Oleh: Tomy Widiyanto, S.Pd. (Guru Kelas V – SD N 1 Banyuurip Kabupaten Kendal)
JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Pembelajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (English as a Foreign Language/EFL) di sekolah dasar memerlukan pendekatan yang komprehensif dan sesuai dengan karakteristik perkembangan murid.
Pembelajaran tidak cukup berfokus pada penguasaan kosakata semata, tetapi harus mengembangkan keterampilan berbahasa secara terpadu yang meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Pada usia sekolah dasar, murid membutuhkan pengalaman belajar yang konkret, kontekstual, dan bermakna agar bahasa dapat dipahami dan digunakan secara fungsional. Salah satu materi yang memiliki potensi besar untuk tujuan tersebut adalah Parts of the Body, karena dekat dengan kehidupan sehari-hari murid serta mudah diintegrasikan dengan aktivitas fisik (Thornbury, 2006).
Namun, dalam praktik pembelajaran, materi Parts of the Body masih sering disampaikan melalui pendekatan konvensional yang menekankan hafalan kosakata tanpa keterkaitan dengan penggunaan bahasa secara nyata. Pendekatan ini berpotensi menurunkan keterlibatan aktif murid dan menghambat terbentuknya pemahaman mendalam.
Tantangan lain muncul dari kondisi pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar yang sebagian besar dilaksanakan oleh guru kelas dengan latar belakang dan kompetensi Bahasa Inggris yang beragam. Situasi ini menjadi semakin relevan seiring dengan kebijakan wajib Bahasa Inggris yang direncanakan mulai diberlakukan pada tahun 2027, yang menuntut kesiapan pedagogis dan kebahasaan guru (Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025). Keterbatasan sarana dan prasarana pembelajaran, khususnya media audio-visual dan bahan ajar interaktif, turut memengaruhi kualitas pembelajaran.
Lingkungan bahasa murid yang kurang mendukung, baik di sekolah maupun di rumah, serta rendahnya motivasi belajar dan dukungan keluarga, menyebabkan Bahasa Inggris masih dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang sulit dan menakutkan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi strategi dan model pembelajaran yang adaptif, menyenangkan, dan berorientasi pada keterlibatan aktif murid.
Sejalan dengan tuntutan pembelajaran abad ke-21, pendekatan deep learning menjadi relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Pendekatan ini menekankan pemahaman bermakna, keterkaitan antara pengetahuan dan pengalaman nyata, serta refleksi berkelanjutan. Salah satu strategi yang mendukung prinsip tersebut adalah movement-based learning, di mana aktivitas fisik digunakan sebagai sarana untuk memperkuat pemahaman bahasa. Melalui gerakan, murid tidak hanya mendengar dan menghafal kosakata, tetapi juga mengaitkannya dengan pengalaman langsung.
Model pembelajaran H.E.A.D to T.O.E (Hear, Express, Act, Describe – Touch, Observe, Explain) dirancang untuk mengintegrasikan prinsip deep learning dan pembelajaran berbasis gerak secara sistematis. Tahap H.E.A.D berfokus pada pengenalan dan produksi awal bahasa melalui aktivitas mendengar, menirukan, melakukan gerakan, dan mendeskripsikan secara sederhana. Tahap T.O.E diarahkan pada pendalaman makna melalui eksplorasi sensorik, pengamatan, serta penjelasan verbal mengenai fungsi bagian tubuh dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pembelajaran tidak hanya diarahkan pada penguasaan kosakata, tetapi juga pada kemampuan murid menggunakan Bahasa Inggris secara kontekstual. Secara khusus, pembelajaran menekankan capaian Writing–Representing, yaitu kemampuan murid menuliskan dan menyajikan informasi sederhana melalui teks singkat, gambar berlabel, atau representasi visual.
Murid dilatih mendeskripsikan bagian tubuh dan menjelaskan fungsinya menggunakan Bahasa Inggris dasar yang komunikatif dan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif mereka. Pada pelaksanaan pembelajaran, guru menggunakan media gambar, flash cards, dan permainan Body Parts Game untuk meningkatkan keterlibatan murid. Murid mendengarkan kosakata, menirukan pengucapan, menyentuh bagian tubuh sesuai instruksi, serta menjelaskan fungsi bagian tubuh secara lisan. Aktivitas permainan mendorong murid untuk belajar secara kolaboratif, aktif, dan menyenangkan. Sebagai penguatan, murid mengerjakan lembar kerja yang menuntut mereka menuliskan fungsi bagian tubuh dalam Bahasa Inggris sederhana.
Hasil pelaksanaan pembelajaran menunjukkan peningkatan pada aspek pemahaman, penerapan, dan refleksi. Murid tidak hanya mampu menghafal kosakata, tetapi juga memahami makna dan fungsi bagian tubuh serta menggunakannya dalam konteks komunikasi sederhana. Selain itu, kepercayaan diri murid dalam berbicara Bahasa Inggris meningkat secara signifikan.
Ditinjau dari prinsip deep learning, model H.E.A.D to T.O.E terbukti selaras karena menekankan pemahaman bermakna, keterlibatan aktif, dan refleksi berkelanjutan. Model ini efektif diterapkan pada pembelajar pemula dan dapat menjadi alternatif strategi pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah dasar secara berkelanjutan. (*)




