28 C
Semarang
Sabtu, 31 Januari 2026

VIRGIN, Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi Edukasi Siswa-Siswi di Ungaran

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Di tengah derasnya arus informasi digital yang tak selalu ramah bagi remaja, sebuah ikhtiar kreatif lahir dari Kabupaten Semarang. Bertajuk “VIRGIN: Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi – Strategi Digital Kreatif untuk Memberdayakan Remaja Menuju Generasi Cerdas dan Sehat”.

Program pengabdian kepada masyarakat ini hadir bukan sekadar sebagai kegiatan edukatif, melainkan sebagai gerakan literasi yang beradaptasi dengan denyut zaman. Di ruang-ruang kelas SMA Negeri (SMAN) 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa, sebuah kegelisahan yang sama perlahan mengemuka.

Bukan soal nilai ujian atau disiplin belajar, melainkan persoalan yang lebih sunyi namun berdampak panjang: rendahnya pengetahuan dan keterampilan siswa tentang kesehatan reproduksi serta literasi digital yang aman dan bertanggung jawab.

Hasil diskusi awal dengan pihak sekolah membuka tabir realitas yang tak bisa diabaikan. Sebagian besar siswa mengandalkan media sosial dan obrolan dengan teman sebaya sebagai sumber utama informasi kesehatan reproduksi. Sayangnya, arus informasi tersebut sering kali tidak terverifikasi, bercampur mitos, bahkan menyesatkan.

Di sisi lain, para guru mengakui keterbatasan media pembelajaran yang inovatif untuk membahas isu-isu sensitif ini. Materi yang disampaikan secara konvensional kerap terasa kaku, kurang diminati, dan sulit menembus atensi generasi digital.

Kondisi ini bukan tanpa risiko. Ketika pengetahuan dibangun di atas informasi yang keliru, remaja menjadi lebih rentan terhadap perilaku berisiko, hoaks kesehatan, serta paparan konten negatif di dunia maya. Sekolah pun menyadari bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri.

Dibutuhkan dukungan nyata berupa program pengabdian masyarakat yang mampu menghadirkan media edukasi yang segar, relevan, dan berpihak pada cara belajar remaja masa kini.

Dari kebutuhan itulah tim dari Program Studi S1 Keperawatan Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran berinisiatif melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan Ketua Ns. Tina Mawardika., M.Kep., Sp.Kep.Mat, dan beranggotakan Ns Umi Aniroh., S.Kep., M.Kes, Ns. Puji Purwaningsih., M.Kep., Fiktina Vifri Ismiriyam., S.Psi., M.Si. Psi Putra Aditya, Tutik Yuliyanti dan Evagus Malinda yang bertajuk VIRGIN (Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi), yang hadir sebagai jawaban.

Program ini dirancang bukan sekadar untuk “memberi materi”, tetapi untuk mengubah cara remaja memahami dirinya, tubuhnya, dan dunia digital yang mengitarinya. Video animasi interaktif dipilih sebagai medium utama, sebuah jembatan antara pesan ilmiah dan bahasa visual yang akrab dengan keseharian siswa.

Baca juga:  Tiga Peziarah Tersesat di Gunung Ungaran, Begini Cerita Mistisnya

Tujuan VIRGIN dirumuskan dengan jelas dan terarah. Pertama, meningkatkan pengetahuan siswa SMAN 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa tentang kesehatan reproduksi remaja melalui video animasi yang menarik, mudah dipahami, serta sensitif terhadap konteks budaya. Materi tidak disajikan secara menggurui, melainkan melalui narasi yang dekat dengan realitas remaja.

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 8 Desember 2025 di SMAN 2 Ungaran yang dihadiri dari 35 siswa dan dilanjutkan pada tanggal 12 Desember di SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa  yang dihadiri oleh 40 siswa yang merupakan perwakilan dari sekolah. Dua institusi pendidikan dengan karakter berbeda, namun memiliki satu benang merah: kebutuhan akan media edukasi kesehatan reproduksi yang komunikatif, menarik, dan tidak menggurui.

Kedua, program ini berupaya membangun keterampilan literasi digital sehat. Siswa diajak belajar menyaring informasi, mengenali sumber tepercaya, dan bersikap kritis terhadap konten daring, khususnya yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Di era ketika satu klik bisa membawa pada informasi benar atau menyesatkan, kemampuan ini menjadi bekal penting bagi remaja.

Ketiga, VIRGIN hadir untuk mendukung guru dan pihak sekolah dengan menyediakan media pembelajaran inovatif yang dapat digunakan secara berkelanjutan baik dalam mata pelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian, program ini tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi meninggalkan jejak yang bisa terus dimanfaatkan.

Yang tak kalah penting, tujuan keempat VIRGIN adalah mendorong partisipasi aktif remaja. Siswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi dilibatkan sebagai co-creator dalam proses pembuatan maupun penyempurnaan konten edukasi digital. Pendekatan ini membuat materi terasa lebih relevan, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab.

Alih-alih mengandalkan metode ceramah konvensional, VIRGIN memilih jalur yang lebih dekat dengan dunia remaja video animasi digital. Visual bergerak, alur cerita yang ringan, bahasa yang membumi, serta ilustrasi yang kontekstual menjadi medium utama penyampaian pesan. Animasi tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga memudahkan pemahaman konsep yang selama ini dianggap tabu atau sulit dibicarakan.

Yang membuat VIRGIN melangkah lebih jauh adalah pendekatannya yang partisipatif. Remaja tidak diposisikan sebagai objek semata, melainkan sebagai co-creator. Mereka diajak terlibat dalam proses diskusi, penyusunan narasi, hingga refleksi terhadap materi yang disajikan. Hasilnya, konten yang lahir terasa lebih jujur, relevan, dan dekat dengan realitas keseharian mereka.

Baca juga:  Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang Restorasi Gerobak Penjual Pentol 
EDUKASI KESEHATAN REPRODUKSI: Kegiatan edukasi “VIRGIN: Video Animasi Inovatif tentang Kesehatan Reproduksi-Strategi Digital Kreatif untuk Memberdayakan Remaja Menuju Generasi Cerdas dan Sehat” di SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa oleh tim pengabdian masyarakat Program Studi S1 Keperawatan UNW Ungaran. FOTO:IST/JATENGPOS

Selama pelaksanaan, respon peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi. Video animasi menjadi pemantik diskusi yang hidup, membuka ruang tanya jawab yang selama ini terpendam. Remaja mulai berani mengungkapkan kebingungan, kekhawatiran, bahkan pengalaman yang sebelumnya sulit disuarakan. Di titik ini, edukasi tidak lagi satu arah, melainkan dialog yang membangun kesadaran.

Lebih dari sekadar peningkatan pengetahuan, VIRGIN dirancang untuk memperkuat literasi digital remaja. Pesan yang disampaikan tidak berhenti pada aspek biologis kesehatan reproduksi, tetapi juga menyentuh kemampuan memilah informasi, bersikap kritis terhadap konten daring, serta memahami risiko dan tanggung jawab dalam penggunaan media digital. Program ini juga diintegrasikan dengan layanan kesehatan remaja di sekolah dan puskesmas, memperkuat jembatan antara edukasi dan layanan nyata.

VIRGIN membuktikan bahwa edukasi kesehatan reproduksi tidak harus kaku, apalagi menakutkan. Dengan sentuhan kreativitas dan teknologi, pesan-pesan penting dapat “menari” di layar, masuk ke ruang pikir remaja dengan cara yang lebih ramah dan persuasif. Inilah strategi digital yang tidak hanya adaptif terhadap tren, tetapi juga berpijak pada nilai budaya dan regulasi nasional.

Ke depan, VIRGIN diproyeksikan sebagai model intervensi digital yang scalable. Potensinya untuk diperluas ke tingkat regional hingga nasional terbuka lebar melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan, dinas kesehatan, dan platform digital. Lebih dari itu, program ini memberikan kontribusi ilmiah penting dalam pengembangan edukasi kesehatan reproduksi berbasis bukti, sekaligus menjawab tantangan zaman dengan optimisme.

VIRGIN membuktikan bahwa ketika sekolah, akademisi, dan remaja berjalan beriringan, edukasi kesehatan reproduksi dapat disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi, menyenangkan, dan berdampak. Di SMAN 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa, animasi bukan sekadar gambar bergerak namun menjadi bahasa baru untuk membangun kesadaran, melindungi generasi muda, dan menyiapkan mereka tumbuh sebagai insan yang cerdas, sehat, dan berdaya di era digital

VIRGIN membuktikan bahwa ketika sekolah, akademisi, dan remaja berjalan beriringan, edukasi kesehatan reproduksi dapat disampaikan dengan cara yang lebih manusiawi, menyenangkan, dan berdampak. Di SMAN 2 Ungaran dan SMK Islam Sudirman 1 Ambarawa, animasi bukan sekadar gambar bergerak tetapi menjadi bahasa baru untuk membangun kesadaran, melindungi generasi muda, dan menyiapkan mereka tumbuh sebagai insan yang cerdas, sehat, dan berdaya di era digital. (tm/muz)



TERKINI

Rekomendasi

...