Beranda Sekolah Hebat Opini Guru “Pindah Ruas”dalam Persamaan Linier, Tepatkah?

“Pindah Ruas”dalam Persamaan Linier, Tepatkah?

10613
Siti Nur Baiti, S.Pd SMA Negeri 1 Karanganom Klaten Jawa Tengah.
Siti Nur Baiti, S.Pd SMA Negeri 1 Karanganom Klaten Jawa Tengah.

JATENGPOS.CO.ID, – Prestasi belajar matematika masih menjadi problematika di berbagai sekolah menengah atas. Tidak sedikit siswa yang masih beranggapan matematika itu sulit. Terlebih lagi apabila gurunya tergolong “galak”. Sebetulnya matematika itu bisa menjadi mata pelajaran yang paling menyenangkan dengan cara penyampaian yang benar sesuai konsep ilmunya. Semakin tinggi jenjang sekolahseseorang semakin dalam tingkat keilmuannya. Sehingga penanaman konsep yang benar sejak dini sangatlah penting agar ketika seseorang berada di jenjang sekolah yang lebih tinggi tidak mengalami kesulitan dalam memahami materi yang lebih mendalam.

Sebagian besar siswa ketika masuk ke jenjang SMA mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran matematika karena konsep di jenjang sebelumnya yang kurang matang. Siswa dan guru masih sering mengandalkan sistem drill soal untuk mencapai nilai yang memuaskan tanpa didahului dengan cara pengerjaan yang benar sesuai konsepnya. Di dalam kegiatan drill soal tersebut, siswa dan guru lebih mementingkan bagaimana mendapatkan jawaban yang benar daripada penekanan konsep yang benar. Hal ini terlihat pada saat guru SMA melakukan apersepsi berupa review materi SMP, sering dijumpai siswa yang mengatakan “pindah ruas” ketika menyelesaikan persamaan linier. Kata “pindah ruas” itu sesungguhnya bukanlah konsepmatematika yang benar. Apabila konsep yang diajarkan tidak benar maka akan menimbulkan banyak kesalahan dalam menyelesaikan soal. Hal ini dapat dilihat dari kesalahan – kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika terutama pada persamaan dan pertidaksamaan linier.

Pertama, pada penyelesaian persamaan linier semisal x + 3 = 4, untuk mencari nilai x siswa sering mengatakan 3 pindah ruas menjadi negatif sehingga x = 4 – 3. Walaupun nilai x yang didapatkan benar akan tetapi cara tersebut bukanlah konsep yang benar dalam operasi aljabar. Kata “pindah ruas” dapat membuat siswa melakukan kesalahan dengan menuliskan x = 4 + 3. Seharusnya guru menjelaskan ruas kanan dan ruas kiri sama – sama dikurangi 3 karena hal tersebut tidak akan merubah nilai ataupun merubah penyelesaian.

Kedua, ketika siswa menyelesaikan persoalan 2x = 6. Ada beberapa siswa yang cara penyelesaiannya x = 6 – 2 karena menggunakan kata “pindah ruas”. Padahal ketika siswa mempunyai konsep yang benar sejak kecil bahwa ruas kiri dan ruas kanan sama – sama dibagi 2 maka siswa kemungkinan besar tidak akan mengalami kesalahan dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

Ketiga, kata “pindah ruas” jugamembuat siswa kebingungan ketika bertemu dengan pertidaksamaan linear semisal 2 <(x – 2)< 6, apabila (–2) pindah ruas maka akan pindah kemana? ruas kiri atau ruas kanan?. Akan tetapi ketika siswa diajarkan untuk menambah 2 semua ruas maka siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Karena siswa akan menuliskan (2 + 2) < (x – 2 + 2) < (6 + 2) dan diperoleh hasil akhir 4 < x < 8.

Penanaman konsep matematika yang benar sejak dini terutama dalam operasi aljabar sangatlah penting bagi siswa. Mengganti kata “pindah ruas” dengan konsep yang benar akan mengurangi tingkat kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Di dalam persamaan ketika ruas kiri ditambah k maka ruas kanan juga harus ditambah k dan ketika ruas kiri dikali k maka ruas kanan juga harus dikali k. Hal ini sesuai dengan arti tanda “=” seperti yang dijelaskan padahttp://id.m.wikipedia.org/wiki/Daftar_simbol_matematika yaitu misalnya x = y berarti x dan y mewakili hal atau nilai yang sama.

Peran guru sangatlah penting dalam penanaman konsep karena gurulah yang “ditiru lan digugu” oleh siswa. Dari paparan penulis, diharapkan guru dapat menanamkan konsep matematika yang benar agar siswa dapat menyelesaikan persoalan dengan mudah, benar, dan cepat serta tidak mengalami kesulitan ketika berada di jenjang sekolah yang lebih tinggi. Terlebih lagi ketika siswa memahami konsep dengan benar maka siswa akan merasa senang belajar matematika.

Siti Nur Baiti, S.Pd

SMA Negeri 1 Karanganom Klaten

Jawa Tengah.