25 C
Semarang
Sabtu, 7 Maret 2026

Komisi E DPRD Jateng Tekankan Peran Ortu-Guru agar Anak Bijak Bermedsos

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Anggota Komisi E DPRD Jawa Tengah, Muhammad Rizqi Iskandar Muda mengatakan dunia maya yang seharusnya menjadi jendela pengetahuan, kini berubah menjadi ancaman serius bagi perkembangan remaja di Jawa Tengah.

Menurutnya, kontrol dan pengawasan orang tua (ortu) sangat penting, karena media sosial (medsos) ini tidak bisa dihilangkan. Begitu juga peran edukasi di sekolah sangat berpengaruh bagi tumbuh-kembang pendidikan anak-anak.

“Kita butuh mekanisme pembatasan agar mental anak tetap terjaga. Kebiasaan mereka konsumsi konten pendek ini secara psikologis mengubah cara otak bekerja,” jelas dalam Dialog Parlemen DPRD Jawa Tengah “Menuju Indonesia Emas: Strategi Jawa Tengah Menghadapi Tantangan Media Sosial terhadap Tumbuh Kembang Anak” disiarkan Semarang TV dan USM TV, di Soeboer Kitchen Jalan Sriwijaya Semarang, Rabu (1/10/2025).

Anak-anak menjadi mudah terdistract dengar notif langsung cek, tidak bisa konsentrasi penuh pada satu kegiatan. Kecanduan ini adalah bukti bahwa media sosial adalah ‘ruangan’ yang sama sekali tidak bisa dibendung hanya bisa dibatasi.

Namun, temuan paling mengejutkan, lanjut Rizqi, terjadi di daerah Pemalang yang menjadi salah satu daerah pemilihannya. Rizqi menceritakan kasus seorang anak SMP yang terobsesi pada konten beauty care dan skincare di media sosial.

“Dia sangat terobsesi seakan harus mendapatkan skincare itu, ia merasa itu adalah sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Mohon maaf, ketika orang tuanya tidak mampu membelikan, anaknya justru melakukan tindakan kekerasan, bahkan ingin memukul ibunya sendiri,” ungkap Rizki.

Baca juga:  Peduli 'Wong Cilik', Ratusan Mahasantri Jateng Deklarasi Dukung Ganjar

Menurutnya, kasus ini menjadi alarm bahwa konten media sosial yang tidak terfilter telah menciptakan tuntutan yang tidak realistis pada anak-anak yang menerima pesannya. Mampu mengubah anak-anak menjadi agresif demi memenuhi standar semu.

“Di sini kehadiran orang tua adalah sosok terpenting dalam pengawasan. Begitu juga para guru di sekolah perlu mengedukasi cara penggunaan media sosial sesuai kebutuhan positif. Ini tidak bisa dihindari tapi juga tidak bisa dibiarkan begitu saja,” tandasnya.

Dialog Parlemen DPRD Jateng “Menuju Indonesia Emas: Strategi Jawa Tengah Menghadapi Tantangan Media Sosial terhadap Tumbuh Kembang Anak” disiarkan Semarang TV dan USM TV, saat jeda syuting, Rabu (1/10/2025). FOTO:MUIZ/JATENGPOS

Konselor Sebaya Pilar PKBI Jawa Tengah, Hapsari Oktaviana Hariaji, menanggapi dampak media sosial tidak berhenti pada masalah mental dan konsentrasi. Ia sepakat bahwa dampak negatif yang ditimbulkan seperti kejadian menimpa anak di Batang, sudah mencapai taraf membahayakan dan memerlukan atensi seluruh pihak.

Rei –panggilan akrabnya— mencatat peningkatan kasus Kekerasan Gender Berbasis Online (KBGO), seperti ancaman revenge porn (penyebaran foto/video asusila) yang dilakukan oleh mantan pacar kepada remaja di Jawa Tengah.

Ia yang mendampingi remaja usia 10-24 tahun melalui layanan Konseling Sumatambat PKBI, menyoroti fenomena “Generasi Reels”, yakni remaja yang menunjukkan perilaku dan pola pikir yang terpengaruh pada konten cepat.

Baca juga:  Sebar Undangan Perang Sarung di Medsos Puluhan Remaja Ditangkap 

“Mereka yang tadinya suka nonton film berjam-jam kini cepat bosan. Mereka hanya terpaku pada konten 10 hingga 15 detik. Ini menjadi konsen baru kami, karena kemampuan spend time untuk fokus menjadi lebih sedikit. Kami sering menangani remaja seperti ini yang sulit sekali konsentrasi,” ungkapnya.

Kepala Bidang Ketenagaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Nasikin dalam kesempatan ini menyampaikan, media sosial dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dengan melihat berbagai macam tutorial positif. Keberadaannya sebagai sebuah kepastian yang harus dimanfaatkan bersama.

“Kita agar tetap waspada ketika berselancar di dunia maya. Kehadiran internet tidak bisa dibendung atau ditolak. Yang bisa kita lakukan adalah membekali anak-anak kita dengan pengetahuan yang cukup dan tameng yang kuat, agar internet ini tidak ’melukai’ anak-anak kita. Tetapi internet justru menjadi ajang kreasi yang positif,” ujarnya.

Para pelajar juga dituntut memanfaatkan jaringan internet secara cerdas, kreatif, dan produktif (Cakap). Sehingga jaringan internet dapat berfungsi sebagai piranti untuk meningkatkan pengetahuan, memajukan pendidikan, dan memperluas kesempatan serta keberdayaan dalam meraih kualitas hidup yang lebih baik. (muz)



TERKINI

Rekomendasi

...