29 C
Semarang
Minggu, 25 Januari 2026

Istri KGPH Tedjowulan Awali Rangkaian Nyadran di Laweyan

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Memasuki bulan Ruwah dalam kalender Jawa atau Sya’ban 1447 Hijriyah, Keluarga Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat memulai tradisi religi tahunan, Sadranan. Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Mas, istri dari KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, mengawali rangkaian ziarah luhur ini pada Jumat (23/1).

Kegiatan ziarah diawali di Makam Ki Ageng Henis yang berlokasi di Pasarean Laweyan, Solo. Lokasi ini memiliki nilai historis tinggi sebagai salah satu punjer cikal bakal Dinasti Mataram Islam.

Rangkaian Nyadran GKR Mas kali ini tidak hanya berpusat di Solo, namun juga merambah ke berbagai titik sakral di Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Timur.

Jalur ziarah dijadwalkan menuju Jawa Timur: Makam Bathara Katong di Ponorogo. DIY: Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede serta Pajimatan Imogiri di Bantul. Jawa Tengah: Makam Ki Ageng Selo dan Ki Ageng Getas Pendowo (Grobogan), Makam Sunan Kalijaga (Demak), hingga Makam Susuhunan Amangkurat Agung di Tegalarum (Tegal).

Baca juga:  Jam Operasional Bandara Adi Soemarmo Dikurangi Antisipasi Kedatangan Pemudik

“Bulan Ruwah adalah waktu istimewa untuk mendoakan arwah leluhur. Di Keraton Surakarta, tradisi ini dilakukan secara kolektif maupun pribadi,” terang Kangjeng Pakoenegoro.

Sebagai pembuka rangkaian, telah digelar Wilujengan Ruwahan pada Kamis (22/1). Upacara ini sarat akan simbolisme, salah satunya melalui sajian Apem. Berasal dari kata Afwan (bahasa Arab: maaf), kudapan ini melambangkan permohonan ampun kepada Tuhan serta sikap saling memaafkan antarmanusia.

Ubarampe atau perlengkapan wilujengan yang disiapkan oleh KMA Wahyu Pusputa Ratri ini juga meliputi ketan, kolak, sirih (ganten ses), rokok, kopi dan teh pahit, serta bunga lima rupa.

Lebih dari sekadar ritual, momentum Sadranan Tahun Dal 1959 ini juga membawa harapan besar bagi internal Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Kangjeng Pakoenegoro menegaskan bahwa Nyadran adalah ajang mengingat jasa besar para pendahulu.

Baca juga:  241 Kilometer Jalan di Klaten Rusak

“Keadaan di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat semoga segera pulih, rukun, akur, kompak, dan melanjutkan revitalisasi,” harap Pakoenegoro.

Melalui tradisi nyadran, nilai-nilai luhur Dinasti Mataram Islam diharapkan tetap lestari dan menjadi perekat silaturahmi bagi para ahli waris serta masyarakat luas. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...