26 C
Semarang
Rabu, 18 Februari 2026

Hilal Negatif, Observatorium Assalam Prediksi Awal Ramadan Ditetapkan 19 Februari 2026

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Tim astronomi dari Observatorium Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam Sukoharjo melaporkan hasil pengamatan hilal awal Ramadan 1447 Hijriah pada Selasa (17/2/2026). Berdasarkan data astronomis terkini, hilal dinyatakan mustahil untuk dilihat dari seluruh wilayah Indonesia.

Pakar astronomi PPMI Assalam, AR Sugeng Riyadi, menjelaskan bahwa kondisi hilal saat matahari terbenam sore ini masih berada di posisi negatif. Hal ini disebabkan karena fenomena konjungsi atau ijtimak (pertemuan bulan dan matahari) baru akan terjadi setelah waktu Magrib.

Sugeng Riyadi memaparkan bahwa hingga adzan Magrib berkumandang, posisi bulan masih berada di bawah ufuk. Secara teknis, konjungsi diperkirakan baru terjadi pada pukul 19.03 WIB, atau menjelang waktu Isya.

Baca juga:  Kemenag Jateng Dukung dan Fasilitasi Pekerja Keagamaan dalam Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan

“Secara ilmu astronomi, ini mustahil dilihat. Saat matahari terbenam, bulan sudah terbenam lebih dahulu. Karena konjungsi terjadi setelah Magrib, maka posisi hilal otomatis negatif. Dengan teknologi teleskop digital maupun astrophotography sekalipun, tidak ada yang bisa diamati karena objeknya berada di bawah garis ufuk,” jelas Sugeng.

Ketinggian hilal dilaporkan berada pada angka minus 0,84 derajat. Kondisi ini diperparah dengan cuaca mendung yang menyelimuti wilayah Sukoharjo sejak siang hari.

Sesuai dengan panduan syariat dan kriteria yang digunakan Pemerintah Republik Indonesia, jika hilal tidak terlihat akibat faktor cuaca maupun posisi yang masih negatif, maka bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Berdasarkan data tersebut, Sugeng memprediksi bahwa Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Baca juga:  331 Mahasiswa UNIBA Diwisuda di Tengah Pandemi, Rektor Ingatkan Siap Hadapi Tantangan Baru

“Prediksi ini memiliki akurasi tinggi karena menggunakan sistem algoritma astronomi kontemporer. Kemungkinan besar, besok Rabu (18/2) masih merupakan tanggal 30 Sya’ban sebagai hari penggenapan,” tambahnya.

Kegiatan rukyatul hilal sore ini dilakukan secara masif di lebih dari seratus titik di Indonesia, melibatkan Kementerian Agama, BMKG, Nahdlatul Ulama, hingga berbagai observatorium universitas. Di Jawa Tengah sendiri, titik pengamatan utama dipusatkan di UIN Walisongo Semarang, Observatorium Assalam, serta Observatorium Asshiro MAN 1 Surakarta.

Meskipun terdapat perbedaan potensi awal puasa dengan metode lain, Sugeng mengajak umat Islam untuk tetap menunggu keputusan resmi pemerintah dalam Sidang Isbat. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...