JATENGPOS.CO.ID, PALANGKARAYA — KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf mendorong seluruh elemen Nahdlatul Ulama untuk kembali memperkuat persatuan, menjaga kebersamaan, dan mulai menghentikan konflik di internal PBNU yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Dorongan itu disampaikan Gus Yusuf dalam rangkaian silaturahim bersama jajaran PWNU Kalimantan Tengah, PWNU Kalimantan Selatan, serta tidak kurang dari 24 PCNU dari dua wilayah tersebut.
Pertemuan yang berlangsung berlangsung belum lama ini berjalan hangat. Itu menunjukkan kuatnya kerinduan pengurus NU di daerah terhadap suasana jam’iyyah yang rukun, teduh, dan bersatu.
Sebagian peserta bahkan harus menempuh perjalanan darat hingga 12 jam untuk dapat hadir langsung dalam forum tersebut.
Menurut Gus Yusuf, kehadiran para pengurus PWNU dan PCNU dari Kalimantan Tengah serta Kalimantan Selatan, dalam satu forum itu, menjadi pesan penting bahwa warga NU di daerah menginginkan NU kembali fokus pada khidmah, bukan terus-menerus disibukkan oleh ketegangan internal.
“Kalau pengurus di daerah saja rela berjalan jauh, menempuh waktu panjang, hanya untuk bersilaturahim dan menyatukan langkah, maka para elite NU juga harus memberi teladan yang sama. Kita harus mendengar suara warga NU yang ingin rukun, ingin guyub, dan ingin NU kembali fokus berkhidmah,” ujar Gus Yusuf.
Gus Yusuf menegaskan, NU adalah rumah besar para kiai, tuan guru, guru, santri, pengurus, dan warga nahdliyin. Karena itu, setiap perbedaan pandangan semestinya dikelola dengan adab, musyawarah, dan semangat menjaga jam’iyyah, bukan diperpanjang menjadi ketegangan yang melelahkan umat.
Dorongan untuk kembali menyatukan NU, juga sejalan dengan seruan yang disampaikan oleh Guru Wildan Rais Syurian PWNU Kalsel, Pimpinan Darussalam Tahfidz dan Ilmu Quran Martapura, Kalimantan Selatan.
Seruan yang mencerminkan kerinduan banyak pihak agar NU kembali teduh, solid, dan fokus pada pelayanan kepada umat.
Energi NU seharusnya tidak habis untuk konflik internal. Tantangan umat hari ini sangat besar, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi, kaderisasi, hingga penguatan pesantren dan pelayanan masyarakat. Semua itu membutuhkan NU yang rukun, kompak, dan bekerja bersama.
“Warga NU di bawah sangat rindu melihat para pengurus dan tokohnya bersatu. Mereka ingin NU hadir memberi solusi, bukan terus-menerus disibukkan oleh pertentangan yang tidak produktif,” tegasnya.
Seluruh pihak seharusnya dapat menahan diri, mengedepankan kepentingan jam’iyyah, serta membuka ruang komunikasi yang lebih arif dan dewasa. Menurutnya, kebesaran NU justru terletak pada kemampuannya merawat perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan. (rit)






