JKN BPJS Kesehatan Ungaran Tembus 98 Persen: 2,5 Juta Warga di Tiga Daerah Terlindungi Kesehatan


JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) terus menjangkau lebih banyak warga. Hingga pertengahan 2026, BPJS Kesehatan Cabang Ungaran mencatat cakupan kepesertaan di Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, dan Kota Salatiga sudah melampaui 98 persen.

Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ungaran, dr. Sri Mugirahayu, menyebut capaian itu menjadi modal kuat untuk memastikan 2,5 juta peserta di wilayah kerjanya mendapatkan layanan kesehatan yang layak.

Secara jumlah peserta, tiga daerah ini sudah masuk kategori tinggi. Namun soal keaktifan pembayaran iuran masih ada PR.

“Untuk cakupan peserta tiga wilayah Pemda ini sudah di atas 98%. Namun memang dari segi keaktifan masih ada kekurangan di Kabupaten Kendal. Kalau di Kabupaten Semarang dan Salatiga semua sudah di atas 80% sudah sesuai dengan target,” jelas dr. Sri dalam penyampaian acara media gathering di wisata Boemisora Desa Polobogo, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Kamis (6/8/2026).


Untuk Kabupaten Kendal, tingkat keaktifan saat ini masih di angka 70-an persen. Namun ada angin segar. Pemda Kendal sudah berkomitmen menambah sekitar 116.000 peserta baru mulai Oktober 2026 setelah menunggu anggaran perubahan.

“Kami sudah melakukan advokasi dan sosialisasi dengan badan usaha. Alhamdulillah Pemda bersedia menambah peserta,” ujarnya.

Strategi lain yang dilakukan adalah menggandeng CSR perusahaan besar. Contohnya RSUD Kendal yang berencana membayarkan iuran untuk 500 sampai 1.000 warga di sekitar rumah sakit.

“Kabupaten Semarang sudah sangat aman capaian sudah hampir 99%. Keaktifannya sudah lebih dari 80%. Jadi statusnya Universal Health Coverage (UHC) Prioritas. Di Kabupaten Semarang dan Salatiga aman,” tegasnya.

Untuk menopang 2,5 juta peserta, BPJS Kesehatan Cabang Ungaran menggandeng sekitar 22 rumah sakit dan lebih dari 100 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama atau FKTP. Sri memastikan pihaknya rutin melakukan supervisi ke rumah sakit dan puskesmas. Pengecekan meliputi sistem pendaftaran, waktu tunggu pasien ketemu dokter, antrean farmasi, hingga ketersediaan tempat tidur. Khusus pasien IGD, ia menegaskan rumah sakit tidak boleh menolak meski tempat tidur penuh.

Baca juga:  Bazar Produk UMKM dan Penyerahan Bantuan Sosial Di Kecamatan Karanganyar

“Untuk pasien dari IGD sudah ada SOP. Setelah kondisi kegawatdaruratannya ditangani, pasien dapat ditempatkan sementara di ruang transito sambil menunggu tempat tidur tersedia. Yang perlu terus diperbaiki adalah komunikasi kepada keluarga pasien agar memahami alur pelayanan yang sedang berlangsung,” jelasnya.

Dengan cakupan yang terus naik dan layanan yang terus dibenahi, BPJS Kesehatan Cabang Ungaran optimis target UHC di tiga daerh bisa terjaga. Tantangan berikutnya, memastikan setiap peserta tidak hanya terdaftar, tapi juga aktif dan mendapat pelayanan cepat saat dibutuhkan.

Terkait mitra, dr. Sri menyebut di Kabupaten Semarang tidak ada rumah sakit yang menolak kerja sama. Di Kendal masih ada satu di wilayah perbatasan yang belum bermitra dan ditargetkan menyusul. Sedangkan di Salatiga ada rumah sakit baru Hermina yang siap bergabung.

Komitmen layanan juga disampaikan Direktur At-Tin Hospital Bawen, dr. H. Faris Amrullah, MARS., FISQua., mengatakan pihaknya membangun sistem terintegrasi dari pendaftaran, admisi, poliklinik, hingga IGD.

“Kami sudah menyiapkan sistem mulai dari pendaftaran, admisi, pelayanan di poliklinik hingga IGD. Harapannya pasien tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan pelayanan. Salah satu yang terus kami benahi adalah memastikan dokter spesialis hadir tepat waktu sesuai jadwal praktik,” katanya.

Untuk menjaga kualitas, At-Tin Hospital sengaja menjaga Bed Occupancy Rate di kisaran 60 persen agar antrean tidak menumpuk.

BERKAT BPJS KESEHATAN: Arum Adiningsih warga Salatiga penyintas kanker payudara berobat sejak 2022 secara gratis hingga sembuh berkat BPJS Kesehatan. FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Dalam kesempatan ini juga menghadirkan peserta JKN yang telah mendapatkan manfaat luar biasa selama berobat kanker yang diidap. Arum Adiningsih (55) warga Salatiga, penyintas kanker payudara ini berobat sejak 2022, mengaku awalnya takut dan cemas saat divonis sakit.

Baca juga:  Sambut Harpelnas, Saloka Berikan Apresiasi Pelanggan dan Membership

Diceritakan, sejak divonis kanker payudara sempat membuat dunia Arum runtuh. Takut, cemas, dan khawatir soal biaya pengobatan menghantui. Bayangan biaya kemoterapi, operasi, dan obat-obatan yang besar membuatnya hampir putus asa.

Namun di tengah kondisi itu, Program JKN menjadi jangkar yang menenangkan. JKN mengubah semangat hidupnya kembali bangkit.

“Seluruh proses pengobatan saya ditanggung BPJS Kesehatan. Pelayanannya ramah, obat-obatan tersedia, dan prosedurnya mudah. Saya bisa lebih tenang dan fokus menjalani pengobatan,” tutur Arum.

Bagi penyintas kanker seperti Arum, ketenangan itu penting. Tanpa beban biaya, ia bisa mencurahkan energi untuk sembuh, bukan untuk memikirkan tagihan rumah sakit.

Menanggapi testimoni tersebut, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Ungaran dr. Sri Mugirahayu menyebut kisah Arum adalah cerminan tujuan utama JKN.

“Pengalaman Ibu Arum menjadi bukti nyata bahwa Program JKN tidak hanya memberikan perlindungan kesehatan, tetapi juga melindungi masyarakat dari risiko beban biaya pengobatan, khususnya untuk penyakit katastropik seperti kanker,” ujarnya.

Bagi dr. Sri, JKN harus hadir bukan hanya saat orang sehat butuh cek up. JKN harus jadi tameng ketika musibah datang tanpa diundang.

“Kami ingin masyarakat merasakan bahwa JKN hadir bukan hanya saat sehat, tetapi menjadi perlindungan ketika menghadapi kondisi yang tidak pernah diharapkan. Karena itu kami terus berupaya meningkatkan kualitas layanan bersama seluruh fasilitas kesehatan mitra agar peserta memperoleh pelayanan yang cepat, mudah, dan berkualitas,” pungkasnya.

Kisah Arum mengingatkan satu hal, bahwa sakit bisa datang kapan saja. Tapi dengan JKN, setidaknya beban itu tidak harus dipikul sendirian. (muz)


TERKINI


Rekomendasi

...