Oleh: Lintang Ayu Sekar Langit (Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia, 2025)
JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Setiap pagi, jutaan anak di Indonesia berangkat ke sekolah dengan tas penuh buku dan harapan. Orang tua berharap anaknya mendapat nilai bagus, guru berharap muridnya lulus ujian, dan negara berharap lahir generasi unggul. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput kita tanyakan: apakah pendidikan kita benar-benar sedang membentuk manusia, atau sekadar mencetak angka?
Tidak bisa dimungkiri, sistem pendidikan kita masih sangat akrab dengan angka. Nilai rapor, peringkat kelas, skor ujian, akreditasi sekolah—semuanya diukur secara kuantitatif. Angka menjadi tolok ukur utama keberhasilan. Seolah-olah kecerdasan, kemampuan, dan masa depan seseorang dapat diringkas dalam deretan nilai di selembar kertas.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak pernah sesederhana itu.
Sekolah yang Terlalu Sibuk Mengejar Target
Di banyak sekolah, proses belajar sering kali berubah menjadi perlombaan mengejar kurikulum. Guru dituntut menuntaskan materi, siswa dituntut memahami dalam waktu singkat, dan ujian menjadi tujuan akhir. Akibatnya, belajar bukan lagi proses memahami, melainkan menghafal. Bukan lagi proses bertanya, melainkan takut salah.
Kita sering menemukan siswa yang pandai mengerjakan soal, tetapi gagap saat diminta berpendapat. Ada yang lulus dengan nilai tinggi, tetapi bingung menghadapi masalah nyata. Ada pula yang pintar secara akademik, namun kesulitan bekerja sama, berempati, atau mengelola emosi.
Ini bukan sepenuhnya kesalahan siswa atau guru. Sistemlah yang sering kali menempatkan mereka dalam tekanan yang sama: harus cepat, harus tuntas, harus sesuai indikator.
Pendidikan dan Hilangnya Ruang Kemanusiaan
Ironisnya, di tempat yang seharusnya menumbuhkan kemanusiaan, justru ruang itu sering menyempit. Pendidikan karakter kerap menjadi slogan, bukan praktik. Kita berbicara tentang kejujuran, tetapi menormalisasi kecurangan demi nilai. Kita mengajarkan kerja keras, tetapi mengukur keberhasilan hanya dari hasil akhir, bukan proses.
Padahal, pendidikan sejatinya adalah ruang aman untuk tumbuh. Tempat seseorang boleh salah, belajar dari kegagalan, dan menemukan jati diri. Pendidikan bukan hanya soal “apa yang kamu tahu”, tetapi juga “siapa kamu ketika menghadapi masalah”.
Jika sekolah hanya fokus pada kognisi, maka kita kehilangan dimensi afeksi dan empati. Kita mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara sosial.
Ketimpangan yang Masih Nyata
Berbicara tentang pendidikan di Indonesia juga berarti berbicara tentang ketimpangan. Akses pendidikan berkualitas masih belum merata. Di kota besar, siswa terbiasa dengan teknologi, bimbingan belajar, dan fasilitas lengkap. Sementara di daerah lain, masih ada yang belajar dengan keterbatasan guru, sarana, bahkan listrik dan internet.
Ketika standar penilaian disamaratakan tanpa melihat konteks, pendidikan justru memperlebar jurang. Anak-anak yang sejak awal tertinggal dipaksa berlomba di lintasan yang tidak sama panjang. Ini membuat pendidikan kehilangan fungsi keadilannya.
Pendidikan seharusnya menjadi alat mobilitas sosial, bukan pengukuh ketimpangan.
Peran Guru yang Terlalu Berat
Di tengah sistem yang kompleks, guru sering menjadi pihak yang paling terbebani. Mereka tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menjadi administrator, pembimbing karakter, sekaligus penjamin capaian akademik. Sayangnya, peran besar ini tidak selalu diiringi dukungan yang memadai.
Guru yang ideal adalah mereka yang hadir sebagai pendidik, bukan sekadar penyampai materi. Namun, bagaimana mungkin hal itu terwujud jika waktu habis untuk laporan, target, dan administrasi? Ketika guru tidak diberi ruang untuk mendidik secara utuh, pendidikan pun kehilangan ruhnya.
Pendidikan sebagai Proses, Bukan Produk
Kita perlu mulai mengubah cara pandang: pendidikan bukan produk instan, melainkan proses panjang. Hasilnya tidak selalu terlihat cepat, dan tidak selalu bisa diukur dengan angka. Pendidikan yang baik mungkin tidak langsung menghasilkan nilai sempurna, tetapi melahirkan manusia yang tahan banting, berpikir kritis, dan peduli sesama.
Sekolah seharusnya menjadi tempat siswa belajar bertanya, bukan hanya menjawab. Tempat mereka diajak berdiskusi, bukan sekadar mendengar. Tempat mereka belajar hidup bersama perbedaan, bukan hanya bersaing.
Tanggung Jawab Kita Bersama
Pendidikan bukan hanya urusan sekolah atau pemerintah. Orang tua, masyarakat, dan kita semua memiliki peran. Ketika orang tua hanya menanyakan nilai, anak belajar bahwa angka lebih penting dari proses. Ketika masyarakat memuja gelar tanpa melihat integritas, pendidikan kehilangan arah moralnya.
Sudah saatnya kita bertanya ulang: apa tujuan kita mendidik? Jika jawabannya adalah membentuk manusia yang utuh—cerdas, berkarakter, dan berempati—maka sistem pendidikan harus bergerak ke arah itu.
Harapan yang Masih Ada
Pendidikan Indonesia tidak sepenuhnya gelap. Banyak guru yang tetap mengajar dengan hati, banyak sekolah yang berinovasi, dan banyak siswa yang berjuang di tengah keterbatasan. Harapan itu ada, tetapi membutuhkan keberanian untuk berubah.
Perubahan tidak selalu berarti mengganti kurikulum. Terkadang, perubahan dimulai dari cara kita memandang siswa: bukan sebagai angka, melainkan sebagai manusia yang sedang tumbuh.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang berhasil bukanlah yang menghasilkan nilai tertinggi, melainkan yang melahirkan manusia yang mampu memanusiakan manusia lain. (*/has/jan)






