29 C
Semarang
Kamis, 29 Januari 2026

Pejabat Salatiga Peringati 10 Muharam di Makam Kyai Jangkung

JATENGPOS. CO. ID, SALATIGA- Penjabat Wali Kota Salatiga, Yasip Khasani, bersama Asisten II dan III Sekda Kota Salatiga, menghadiri Peringatan malam 10 Syuro di Makam Kyai Jangkung, di RW 04 Jangkungan Salatiga, Senin (15/07/2024) malam. Dalam kegiatan ini ceramah serta nasihat diberikan oleh KH. Hadi Zumroni, M.Pd., atau yang kerap disapa Gus Roni.

Dalam kesempatan itu, Yasip menekankan peran pemerintah untuk melestarikan serta menelusuri sejarah tentang Salatiga ini, terutama kaitannya dengan Kyai Jangkung yang pasti berperan juga di Kota Salatiga. “Padahal Kota Salatiga ini tercatat sudah berumur 1724 tahun, artinya ada 1100 tahun yang belum terungkap. Saya cari itu kok masih agak gelap gulita, maka jadi tugas pemerintah, harapan saya ini bisa diuri-uri,” kata Pj. Wali Kota Yasip Khasani.

Baca juga:  Perlu Strategi Pencegahan yang Menyeluruh Menyikapi Potensi Peningkatan Kasus Positif Covid-19

Yasip juga berpesan agar setiap jamaah yang hadir dapat melestarikan serta mengembangkan tradisi yang baik ini. “Saya mengajak pada panjenengan semua untuk terus melestarikan tradisi ini dan semoga ini juga menjadi salah satu sarana kita memupuk ukhuwah antara masyarakat jangkungan dan para peziarah,” ajaknya.

Sementara, belum ada catatan sejarah yang menjelaskan siapa sosok Kyai Jangkung ini. Namun dari cerita tutur yang beredar di masyarakat, Kyai Jangkung merupakan salah seorang pembesar dari Mataram yang sempat nyantri atau berguru di Banten, Jawa Barat. Dalam perjalan pulang ke Mataram, Kyai Jangkung yang ditemani istri dan beberapa pengikutnya beristirahat dan akhirnya pilih menetap di Salatiga sekaligus syiar agama Islam hingga akhir hayatnya. Kampung tempat peristirahatn terkahir Kyai Jangkung dan kerabatnya ini kini dinamakan kampung Jangkungan.
Menurut cerita tutur masyarakat, secara fisik Kyai Jangkung merupakan sosok ulama berperawakan tinggi besar, sehingga oleh masyarakat saat itu disebut jangkung ( tinggi besar).

Baca juga:  Semangat Srikandi Ganjar Semarang Bersihkan Lingkungan untuk Cegah Penyakit

Pada malam-malam tertentu, biasa malam Jumat Kliwon, makam di tengah perkampungan padat penduduk ini masih didatangi peziarah untuk ngalab berkah. Dan hingga kini makam keramat tersebut sengaja tidak diberi cungkup atau peneduh, karena konon pernah beberapakli diberi cungkup, namun tersebut tercabut dan roboh dengan sendirinya. (deb/jam)



TERKINI

Rekomendasi

...