JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN – Ribuan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sragen menghadiri peringatan 1 Abad NU bertema Meneguhkan Jam’iyah, Merawat tradisi dalam 1000 Tumpeng di GOR Diponegoro Sragen, Sabtu (31/1).
Sejumlah tokoh menghadiri acara tersebut, di antaranya Bupati Sragen Sigit Pamungkas, Wakil Bupati Sragen Suroto, Ketua DPRD Sragen Suparno, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sragen K.H. Ali Rosyidhi, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sragen K.H. Minanul Aziz, serta para ulama dan tokoh masyarakat. Acara semakin meriah dengan lantunan sholawat Ashigil dan Atraksi Banser yang dipimpin langsung oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen, KH. Sriyanto.
Dalam sambutannya, KH. Sriyanto menjelaskan, peringatan Harlah NU bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum konsolidasi organisasi untuk menyatukan seluruh elemen NU dari tingkat paling bawah hingga pusat.
“Peringatan Harlah NU di Sragen ini menunjukkan kebersamaan dan kekompakan NU. Saya terharu, karena informasinya, kendaraan antre hingga wilayah Beloran. Sekitar 14 ribu peserta hadir. Kita berada pada titik kekompakan tertinggi untuk meneguhkan dan merawat tradisi,” ujarnya.
Sriyanto menyebutkan dalam peringatan satu abad NU tersebut disiapkan 1.000 tumpeng, bahkan jumlah riilnya mencapai 1.134 tumpeng. Menurutnya, tumpeng merupakan simbol rasa syukur sekaligus kebersamaan.
“Tumpeng mengandung nilai bahwa kekuatan NU lahir dari banyak tangan yang menopang, merawat tradisi, dan menjaga kebersamaan tanpa meniadakan perbedaan,” jelasnya.
Menurut KH. Sriyanto, ke depan PCNU Sragen dihadapkan dua tantangan besar yakni internal dan eksternal. Secara internal, penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang, mulai dari tingkat cabang (PCNU), kecamatan (MWCNU), hingga desa (Ranting) menjadi harga mati sesuai amanah PBNU.
Di sektor eksternal, gebrakan paling konkret adalah peluncuran NU Mart. Sebuah proyek minimarket yang menjadi embrio kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.
“NU Mart adalah wujud kemandirian kita. Kalkulasi kebutuhannya mencapai Rp 3 miliar, dan saat ini sudah terkumpul Rp 2,83 miliar,” ungkapnya.
Modalnya dibangun melalui sistem saham. Satu lembar saham dihargai Rp 250 ribu, yang diserap oleh warga NU dari tingkat desa hingga kabupaten. Pihaknya memilih lokasi di kawasan Atrium dengan status sewa, selain menjual produk pabrikan, pihaknya juga mematok kuota 30 persen rak untuk produk UMKM milik warga lokal.
“Kami sudah mendata produk UMKM warga. Jadi, itu nanti jadi pusat ekonomi yang lengkap. Mari, seluruh warga NU kalau ke Sragen jangan lupa belanja ke NU Mart,” imbuh Sriyanto.
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas, dalam sambutannya di Peringatan Seabad NU tersebut mengapresiasi setinggi-tingginya pengabdian warga NU. Sebuah usia yang tak panjang secara waktu tapi sarat perjuangan.
“NU ini usianya lebih tua dari Bangsa. Sudah memberilan saham penting untuk negeri dan turut mendirikan bangsa ini. NU merupakan mitra strategis Pemerintah, untuk membentuk masyarakat yang religius rukun dan berdaya saing. Di Sragen, masih banyak persoalan, soal pengentasan kemiskinan, jalan rusak, dan penerangan, kami berkomitmen menyelesaikan itu. Mohon dibantu,” terang Bupati Sigit Pamungkas.
Turut Hadir dalam acara tersebut, Ketua Korps Alumni PMII Putri (Kopri), Luluk Nur Hamidah, menyampaikan bahwa NU telah membuktikan diri sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia.
“Harapan saya NU tak hanya besar dari sisi jumlah tapi sumber daya manusianya unggul, sumber daya ekonominya kuat, dan sumber daya politiknya diperhitungkan,” tandasnya. (yas/rit)



