Pondok Boro Salatiga Mangkrak, Dewan Minta Dikaji Ulang

Pondok Boro di Ngawen yang dibangun dengan dana ratusan juta dibiarkan mangkrak dan rusak. FOTO:DEKAN BAWONO/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID. SALATIGA-  Sejumlah anggota DPRD Salatiga meminta kepada eksekutif untuk mengkaji ulang keberadaan pondok boro atau rumah singgah di Ngawen, Salatiga. Pasalnya, bangunan senilai ratusan juta yang sudah lama mangkrak ini kondisinya semakin memprihatinkan.

Wakil Ketua DPRD Salatiga M. Fathurrahman mengatakan, perlu kajian ulang yang mendalam dari berbagai pihak untuk memanfaatkan bangunan itu kembali. “Jangan sampai sekedar direnovasi namun  nanti tidak difungsikan lagi. Kalau direnovasi harus benar-benar bisa dimanfaatkan lagi,” ujar Faturrahman kepada  Jateng Pos, Senin ( 22/1) kemarin.

Menurut Maman sapaan akrab Faturrahman, banyak opsi untuk memanfaatkan kembali bangunan yang berada di pinggir jalan Salatiga-Kopeng tersebut. “Semisal untuk kuliner dengan sewa gratis, hanya ditarik retribusi saja, atau untuk menampung penjual tanaman,” imbuh politisi PKS ini.  Maman berharap pihak eksekutif segera mengkaji bangunan tersebut agar bisa digunakan kembali.

Sementara anggota Dewan lainnya, M. Miftah mengatakan, bangunan tersebut sudah tidak cocok bila dipakai untuk rumah singgah. Selain jauh dari kota, saat ini sarana transportasi juga sudah mudah didapat.

“Setiap rumah saya yakin sudah punya sepeda motor sendiri-sendiri, sehingga rumah singgah itu sudah tidak cocok. Dulu memang diperuntukkan untuk menginap sementara bagi pedagang atau buruh yang bekerja di Salatiga,” ujar politisi PKB ini.

Miftah menyarankan bila pondok boro tersebut direnovasi kembali, maka bisa dimanfaatkan untuk sentra ( grosir) sayur mayur, sehingga pedagang atau masyarakat yang ingin kulakan sayur tidak jauh-jauh ke Kopeng. “ Menurut saya nantinya bisa dipakai untuk penampungan sayur dari pedagang, terlebih bentuknya saat ini sudah  seperti kios-kios,” ujarnya.

Diketahui, di tahun 2010, pondok yang dibangun tahun 2005 silam itu sempat diperbaiki dan  difungsikan sebagai kios tanaman Anthurium, yang saat itu sedang booming. Namun, ternyata tak lama kemudian, pasar Anthurium anjlok dan bangunan itu tidak jadi dipakai untuk berjualan tanaman. Kemudian juga pernah dipakai untuk kios burung, namun juga tidak bertahan lama. Banyak pedagang yang pergi karena sepi.

Sementara dari pengamatan Jateng Pos, Senin (22/1) karena sudah  lama tidak difungsikan, sejumlah bangunan dan pintu rolling door banyak yang rusak. Kayu-kayu bangunan banyak yang lapuk dan eternit banyak yang jebol. (deb/muz)