka informasi-informasi yang mungkin dapat membuat mereka lebih tenang, serta hubungkan mereka dengan orang-orang terdekatnya dan atau pihak-pihak yang bisa memberikan dukungan sosial lebih lanjut. Dalam konteks wilayah Sleman, saat ini para psikolog memiliki posko yang dikoordinasikan oleh pemerintah Kabupaten Sleman, organisasi psikologi semisal Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan Ikatan Psikolog Klinis (IPK), serta kampus-kampus di DIY.

Pengalaman menghadapi peristiwa traumatis, jika tidak direspon dengan pendampingan yang baik, dapat meninggalkan luka psikologis, atau kecemasan berkepanjangan. Namun, jika kita mendukung dengan tepat, memberikan mereka rasa aman, menguatkan kedekatan mereka dengan Sang Pencipta, insyaallah peristiwa ini akan menjadi sebuah pengalaman yang berharga yang menumbuhkan. Membuat jiwa mereka kuat dan siap menjadi pemimpin masyarakat di kemudian hari.