Rindu Masa Lalu Terobati di Festival Kuliner Pasar Tiban

OBOR : Asisten Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu dan Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng Ema Rachmawati bersama-sama menyalakan obor menandai dibukanya Festival Kuliner Pasar Tiban di Museum Mandala Bhakti, Jumat (13/12) petang. Foto : Rita H /Jateng Pos

JATENGPPOS.CO.ID, SEMARANG – Rindu akan suasana masa lalu, menginspirasi Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Tengah untuk menggelar Festival Kuliner Pasar Tiban di halaman Museum Mandala Bhakti, Jumat (13/12) petang. Beragam makanan serta mainan tradisonal dipamerkan dan dijajakan. Jajanan masa lalu seperti tiwul, es cendol, sego pecel, es gempol, dan kuliner kaki lima disajikan.

Seluruh kuliner yang dijajakan pun menggunakan alas non plastik. Bahkan, stand bakso pun mempergunakan bathok (kulit kelapa) sehingga stand jajanan itu menyajikan “bakso bathok”.
Konsep acaranya yang unik dibuat seperti zaman dulu dengan kios kayu serta koin kerikil sebagai alat pembayaran. Seluruh pedagangnya mengenakan baju lurik.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Ema Rachmawati menjelaskan, acara yang digelar kali pertama ini sebagai bentuk pelestarian jajanan serta mainan tradisional. Selain itu juga upaya pemberdayaan pelaku usaha kecil, khususnya mereka penjual produk jadul yang selama ini kerap terlupakan.

“Selama ini kalau kita pameran itu kan UKMnya yang sudah bagus-bagus, tapi kita sering kali melupakan bahwa ternyata masih banyak di tempat-tempat lain orang berjualan seperti ini. Berjualan kecil-kecil sekali yang kadang orang tidak melirik bahkan mungkin mau kredit bisa atau tidak, melalui even ini kami ingin mengangkat kembali UKM yang kecil-kecil itu supaya naik,” imbuhnya.

Event ini diikuti oleh 22 stand makanan dan mainan tradisional serta 18 tenant Kartika Bistro. Dalam acara tersebut pihaknya juga membagikan 1.600 koin yang dapat ditukarkan dengan makanan dan minuman tradisional di semua stand kepada masyarakat, yatim piatu, dan kaum dhuafa.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah Peni Rahayu yang membuka acara tersebut berharap, kegiatan seperti serupa bisa dilakukan kembali dan menjadi acara tahunan seperti Pasar Wadai di Kalimantan Timur yang dibuka selama bulan puasa serta menjadi daya tarik wisatawan.

“Kami mimpi ingin punya pasar kuliner khas seperti Pasar Wadai di Kalimantan Timur yang menjajakan makanan selama bulan puasa,” imbuhnya.

Adapun upaya lain yang akan dilakukannya untuk pemberdayaan UKM tradisional adalah melalui pendampingan inovasi produk serta pembiayaan usaha. Sejauh ini 70 persen UMKM Jateng berasal dari sektor makanan.

Ema menambahkan, era digitalisasi sudah tidak bisa terhindarkan lagi, pergeseran budaya tradisional menjadi semua serba digital membuat masyarakat Jawa Tengah terutama generasi millenials sudah mulai melupakan semua hal yang bersifat tradisional, tidak terkecuali makanan.

Melalui Pasar Tiban tersebut, Ema berharap dapat menarik perhatian dari kalangan yang rindu suasana dan ragam jajanan masa lalu. Selain itu juga memperkenalkan jajanan masa silam kepada anak milenial.”Jajanan zaman dulu itu juga tidak kalah nikmat dan lebih menyehatkan,” tuturnya. (rit/bis)