29.7 C
Semarang
Minggu, 17 Mei 2026

Komisi C DPRD Jateng Sambangi Sragen, Bedah Strategi Jaga Predikat Lumbung Pangan




JATENGPOS.CO.ID, SRAGEN- Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah menggelar diskusi intensif bersama jajaran Sekretariat Daerah Kabupaten Sragen, Rabu (22/4/2026), untuk membahas strategi peningkatan produksi pangan lokal sekaligus pengembangan pertanian urban guna mengantisipasi kerawanan pangan.

Rombongan Komisi C yang dipimpin Wakil Ketua Komisi C, Dedy Endriyatno, disambut Asisten Perekonomian & Pembangunan Setda Sragen, Tugiono, dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, & Perikanan, Eka Rini Mumpuni Titi Lestari.

Membuka diskusi, Dedy Endriyatno menegaskan posisi strategis Sragen. Kabupaten Sragen tidak perlu diragukan karena merupakan salah satu lumbung pangan terbesar di Jateng dan di tingkat Nasional.

“Sragen diakui sebagai lumbung pangan yang kuat memiliki peran strategis dalam produksi padi nasional karena memiliki tingkat ketersediaan pangan mencapai 70 hingga 75 persen. Selanjutnya, langkah bagaimana supaya tetap terjaga?,” tanyanya.

Data Dinas Pertanian Sragen 2025 mencatat luas lahan sawah 40.850,17 hektare dari total wilayah 99.457 hektare. Rinciannya, lahan pertanian non sawah 25.915,92 hektare dan lahan bukan pertanian 32.690,91 hektare. Wilayah pertanian terbagi 11 kecamatan di utara Bengawan Solo dan 9 kecamatan di selatan sungai.

“Sragen selalu nomor 2 atau 3 se-Jateng untuk luas tanam padi. Hasil produksi beras surplus 3 kali untuk kebutuhan masyarakat Sragen sendiri,” ungkap Eka Rini.

Pada 2025, produksi gabah kering giling Sragen tembus 764.312 ton atau setara 482.516 ton beras, sementara kebutuhan konsumsi penduduk 1,03 juta jiwa hanya 148.320 ton per tahun.

Meski produksi melimpah, Dedy mengingatkan agar surplus pangan linier dengan kesejahteraan.

“Jadi, meskipun hasil pangannya baik, bagaimana penduduk miskinnya? Nah, ini perlu diperhatikan juga,” tegasnya.

Baca juga:  Bank Indonesia Dorong Pemda Fasilitasi UMKM untuk Melakukan Ekspor

Data BPS 2025 menyebut angka kemiskinan Sragen 12,81% atau 132.450 jiwa, masih di atas rata-rata Jateng 10,77%. Kantong kemiskinan banyak di wilayah selatan Bengawan Solo yang lahan pertaniannya tadah hujan.

Sementara, Nilai Tukar Petani Sragen Maret 2026 tercatat 108,47, artinya petani masih surplus, namun rentan turun saat harga gabah jatuh panen raya. Menjawab itu, Asisten II Tugiono memaparkan skema kredit murah.

“Guna menjaga kestabilan ekonomi masyarakat di tingkat bawah, kami sudah komunikasi dengan Bank Jateng setempat guna memberikan suntikan pinjaman dengan bunga minim untuk dimanfaatkan oleh para petani padi dan jagung,” ujarnya

Skema Kredit Usaha Rakyat dan KUR Alsintan disalurkan lewat BUMD dan koperasi tani. Tugiono menyebut Pemkab Sragen tak berhenti di lahan luas. Beragam inovasi digeber untuk dongkrak produktivitas.

“Kami sudah melakukan banyak inovasi pendukung yaitu dengan pembangunan sumur sibel dan irigasi, program listrik masuk sawah, pemanfaatan air permukaan sepanjang area persawahan, dan strategi lainnya,” ujarnya.

Komisi C DPRD Provinsi Jateng berdiskusi dengan Pemkab Wonogiri, Rabu (22/4/2026), membahas soal urban farming. FOTO: DOK SETWAN DPRD JATENG

Program Listrik Masuk Sawah sudah menjangkau 1.842 hektare di 7 kecamatan. Petani bisa mengoperasikan pompa dengan biaya Rp450/kWh, jauh lebih murah dari diesel. Hasilnya, indeks pertanaman naik dari 2,1 jadi 2,7 di lahan irigasi teknis.

Artinya dalam setahun bisa 2-3 kali tanam.Selain itu, 184 unit sumur sibel dibor di wilayah tadah hujan seperti Miri, Sumberlawang, dan Mondokan. Debit 5-10 liter/detik mampu mengairi 8-12 hektare per unit.

Anggota Komisi C, Asrar, menyoroti pentingnya kolaborasi. “Tak juga kalah penting, bagaimana daya dukung selain dari Pemerintah, baik BUMD maupun stakeholder-nya. Hal itu sangat mempengaruhi kestabilan perekonomian di tingkat masyarakat kelas bawah juga,” katanya.

Baca juga:  PMI Solo Salurkan Bantuan Peralatan Ambulance untuk 18 Ambulance Komunitas

Pemkab menggandeng BUMD PT Sragen Agro untuk serap gabah petani dengan harga HPP plus Rp200/kg. BUMD juga olah beras kemasan premium “Sragen Organik” yang masuk ritel modern Solo dan Semarang.

Untuk strategi ketahanan pangan perkotaan, Eka Rini menyebut 3 pilar: meningkatkan produksi pangan-perikanan-peternakan, ketahanan pangan keluarga, dan diversifikasi konsumsi.

“Kami menciptakan sistem pertanian berkelanjutan dengan pendampingan urban farming dan sosialisasi benih unggul serta menciptakan petani milenial,” jelasnya.

Program urban farming digencarkan di 20 kelurahan Sragen Kota dan Karangmalang. DKP3 sudah membagikan 4.200 paket polybag + bibit cabai, tomat, kangkung ke PKK dan sekolah. Tujuannya menekan inflasi pangan dan mengisi pekarangan sempit. Pada 2025, inflasi kelompok volatile food Sragen 3,14%, lebih rendah dari Jateng 3,67%.

Meski surplus, Sragen menghadapi alih fungsi lahan 50-70 ha/tahun untuk perumahan dan industri. Selain itu, usia petani mayoritas di atas 50 tahun. Program Petani Milenial menyasar 450 pemuda dengan insentif alat, pelatihan, dan akses KUR.

“Kita kasih drone sprayer, smart farming, biar anak muda mau ke sawah,” kata Eka.

Komisi C mengapresiasi langkah Sragen dan akan mendorong perda perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan tingkat provinsi.

“Sragen contoh bagus. Produksi dijaga, inovasi jalan, petani dibantu modal. Tinggal pastikan distribusi dan harga gabah tidak jatuh saat panen,” tutup Dedy. (set/muz)




TERKINI




Rekomendasi

...