27 C
Semarang
Selasa, 17 Februari 2026

Harmoni Akulturasi Budaya Tionghoa dan Nusantara dalam Kirab Grebeg Sudiro

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Kawasan Pasar Gede hingga Kampung Sudiroprajan berubah menjadi lautan manusia pada Minggu (15/2). Ribuan warga dan wisatawan tumpah ruah menyaksikan puncak perayaan Grebeg Sudiro 2026, sebuah festival tahunan yang menjadi simbol abadi akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa yang dimeriahkan juga Seniman internasional di Kota Solo.

Acara ini dihadiri langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, serta Direktur Utama BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi SH MM. Kehadiran perwakilan pemerintah pusat tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya dan penguatan keberagaman di tanah air.

Dalam sambutannya, Astrid Widayani menegaskan bahwa Grebeg Sudiro bukan sekadar pesta rakyat biasa, melainkan representasi nyata kehidupan harmonis masyarakat Solo.

“Grebeg Sudiro adalah simbol sejati akulturasi. Di sini kue keranjang bersanding dengan gunungan, barongsai menari bersama reog. Inilah wajah Solo dan Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika yang nyata,” ujar Astrid dengan bangga.

Baca juga:  Bank Jateng bersama Pemkot Surakarta Implementasikan Kartu Kredit Indonesia Qris Bank Jateng

Ia juga mengapresiasi konsistensi event ini yang kembali masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026, sebuah pengakuan atas kekuatan budaya lokal dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Suasana kirab berlangsung sangat meriah dan sarat makna. Prosesi diawali dengan penampilan apik cucuk lampah penari sendratari yang membuka jalan bagi iring-iringan. Penonton disuguhi atraksi religius dan budaya dari 12 Shio Klenteng Tien Kok Sie, disusul liukan dinamis Liong Macan Putih yang membelah kerumunan massa di sepanjang rute kirab.

Sepanjang perjalanan, kesenian tradisional Jawa dan Tionghoa tampil bergantian, menciptakan perpaduan visual yang memukau. Aroma khas dupa dari klenteng berpadu dengan riuhnya suara gamelan dan tetabuhan genderang barongsai, menciptakan atmosfer perayaan yang magis namun hangat.

Puncak acara ditandai dengan tradisi yang paling dinantikan: rebutan gunungan. Ribuan pasang tangan berebut hasil bumi yang disusun mengerucut, serta pembagian ribuan kue keranjang kepada masyarakat. Meski diguyur hujan tidak menyurutkan semangat warga rebutan kue keranjang.

Baca juga:  Polres Surakarta Periksa Tiga Pelaku Kasus Kekerasan dan Penganiayaan

Tradisi ini bukan sekadar berebut makanan, melainkan simbol mencari keberkahan dan kebersamaan antarwarga tanpa memandang etnis maupun agama.

Ketua Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama, sebelumnya mengatakan sebanyak 5.000 kue keranjang dihadirkan dalam bentuk jodang lanang dan wadon untuk diperebutkan warga di kawasan Pasar Gede.

Sebelumnya dalam rangkaian Grebeg Sudiro digelar Umbul Mantram yakni doa bersama dimulainya Grebeg Sudiro, lalu ada pementasan kolosal Sendratari ‘Sudiroprajan Ngumandang’. Wisata Perahu Hias di Kali Pepe. Bazar UMKM dan pertunjukan seni yang dipusatkan di halaman Balai Kota Solo.

Puncaknya Pesta malam pergantian Tahun Baru Imlek 2026 dipusatkan di kawasan Pasar Gede dan Balai Kota Solo pada Senin (16/2/2026) pukul 18.00 WIB. Perayaan tersebut digelar tanpa kembang api. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...