24 C
Semarang
Kamis, 15 Januari 2026

Digital Detox: Strategi Remaja Perbaiki Kualitas Hubungan Sosial

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Sebuah fenomena menarik tertangkap di dalam gerbong kereta api rute Yogyakarta-Surakarta baru-baru ini. Barisan remaja yang duduk berhadapan tampak asyik dengan gawai masing-masing tanpa ada tegur sapa sedikit pun.

Kehadiran fisik mereka tidak dibarengi dengan kehadiran emosional, sebuah potret nyata bagaimana ruang digital mulai menggeser pola relasi sosial dari interaksi langsung menuju interaksi virtual.

Kondisi ini menjadi perhatian bagi Sri Winanti, S.Psi., Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Menurutnya, meski teknologi memudahkan komunikasi, penggunaan yang berlebihan justru menurunkan kedalaman hubungan sosial dan melemahkan komunikasi dalam keluarga.

Sebagai respons, ia menawarkan konsep digital detox yang ditinjau dari perspektif self-regulation (regulasi diri).

Peran Regulasi Diri dalam Detoks Digital

Sri Winanti menjelaskan bahwa digital detox bukan sekadar membatasi waktu layar, melainkan sebuah upaya sadar untuk memulihkan keseimbangan hidup. Berdasarkan penelitian Medina dan Mesra (2024), kemampuan remaja melakukan detoks digital mencerminkan kapasitas self-monitoring dan self-control yang merupakan komponen utama regulasi diri.

Baca juga:  Dinkes Sebarkan Informasi Pencabutan Ijin Edar 69 Obat Sirop

Merujuk pada pandangan Zimmerman (2000), regulasi diri melibatkan penetapan tujuan (goal setting) dan refleksi diri. “Remaja yang mampu merefleksikan dampak negatif gawai cenderung lebih sadar akan pentingnya social presence (kehadiran sosial) dan kualitas relasi interpersonal,” papar Sri Winanti dalam tulisannya.

Hal ini diperkuat oleh penelitian Coyne dan Woodruff (2023) serta konsep ego strength dari Baumeister dan Vohs (2007). Pembatasan media sosial berfungsi sebagai mekanisme pengendalian impuls (impulse control) agar energi emosional dapat dialokasikan kembali pada interaksi sosial langsung yang lebih suportif.

Strategi dan Dukungan Komprehensif

Sri Winanti menyimpulkan bahwa keberhasilan detoks digital sangat bergantung pada kemampuan remaja mengontrol perilaku dan mengelola impuls. Untuk mencapai efektivitas tersebut, ia menekankan perlunya dukungan komprehensif dari berbagai pihak:

  • Sekolah: Perlu mengintegrasikan literasi digital dan penguatan regulasi diri ke dalam kurikulum pembelajaran serta layanan bimbingan konseling.
  • Orang Tua: Berperan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung, seperti membuat kesepakatan penggunaan gawai dan menjadi teladan bagi anak.
  • Remaja: Didorong untuk memiliki tanggung jawab personal, melakukan pemantauan mandiri, serta aktif dalam kegiatan fisik dan kreatif yang memperkuat hubungan antarmanusia.
  • Pembuat Kebijakan: Mendukung pengembangan program intervensi berbasis komunitas yang berorientasi pada kesejahteraan sosial remaja di era digital.
Baca juga:  Pertemuan PKS dan PDIP Karanganyar, Hasilkan Persahabatan Politik

“Digital detox yang didukung kemampuan self-regulation yang kuat adalah solusi strategis. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan digital, tetapi juga mendorong terbentuknya relasi sosial yang lebih sehat, bermakna, dan berkelanjutan,” pungkasnya. (Dea/bis)


TERKINI

Ahmad Luthfi: Titip Jabatan Saya Coret!

Rekomendasi

...