Ribuan Korban Banjir Kudus Mengungsi ke Gedung DPRD

GEDUNG DPRD JADI POSKO PENGUNGSIAN : Kondisi posko pengungsian di Aula Gedung DPRD Kabupaten Kudus, Minggu pagi kemarin. Foto:burhan/jatengpos

JATENGPOS. CI. ID, KUDUS-Bencana banjir yang melanda wilayah Kabupaten Kudus terpantau terus meluas. Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, Sabtu (16/3) pukul 22.00 WIB, tercatat ada 32 desa yang tersebar di lima kecamatan tergenang air.  Saking banyaknya sebagian pengungsi dievakuasi di gedung DPRD.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Kudus, Mundir mengatakan, banjir itu disebabkan adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur Kabupaten Kudus sejak Sabtu (10/3). Hujan tersebut menyebabkan debit air sungai meningkat, ditambah dari kiriman air dari hulu.

‘’Banjir tersebut menggenangi pemukiman warga, persawahan hingga akses jalan dengan ketinggian air sampai 70 sentimeter,’’ ungkap Mundir.

Dikatakan, warga Kudus yang terdampak banjir sampai Sabtu malam kemarin tercatat sebanyak 32.952 jiwa dari 9.987 Kartu Keluarga (KK). Dari jumlah itu, yang mengungsi di sejumlah posko pengungsian tercatat sebanyak 1.233 jiwa dari 379 KK.

Adapun posko pengungsian meliputi Balai Desa Jati Wetan, Gulang, Kedungdowo, Pasuruhan Kidul dan Banget. Kemudian di Gereja Tanjungkarang, TPQ Darussalam Jetis Kapuan dan Khuriyatul Fikri Pasuruhan Lor. Selain itu Gedung DPRD Kudus, PKK Jetis Kapuan, dua tempat ibadah dan sebagian rumah warga.

‘’Saat ini juga sudah tersedia dapur umum, dan untuk stok logistik kami pastikan cukup untuk dua hari,’’ jelas Mundir.

Kata Mundir, dalam laporan bencana banjir tahun ini, terdapat lima korban meninggal dunia akibat tenggelam di area persawahan yang tergenang banjir di wilayah Kecamatan Mejobo. Meliputi masing-masing satu korban di Desa Temulus dan Gulang, dan tiga korban di Desa Kirig.

‘’Selain itu ada dua laka air dalam bencana banjir tahun ini,’’ jelasnya.

Terkait desa yang tergenang, Mundir memaparkan, 32 desa yang tergenang banjir itu, di wilayah Kecamatan Kaliwungu terdiri Desa Setrokalangan, Kedungdowo, Banget, Blimbing Kidul, Gamong dan Garung Kidul. Kemudian di Kecamatan Mejobo, Desa Kesambi, Mejobo, Golantepus, Tengeles, Kirig, Temulus, Jojo, GUlang, Payaman, Hadiwarno dan Jepang.

Sedangkan di wilayah Kecamatan Jekulo, yakni Desa Pladen, Bulungcangkring, Bulung Kulon, Sadang dan Sidomulyo. Sementara di Kecamatan Jati, terdiri Desa Tanjungkarang, Jati Wetan, Jati Kulon, Jetis Kapuan, Pasuruhan Lor, dan Pasuruhan Kidul.

‘’Sedang Kecamatan Undaan, Desa Karangrowo, Ngemplak, Undaan Lord an Wates. Sampai saat ini air masih mengalami peningkatan, dan jumlah pengungsi terus bertambah. Disisi lain juga ada pengungsi dari Demak sekitar 300-an,’’ tandasnya.
Salah satu pengungsi, Parni (60) warga Desa Karangrowo mengaku terpaksa mengungsi karena di dalam rumahnya sudah tergenang banjir. Disisi lain, dia sendiri tinggal sebatang kara.

‘’Di dalam rumah saya airnya setinggi lutut orang dewasa, jadi barang-barang saya tumpuk-tumpuk. Saya tinggal sendiri, jadi rumahnya kosong,’’ ungkapnya. (han/rit)