25 C
Semarang
Rabu, 14 Januari 2026

Kejari Progresif Cetak Generasi Emas Anti Korupsi

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Kejaksaan Negeri (Kejari) Sukoharjo mengambil langkah progresif dalam upaya pencegahan korupsi dengan menyasar langsung para pemimpin muda.

Melalui sebuah acara yang menginspirasi, Kejari berupaya menanamkan sikap antikorupsi sambil membuka wawasan kewirausahaan sebagai solusi jangka panjang ketahanan mental dan ekonomi.

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Sukoharjo, Dr. Titin Herawati Utara, menyampaikan bahwa selain penindakan, tugas pokok Kejaksaan juga mencakup pencegahan.

“Salah satu yang paling kami rasa efektif itu adalah sasarannya anak muda,” ujar Kajari dalam Diskusi publik yang digelar di Menara Wijaya Sukoharjo, Jumat (26/09).

Sasaran yang dihadirkan pun bukan anak muda biasa, melainkan perwakilan terpilih dari senat mahasiswa, BEM, OSIS, dan karang taruna. Harapannya, mereka menjadi agen perubahan yang memiliki sikap antikorupsi di lingkungannya.

“Kami hadirkan contoh-contoh sukses anak muda di lingkungan Sukoharjo dan Surakarta yang bisa mereka lihat sukses melalui jalannya masing-masing,” tambahnya.

Diskusi tersebut mengundang nara sumber Prof DR Pujiyono Suwadi Ketua Komisi Kejaksaan RI, Dr. Zulkifli Gayo, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah Jawa Tengah, serta Luki Adhi Sulaksono, CEO Dua Naga Corporation dan Machmud Lutfi Huzain, pengusaha muda pemenang Diplomat Challenge sekaligus anggota DPRD Sukoharjo.

Baca juga:  Mobdin Pimpinan Dewan Dinilai Sudah Tak Layak

Diskusi ini sejalan dengan temuan dari Dr. Zulkifli Gayo, Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah Jawa Tengah. Ia menyoroti 80 persen anak muda di Jawa Tengah ragu mengembangkan potensi setelah kuliah, serta tantangan “generasi memble” yang tidak kuat dengan tekanan.

“Banyaknya PHK atau jobless itu bukan karena kasus perusahaan, tapi karena etos kerja yang rendah dan tidak kuat dengan tekanan,” tegas Zulkifli Gayo.

Padahal, Jawa Tengah memiliki potensi besar dengan Generasi Z mencapai 26 persen atau 9,2 juta jiwa. Sayangnya, 20,3 persen anak muda berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training). Tantangannya kompleks, mulai dari sistem konvensional, mental non-resiliensi, hingga kesenjangan akses digital.

Baca juga:  Ini Pesan Muhammadiyah, Kodim, dan Polres Karanganyar saat Bertemu Wartawan

Menawarkan solusi nyata, Luki Adhi Sulaksono, CEO Dua Naga Corporation (yang menaungi 20 perusahaan), menekankan bahwa kewirausahaan adalah kunci untuk membangun mental baja yang sekaligus anti korupsi.

Menurutnya, yang harus dilatih anak muda adalah mental yang tidak pernah patah semangat dan keyakinan pada usaha. Ia menjabarkan lima poin penting dalam berusaha: Niat, Doa, Keyakinan, Usaha, dan Kesabaran.

“Saya mengajarkan untuk mental harus kuat dan 5 poin tadi kita tentang keyakinan dalam agama kita masing-masing, Insyaallah pasti ada untuk mempercepat hajat-hajat kita,” ujar Luki.

Senada dengan itu, Machmud Lutfi Huzain, pengusaha muda pemenang Diplomat Challenge sekaligus anggota DPRD Sukoharjo, menekankan pentingnya percaya diri dan jiwa entrepreneur.

“Itu nanti sangat penting untuk bisa membantu pemerintah dalam membuka lapangan kerja,” katanya. Selain itu, kemapanan ekonomi pribadi melalui wirausaha akan membentuk pola pikir yang independen dan berintegritas, bahkan saat kelak terjun ke dunia politik. (dea/rit)

 


TERKINI

Rekomendasi

...