27 C
Semarang
Selasa, 17 Februari 2026

Tarhib Ramadhan LPIT Cahaya Ummat: Ibadah Puasa Dinilai Langsung Allah, Hilangkan Puja-puji

JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Tradisi tarhib sambut bulan ramadhan disiarkan di berbagai sekolah dan lembaga. Ramadhan sebagai bulan penuh berkah, kehadirannya selalu dinanti oleh seluruh umat Islam. Tradisi ini rutin digelar oleh Yayasan Sosial dan Dakwah (Yasoda) Nur Hidayah, Bergas, Kabupaten Semarang.

Ketua Bidang Sosial dan Humas Yayasan Sosial Dakwah Nur Hidayah, Musyarofah mengatakan Tarhib Ramadhan diadakan dalam rangka mengingatkan dan mengajak Keluarga Besar Yayasan Nur Hidayah dan LPIT (Lembaga Pendidikan Islam Terpadu) Cahaya Ummat menyambut bulan Ramadhan dengan penuh kelapangan hati dan bekal dalam memaknai bulan suci ini.

“Tarhib Ramadhan penuh kebersamaan. Sebelum itu telah diadakan pawai Taaruf Ramadhan diikuti siswa-siswi SDIT-SMPIT Cahaya Ummat Bergas. Agenda tahunan para siswa berpawai menyebarkan kegembiraan Ramadhan. Menciptakan suasana kultural yang positif penuh semangat menyambut bulan penuh berkah,” ujarnya kepada Jateng Pos, kemarin.

Tarhib Ramadhan diadakan pada Sabtu (14/2/2026) di Masjid Nurul Ummah kompleks SDIT Cahaya Ummat. Suasana terlihat meriah saat siswa-siswi menampilkan kesenian rebana. Irama terdengar rancak dan khidmat. Dilanjutkan sosialisasi program Ziswaf (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Wakaf) oleh tim IZI (Inisiatif Zakat Indonesia) Point.

Diikuti ratusan peserta diantaranya para wali murid dan guru LPIT Cahaya Ummat terdiri dari PAUD IT, SDIT dan SMPIT  Cahaya Ummat. Suasana khidmat terasakan saat menyimak tausiyah bertema ‘Kokohkan Iman dan Taqwa Hadirkan Bahagia bagi Sesama’ disampaikan Ustadzah Hardiani Julansari.

Baca juga:  Kegiatan Pokja Kampung KB Kalimas Waru

“Tarhib bermakna menyambut, menerima, atau meluaskan hati untuk memuliakan bulan puasa yang penuh berkah untuk kemaslahatan hati dan jiwa,” ujar ustadzah Hardiani.

Disampaikan, orang berpuasa tidak membutuhkan puja-puji dari orang lain, tidak ada yang perlu dibanggakan dari ibadah puasa. Bahkan Rasulullah memberi motivasi dalam dalilnya bahwa bau mulut orang berpuasa di hadapan Allah melebih bau minyak kasturi. Maksudnya, agar umatnya bersemangat untuk menjalaninya.

“Tidak ada yang bisa kita banggakan dari puasa kita. Sahur makan rendang sama orang makan sama tempe di sisi Allah tidak ada bedanya. Tidak ada yang bisa kita banggakan. Makanya Allah berfirman, puasa itu amal yang tidak bisa dicuri. Tidak bisa dipuja-puji oleh sudut pandang manusia. Fokus saja kepada puja-puji Allah SWT. Allah pun berfirman, As-Saum li wa ana ajzi. Puasa itu untukku dan aku yang akan menilainya secara langsung,” jelasnya.

Para wali murid dan guru LPIT Cahaya Ummat saat menyimak tausiyah Tarhib Ramadhan di masjid Nurul Ummah kompleks SDIT Cahaya Ummat Bergas, Kabupaten Semarang. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Karena itu, lanjut ustadzah Hardiani, Rasulullah setiap kali bertemu Ramadhan selalu pesan; Berhati-hatilah kalian karena banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaganya. Kenapa? Karena kebanyakan manusia melaksanakan puasa hanya berkonsentrasi pada apa yang membatalkan amal puasanya. Yaitu makan, minum, dan jimak.

Baca juga:  Janggel Jagung untuk Bahan Bakar Pengasapan Ikan Wonosari

“Sehingga kita gagal berkonsentrasi untuk memperhatikan apa yang membatalkan pahala puasa kita. Pada titik itulah kemudian Rasulullah bersabada, Shahrul Sabr; Ramadhan itu Bulan Kesabaran. Sabar untuk apa? Sabar untuk taat dalam kebaikan, dalam ketaatan, dalam amalan. Dan itu sudah menjadi potret yang tidak bisa dihindari,” tandasnya.

Tujuan pertama dari Ramadhan tidak lain untuk menghadirkan taqwa personal. Taqwa yang sifatnya dibangun dari pribadi masing-masing. Makna tagwa itu sendiri adalah kendali diri dan kehati-hatian. Maka puasa dan amaliah Ramadhan menuntut bagaimana bisa semakin tahun semakin bisa mengendalikan diri sesuai perintah Allah SWT dan Rosul-Nya.

“Itulah mengapa ini menjadi sangat luar biasa karena puasanya sendiri merupakan amalan sir (rahasia) atau amalan yang sangat intimate dalam pandangan Allah. Sampai dalam hadis qudsi Allah mengatakan as-saumli. Puasa itu untukku,” jelasnya.

Ditambahkan ustadzah Hardiani, bahwa kebenaran yang agung akan mendamaikan hidup, yang membuat diri merasakan tentram penuh kebaikan. Merupakan cerminan ketaqwaan personal dari komunal atau sosial, kesyukuran yang terlatih maka akan berada pada perjalanan yang ‘la’alahum yarsudun’ menjalaninya dengan benar.

“Menjadikan diri semakin lebih baik, lebih taat, lebih merasakan ketundukan hingga kita akan berakhir dalam keadaan husnul khatimah. Maka mudah-mudahan Ramadhan tahun ini akan lebih baik,” pungkasnya. (muz)



TERKINI

Rekomendasi

...