Role Playing Tingkatkan Kemampuan Berbahasa

Anik Bariyanah.S.Pd.SD

   Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar sangat mengandalkan penggunaan metode yang aplikatif dan menarik sehingga dapat memikat siswa untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua setelah bahasa ibu. Apabila siswa sudah tertarik dengan pembelajaran maka akan dengan mudah meningkatkan prestasi siswa dalam bidang bahasa.Oleh sebab itu, sebagai guru harus berusaha melakukan perubahan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di dalam kelas untuk memberikan pelajaran yang bermakna.

Salah satu strategi yang dilakukandi Kelas VI SD Negeri 2 Wonotirto adalah dengan menggunakan metode role play dan metode STAD  dalam standart kompetensi berbicara dan membaca. Dalam pembelajaran menceritakan kegemaran, dilakukan dengan menggunakan metode role play sehingga menjadikan siswa lebih aktif. Metode role play memahami bahasa sebagai keterampilan berbicara secara langsung dengan berdasarkan kehidupan siswa dalam masyarakat. Metode role play sangat cocok diterapkan ketika melakukan pembelajaran berbicara dengan dibantu dengan kartu peran.

STAD merupakan metode yang menekankan kepada kerja sama kelompok untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dalam metode ini, siswa ditempatkan dalam tim belajar beranggotakan empat atau lima orang yang merupakan campuran menurut tingkat prestasi, jenis kelamin, dan suku. Guru menyajikan pelajaran, siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Saat belajar berkelompok, siswa saling membantu untuk menuntaskan materi yang dipelajari. Guru memantau dan mengelilingi tiap kelompok untuk melihat adanya kemungkinan siswa yang memerlukan bantuan guru. Metode ini pun dibantu oleh metode pelatihan, penugasan, dan tanya jawab sesuai satuan pelajaran sehingga ketuntasan materi dapat terwujud (Her World Indonesia edisi Maret 2005, hal 190 – 1). Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik.

Penerapan STAD pertama siswa dibagi dua kelompok dengan jumlah yang sama. Sebelumnya guru menyediakan kartu peran dua macam yang berbeda warna sebanyak jumlah siswa. Dalam kartu peran tersebut sudah diberi tanda atau tulisan siapa yang menjadi lawan bicaranya. Siswa yang lain mencari pasangan bicaranya. Setelah menemukan, siswa yang mencari tersebut berusaha untuk mengorek keterangan tentang kegemarannya dengan menggunakan pertanyaan yang sudah disediakan di kartu perannya, tetapi siswa yang diajak bicara diberitahu supaya jangan menjawab secara langsung kegemaran dirinya. Dengan kegiatan ini, siswa saling berusaha untuk mencari dan memainkan strategi untuk mengetahui kegemaran teman bicaranya. Kegiatan ini dilakukan secara bergantian. Setelah selesai melakukan kegiatan tersebut, pengajar memberikan pengarahan sekaligus bertanyajawab tentang kegiatan yang sudah dilakukan. Siswa yang dapat mengetahui kegemaran lawan bicaranya diberi penghargaan.

Dengan menerapkan model STAD dan Role Playing pembelajaran bersifat kooperatif, menyenangkan dan efektif. Model STAD merupakan metode yang menekankan kepada kerja sama kelompok untuk menyelesaikan sebuah masalah sedangkan Metode Role Playing merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan peserta didik terlibat dalam situasi masalah nyata sehingga terjadi pemahaman dan pandangan mengenai situasi nyata tersebut. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian. Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

 

Oleh : Anik Bariyanah.S.Pd.SD

Guru SD Negeri 2 Wonotirto

Kec. Bulu Kab. Temanggung