Rektor Undip: Seandainya Dana Pendidikan untuk Kampus Ditambah, Tidak Perlu Lagi SPI

Prof. Dr. Suharnomo, SE. M. Si. Foto:jan/jatengpos

JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Rektor Undip Semarang, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si, mengatakan, jika dunia kampus mendapat tambahan anggaran pendidikan yang cukup dari pemerintah, harusnya kampus tidak perlu menarik uang SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) kepada mahasiswa baru.

“Harusnya, jika anggaran pendidikan 20 persen APBN itu (Rp 660 trilliun.red) proporsi pembagianya seimbang, kampus tidak perlu SPI kok. Kita tidak menutup mata,” katanya saat podcast dengan JatengPosTV, (13 Juni 2024), di kampus Undip.

Menurut Rektor, dari laporan direktur monitoring dan penindakan KPK menyebutkan, selama ini hanya Rp 7 trilliun dana pemerintah (APBN 20 persen) yang masuk ke Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia. Sedangkan pada saat yang sama, Rp 34 trilliun masuk ke pendidikan kedinasan. Padahal jumlah mahasiswa sekolah kedinasan tidak banyak.

“Itu langit dan bumi loh, tapi yang kena tuduh selalu dunia kampus, yang katanya komersialisasi pendidikan dll. Itu tidak benar. Untung yang bilang KPK, kalau kampus yang ngomong pasti dirujak netizen, ” tambahnya.

Menurut rektor, selama ini biaya pemerintah per mahasiswa negeri alias BOPTN (Bantuan Operasional PTN) cuma Rp 3 juta. Sedangkan rata-rata biaya BKT (Biata Kuliah Tunggal) per mahasiswa Rp 10 juta.
“Ada selisih kurang Rp 7 juta. Lha itu darimana kalau tidak dari SPI, nah sedangkan kita tidak boleh menaikkan UKT (Uang Kuliah Tunggal) , pasti heboh lah, paling kita didemo tiap hari sama mahasiswa, tapi untung yang menjelaskan KPK, jadi masyarakat juga harus paham,”harapnya.

Tambah Rektor, ini bukan soal naik turun UKT. Tetapi soal efisiensi dan efektifitas penggunaan anggaran APBN 20 persen pendidikan. Yang tiap tahun angkanya sekitar Rp 660 trilliun untuk seluruh pendidikan dari TK hingga Perguruan tinggi.

“Sekaki lagi, seandainya kampus diberi anggaran dari Rp 7 trilliun menjadi Rp 20 trilliun saja, artinya BOPTN Undip itu kan cuma dapat Rp 100 milliar per tahun, geser jadi Rp 250 milliar, kita tidak perlu SPI, karena kita ini juga tidak rakus,” jelasnya lagi.

Meski per mahasiswa kurang Rp 7 juta, Undip tahun 2024 tetap tidak manikkan UKT dan SPI. Begitupun pada ajaran tahun 2025. Harapanya juga tidak akan naik.

“Do’akan saja tidak naik, dan ada sumber-sumber pendanaan baru dari hibah dan lainya untuk membangun lab yang maju dan lainya, tapi kalau tidak, ya bisa apa kita,” imbuhnya. (jan)