30 C
Semarang
Selasa, 13 Januari 2026

Tempe Produksi Primkopti Handayani Salatiga Siap Tembus Pasar Ekspor

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Primer Koperasi Produsen Tahu dan Tempe (Primkopti) Handayani Salatiga membidik peluang besar ekspor tempe. Kecenderungan penggemar tempe di luar negeri semakin meningkat khususnya para diaspora atau warga Indonesia yang tinggal di sana.

Anggota Forum Tempe Indonesia Muhammad Ridha mengatakan peluang ekspor tempe masih sangat terbuka lebar. Tren masyarakat luar negeri ingin beralih ke makanan vegan atau nabati meningkat seiring kesadaran masyarakat menerapkan pola hidup sehat. Peluang itu seharusnya bisa ditangkap dengan ekspor tempe.

“Tempe di luar negeri kini populer menjadi makanan yang sehat, kita tahu di luar negeri pola makan vegan sedang berkembang. Ini bisa kita manfaatkan menjadi peluang pemasaran tempe lebih luas,” ujarnya usai memberi pendampingan rencana ekspor tempe kepada pengurus Primkopti Salatiga di Pondok Dhahar Tumpang Koyor GSS Primkopti Jalan Pattimura di perbatasan Kabupaten Semarang-Salatiga.

Menurutnya, dari sisi produksi tempe dalam negeri sangat melimpah, tinggal mengembangkan produk sesuai dengan standar keamanan pangan Internasional. Pihanya yakin pasar tempe produksi Primkopti Handayani bisa diterima di luar negeri. Terlebih sudah ada beragam produk olahan dari bahan tempe dikelola anggota Primkopti.

Baca juga:  "UMKM Tangguh" Dongkrak Omset Gula Kacang "Parti" Salatiga

“Ekspor tempe sebenarnya bukan hal yang baru, beberapa teman-teman dari UMKM sudah melakukannya. Permintaan di luar negeri terus meningkat seperti di negara Jepang, Korea, Taiwan, dan Timur Tengah. Tidak menutup kemungkian Eropa dan Amerika yang banyak diaspora menjadi pasar portesial berikutnya,” jelasnya.

Produk tempe ekspor yang sudah berjalan tempe bulat yang dibekukan. Produk kemasan ini bisa bertahan sampai 1 tahun di penyimpanan beku. Selain itu bentuk olahan seperti keripik tempe, krengseng, dan cokelat tempe.

Turut hadir pada acara ini perwakilan erikat yang bekerja mempromosikan penggunaan kedelai AS (biji, bungkil, minyak) secara global, termasuk di Indonesia.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pemasaran tempe dari Primkopti Salatiga kepada Koperasi yang menyuplai untuk Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya dengan Koperasi Mitra Gizi Sehat yang diampu Suyana HP.

TEMPE OLAHAN: Ketua Primkopti Handayani Salatiga Sutrisno Supriantoro (kanan) menjelaskan kualitas produk tempe olahan produksinya kepada perwakilan Forum Tempe Indonesia dan USSEC. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Direktur US Soybean Eksport Counsil (USSEC) Ibnu Edy Wiyono, kelayakan ekspor tempe yang perlu diperhatikan harus mengacu pada standar keamanan pangan seperti standar HACCP dan ISO 22000 dan lainnya. Berdasarkan catatan BPS nilai market dari ekspor tempe di luar negeri mencapai 3,8 juta USD per tahun. Peluang meningkat semakin besar didukung komoditas bahan baku tempat sangat mudah didapat dengan harga terjangkau perajin.

Baca juga:  Ibu-Ibu Desa Randugunting Bergerak Berdayakan Bank Sampah

“Celah pasar tempe di luar kita sangat terbuka, menariknya kemampuan produksi perajian kita sangat mumpuni mememuhi pasar. Perajin bisa meningkatkan nilai tambah dari ekspor tempe, tidak sekedar menjual dengan harga murah agar cepat laku di pasar lokal. Kualitas produksi ditingkatkan memenuhi standar keamanan pangan Internasional, peluang menjual tempe dengan harga lebih mahal keluar negeri menjadi terbuka lebar,” jelasnya.

Ketua Primkopti Salatiga Sutrisno Supriantoro mengatakan, pihaknya siap melakukan ekspor karena telah berinovasi makanan tempe. Sejauh ini menurutnya, para perajin tempe di Salatiga sudah berinovadi 76 varian dari bahan baku tempe atau kedelai.

“Kedatangan US Soybean Eksport Counsil (USSEC) ke Primkopti Salatiga menjadi penyemangat kami untuk membuka peluang ekspor. Misalnya membantu ikut pameran di luar negeri. Kualitas tempe produksi kita juga sangat memenuhi standar pangan Internasional. Tinggal proses buka pasar ekspor,” ujarnya. (muz)


TERKINI

Rekomendasi

...