26 C
Semarang
Kamis, 12 Februari 2026

Tekan Impor, Polres Sukoharjo dan Investor Spanyol Tanam Padi Jepang

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Langkah besar dalam mendukung kedaulatan pangan dilakukan di Kabupaten Sukoharjo. Polres Sukoharjo bersama Dinas Pertanian dan Perikanan serta investor asal Spanyol, PT Bio Nusa Lestari, resmi memulai penanaman padi varietas Japonica Tarabas di Desa Mulur, Kecamatan Bendosari, Selasa (10/2).

Program ini merupakan upaya strategis untuk menekan angka impor beras premium yang selama ini mendominasi pasar restoran Jepang dan Korea di Indonesia. Kapolres Sukoharjo, AKBP Anggaito Hadi Prabowo, menyebutkan bahwa inisiatif ini lahir dari sinergi antara Kapolda Jawa Tengah, Komisi IV DPR RI, dan pemerintah daerah.

Selama ini, kebutuhan beras Japonica yang memiliki karakteristik pulen dan lengket banyak dipenuhi melalui jalur impor. Dengan dimulainya budidaya di lahan seluas 16 hektare di Bendosari, diharapkan kebutuhan tersebut dapat dipasok dari hasil bumi dalam negeri.

Baca juga:  Wujudkan Teaching Industry, Ganjar Revitalisasi Tujuh SMK di Jateng

“Ini adalah bahan baku asli Indonesia. Manfaat ekonominya akan kembali ke petani dan negara. Lahan di Bendosari ini menjadi lokasi percontohan awal sebelum nantinya diperluas ke wilayah lain,” ungkap AKBP Anggaito.

Eduardo Castillo, perwakilan investor dari PT Bio Nusa Lestari, menyatakan ketertarikannya mengembangkan padi Japonica di Sukoharjo setelah melalui riset tanah dan air yang mendalam. Menurutnya, standar operasional modern yang dibawa perusahaannya sangat cocok dengan karakteristik lingkungan di wilayah tersebut.

“Kami membawa standar internasional, namun infrastruktur dan tenaga kerja tetap menggunakan potensi lokal. Dukungan Kapolda Jateng sangat besar dalam mengarahkan kami ke Sukoharjo yang memiliki tanah berkualitas tinggi,” tutur Eduardo.

Baca juga:  Live Music Meriahkan Pos Terpadu Wonogiri, Pemudik Terhibur di Tengah Arus Mudik Lebaran

Pelaksana Lapangan, Wiku Wicaksa, menjelaskan bahwa varietas Japonica Tarabas yang ditanam telah memiliki sertifikasi resmi dan teregistrasi di Kementerian Pertanian. Dengan masa tanam sekitar 110 hari, potensi hasil panen diperkirakan mencapai 7 ton per hektare.

“Segmen pasarnya sudah jelas, yakni restoran dan kelas premium. Kita ingin membuktikan bahwa kualitas lokal mampu bersaing, bahkan lebih unggul dari beras impor yang selama ini beredar di supermarket,” tegas Wiku.

Sinergi antara aparat kepolisian, pemerintah, dan pihak swasta internasional ini diharapkan menjadi katalisator bagi peningkatan kesejahteraan petani lokal melalui komoditas padi bernilai ekonomi tinggi. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...