Wirakarya: Pengabdian Siswa SMA Pradita Dirgantara di Jantung Desa Kembangsari


JATENGPOS.CO.ID-Sebelum fajar menyingsing di SMA Pradita Dirgantara, keriuhan sudah pecah di koridor asrama. Ratusan siswa terlihat sibuk memastikan koper dan donasi sudah masuk ke dalam bus. Bukan untuk studi wisata, mereka bersiap untuk melaksanakan Wirakarya 2025, sebuah program pengabdian yang akan mengubah cara mereka memandang dunia.

Apa itu Wirakarya? Sering disebut sebagai “KKN-nya anak Pradita”, Wirakarya merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh siswa selama lima hari empat malam. Sebuah tradisi tahunan yang diinisiasi oleh SMA Pradita Dirgantara sejak tahun 2024.

Wirakarya kali ini digelar pada 13 Desember 2025, melibatkan 102 siswa kelas XII angkatan 6, yang biasa dikenal sebagai Vargashera. Lokasi pengabdian mereka adalah Desa Kembangsari, Kecamatan Musuk, Kabupaten Boyolali, sebuah desa di kawasan lereng Gunung Merapi dengan hampir 3000 jiwa penduduk. Visi para siswa adalah turut berkontribusi nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Guna menyentuh langsung akar permasalahan tersebut, mereka membangun kolaborasi bersama warga, karang taruna, serta tenaga kesehatan dari puskesmas setempat.

Persiapan Panjang Menuju Wirakarya


Persiapan Wirakarya sudah dimulai berbulan-bulan sebelum keberangkatan. Setiap siswa dibagi ke dalam divisi-divisi kerja: pendidikan, kesehatan, humas, logistik, konsumsi, dokumentasi, dan pengembangan masyarakat. Berbagai rapat koordinasi juga sudah dilakukan sejak september 2025 untuk memastikan seluruh program berjalan dengan baik. Tidak hanya menyusun konsep kegiatan, para siswa juga menggalang donasi dan menyiapkan kebutuhan teknis lainnya. Tumpukan buku bacaan, alat eksperimen sains, perlengkapan kesehatan, bibit tanaman, hingga bahan edukasi pertanian mulai memenuhi sudut-sudut ruang persiapan.

Baca juga:  SD Negeri bojong Salaman 02 Cetak Sekolah Berprestasi dan Peduli Lingkungan
Semarak Pembukaan Wirakarya 2025 di Pendopo Desa Kembangsari.
Foto: Dok SMA Pradita Dirgantara

Jejak Inspiratif Wirakarya. Datang jugalah saat-saat pengabdian itu. Derap semangat siswa berpacu dengan dinamika warga, yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani. Di desa ini, mereka ditempatkan secara berkelompok di rumah-rumah warga, belajar memahami dan menyelami kehidupan warga desa secara utuh. Mereka terjun langsung ke lapangan: belajar menanam bibit alpukat, memberi pakan ternak, bahkan budi daya mawar. Mereka menyaksikan bagaimana mawar dapat dimanfaatkan sedemikian rupa sebagai teh, keripik, dan motif batik yang khas. Hal tersebut selaras dengan amanat Bapak Ari Presmena Tarigan, Direktur Utama dan Pengembangan SMA Pradita Dirgantara, saat pembukaan Wirakarya, “Ketika kalian mendapatkan ilmu pengetahuan dari dunia luar, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan untuk kampung halaman kalian masing-masing.”

Mereka juga membangun ruang-ruang diskusi dengan warga dan tokoh masyarakat untuk menggali ide demi kemajuan desa. Salah satu gagasan yang paling menarik adalah penggunaan bawang putih dan tembakau sebagai pestisida organik untuk menangkal Gemini Virus, kutu, dan penyakit lainnya yang menyerang tanaman cabai. Di hadapan kelompok tani Dukuh Jonggol, para siswa memperagakan proses pembuatannya, mulai dari menggiling tembakau, mencampur ekstrak bawang putih, hingga meracik larutan yang siap digunakan.

Tidak hanya sektor pertanian, Vargashera juga bekerja sama dengan tenaga kesehatan mengadakan program cek kesehatan gratis, meliputi pemeriksaan tinggi dan berat badan, kesehatan telinga, hingga pengecekan gula darah. Kegiatan ini disambut antusias oleh warga, terutama kaum lansia.

Sebagai calon-calon ilmuwan muda, para siswa juga melakukan demonstrasi sains untuk menggugah minat murid-murid sekolah dasar tentang Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM). Dengan riang gembira, bersama siswa SDN 1 Kembangsari, mereka membuat Skyrocketed, suatu miniatur roket yang terbuat dari botol plastik bekas. Eksperimen ini bertujuan memperkenalkan konsep dasar fisika, khususnya hukum aksi-reaksi dan prinsip dorongan (thrust) dalam sistem roket sederhana.

Baca juga:  Purnawiyata dan Gelar Karya SD Negeri Purwoyoso 01 dengan Kewirausahaan dan Gaya Hidup Berkelanjutan

Tak lupa, Vargashera juga menghadirkan program “Pasar Ambyar” yang langsung menjadi magnet keramaian Desa Kembangsari. Berbeda dengan pasar konvensional, pasar ini dikemas lebih interaktif, memadukan belanja murah dengan berbagai permainan sederhana yang menyenangkan.

Juventus Agave, salah seorang siswa, mengaku dirinya banyak belajar dari kegiatan ini. “Warga desa sangat berdedikasi dalam melakukan pekerjaannya, contohnya bertani. Mereka tekun bangun pagi sejak subuh, datang ke ladang untuk membersihkan rumput, memanen bunga mawar atau cabai, lalu mencari rumput untuk pakan ternak. Setelahnya, masih ada kegiatan sampingan lainnya yang mereka lakukan.” Dia bertekad kelak akan menerapkan ilmu yang diperolehnya untuk membantu meningkatkan kesejahteraan petani.

Pengalaman tersebut menjadi gambaran nyata bahwa Wirakarya tidak hanya memperluas wawasan siswa, tetapi juga menumbuhkan empati dan pemahaman terhadap kehidupan masyarakat. Interaksi langsung dengan warga membuat para siswa belajar bahwa kerja keras dan ketekunan merupakan fondasi penting dalam membangun kesejahteraan. Program berkelanjutan ini akan terus berinovasi dan secara kontinu memberikan manfaat bagi masyarakat.  Melalui Wirakarya, sekolah membuktikan bahwa siswa SMA Pradita Dirgantara tidak hanya berprestasi, tetapi juga mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. SMA Pradita Dirgantara, terbang mendunia, membumi dalam pengabdian.

Penulis: Petra Budi Ainunnisa (Pemenang Creative News Challenge Phase 2)


TERKINI

Rekomendasi

...