Prodi D3 UPW UNS Dukung Kampung Wisata Baluwarti Kembangkan Welness Tourism

18
Demo pembuatan lulur dan jamu oleh Bu Ningsih, Warga kampung wisata Baluwarti, Solo. Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Berbagai inovasi terus dilakukan oleh pegiat wisata di kota Solo. Salah satunya berkolaborasi antara akademisi dengan pelaku wisata, baik itu pengelola wisata maupun tour travel.

Seperti yang dilakukan Kampung Wisata Baluwarti, berkolaborasi dengan Prodi D3 Usaha Perjalanan Wisata (UPW) UNS, Sekolah Vokasi UNS dan Soerakarta Walking Tour.

Septian, mahasiswa Prodi D3 UPW UNS mengatakan mulai Maret 2021 lalu, ia bersama mahasiswa lain melakukan kajian wisata di Kampung Baluwarti, dalam kegiatan pengabdian mahasiswa pada masyarakat.

“Kami mulai dari mengidentifikasi potensi wisata, merancang konsep wisata. Saat ini sedang pandemi jadi kesehatan adalah hal utama pada kondisi ini, jadi kami mulai konsep dengan tema wellness tourism yakni wisata berbasis kesehatan, kebugaran jasmani dan rohani”, terang Septian, Minggu (20/6/2021).

Nanang Wijayanto, dosen ketua tim pengabdian menambahkan, inovasi wisata harus mengkolaborasikan lima elemen, yakni warga sekitar, akademisi, pelaku bisnis atau komunitas, pemerintah dan media.

“Saat ini potensi wisata mulai bergeser dari aktivitas wisata bangunan atau alam, menjadi welness tourism. Dengan promosi mengarah pada media sosial. Peluang ini yang harus ditangkap dan dikembangkan.” imbuh Nanang.

Agenda wisata yang digelar di Kampung Wisata Baluwarti, diantaranya mengedukasi masyarakat, pelaku wisata, dan mahasiswa jurusan pariwisata UNS, untuk memahami potensi Welness Tourism.

“Kali ini kita ajak peserta untuk jalan mengelilingi dan mengetahui kisah setiap detail bangunan Keraton Surakarta. Lalu kita ajak melihat cara pembuatan jamu, lulur dan cara menggunakan kain tradisional,” kata Darmadi, pengelola Ndalem Projo Pangarsan, rumah Wedangan yang ada didalam komplek Keraton Surakarta.

Ningsih, pelaku usaha rumahan Lulur dan jamu mendukung penuh upaya pasar wisata welness tourism.

“Potensi produk kearifan lokal sangat besar di Solo, ada lulur, jamu dan lainnya, itu bisa jadi daya tarik wisatawan kalau digarap dengan baik, kami mendukung sekali,” ungkap Ningsih, yang ahli membuat jamu secara turun temurun dari neneknya.

Kota Solo memiliki banyak potensi wisata budaya dan kebugaran (kesehatan) yang belum muncul. Meski masih masa pandemi, diharapkan pelaku wisata tetap semangat. (Dea)