JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar aksi solidaritas di Lapangan Gedung Induk Siti Walidah, Senin (1/9), untuk menyikapi kondisi sosial politik Indonesia yang memanas. Aksi ini menjadi wadah bagi mahasiswa dan pimpinan universitas untuk bersama-sama menyuarakan kepedulian terhadap situasi nasional.
Presiden Mahasiswa UMS, Muhammad Naufal Fajar, mengungkapkan keprihatinannya atas tindakan represif aparat terhadap mahasiswa di berbagai daerah. “Mereka sangat takut dengan gerakan-gerakan yang kita buat, padahal gerakan-gerakan kita adalah gerakan rasa sayang dan rasa cinta kita terhadap negara ini,” kata Naufal.
Merespons masukan dari mahasiswa, Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, mengapresiasi orasi yang disampaikan.
Rektor menyampaikan lima poin pernyataan sikap dan seruan moral atas nama sivitas akademika UMS. Yakni Keprihatinan dan Duka Cita, kedua, seruan untuk Pemimpin: Menyerukan kepada seluruh pemimpin, penegak hukum, dan pengambil kebijakan agar bersikap bijak, berempati, dan santun dalam melayani masyarakat.
Ketiga, tuntutan keteladanan dengan meminta para pemimpin untuk memberikan keteladanan dalam menyelesaikan masalah secara bijak, tegas, dan adil. Keempat, imbauan kepada mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dengan mengedepankan nilai akademik, etika, dan moral, serta menghindari kekerasan. Kelima, jaga persatuan dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjaga persatuan, kesatuan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Adapun enam tuntutan mahasiswa untuk perubahan, dibacakan perwakilan mahasiswa, Teguh Jairyanur Akbar, dengan enam poin tuntutan mahasiswa yang didengarkan oleh rektor dan jajaran pimpinan universitas. Tuntutan tersebut meliputi, Mendesak aparat keamanan tidak menggunakan kekerasan berlebihan.
Meminta aparat keamanan bertanggung jawab atas kekerasan yang terjadi. Mendesak pemerintah meninjau ulang kebijakan yang merugikan rakyat. Menuntut pemerintah menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Mengecam dan menolak pembungkaman kebebasan berpendapat. Menjaga integritas UMS dari kepentingan politik dan militerisasi.
Melalui aksi ini, UMS menunjukkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan untuk berperan aktif dalam menjaga demokrasi dan mendorong perubahan yang positif di Indonesia. (dea/rit)






