Modal Dua Ember, Ketua DPRD Jateng Sumanto Ajak Warga Olah Sampah Rumah Tangga Jadi Pupuk Cair


JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR- Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto mengajak masyarakat memulai pengelolaan sampah dari rumah tangga. Yaitu dengan memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk organik cair. Langkah sederhana ini dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah yang terus meningkat, sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

Ajakan tersebut Sumanto sampaikan saat menggelar reses di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu. Dalam kesempatan itu, ia menyoroti persoalan sampah yang semakin mendesak. Terutama keterbatasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang tak lagi mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.

Sumanto mengatakan, persoalan sampah tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah daerah. Masyarakat perlu mengambil peran dengan mengelola sampah sejak dari sumbernya, yakni rumah tangga.

“Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, memerintahkan agar kita mengurusi sampah. Sebagai kader partai, perintah itu saya ikuti karena memang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat,” ujar Sumanto.

Menurutnya, sampah rumah tangga harus menjadi perhatian bersama. Sebab, jika seluruh sampah hanya dikumpulkan dan dibuang ke TPA tanpa pengurangan dari sumbernya, kapasitas tempat pembuangan akan semakin terbatas.

Ia mencontohkan, persoalan sampah di sejumlah daerah menunjukkan bahwa penyediaan fasilitas pengolahan saja belum tentu menyelesaikan masalah apabila volume sampah terus bertambah.

“TPA sudah tidak muat. TPA mau ditambah lagi, siapa yang mau? Ketika mau membangun TPA baru, kita harus meminta izin warga, dan belum tentu masyarakat bersedia,” katanya.

Baca juga:  Ganjar Pastikan Tol Semarang-Demak Siap Dilalui Saat Nataru

Sumanto juga menyinggung persoalan sampah di Kabupaten Karanganyar. Menurutnya, sekitar 60–70 persen sampah yang dihasilkan merupakan sampah rumah tangga yang perlu mendapat perhatian serius melalui pemilahan dan pengolahan sejak awal.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak selalu memandang sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang. Sampah organik berupa sisa sayuran, buah-buahan, makanan, serta daun dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat, salah satunya pupuk organik cair.

“Coba kita pikirkan, sepuluh tahun lagi TPA Jumantono akan seperti apa kalau persoalan sampah ini tidak kita selesaikan dari sekarang. Saya sendiri juga membuat pengolahan sampah di rumah,” ungkapnya.

Ketua DPRD Jateng Sumanto mengajak masyarakat memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair saat menggelar reses di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. FOTO:IST/JATENGPOS

Dalam edukasi pengelolaan sampah yang disampaikan kepada warga, pengolahan sampah organik menjadi pupuk cair dapat dilakukan menggunakan teknologi sederhana berbasis ember. Metode ini diharapkan mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga tanpa membutuhkan peralatan yang rumit.

Prosesnya dimulai dengan memilah sampah organik dan anorganik. Sisa sayuran, buah-buahan, dan daun dipisahkan dari plastik, logam, kaca, serta bahan lain yang tidak sesuai untuk pengolahan. Sampah organik kemudian dipotong menjadi bagian kecil dan dimasukkan ke wadah pengolahan dengan bahan pendukung yang sesuai.

Baca juga:  Unisri Solo Mulai Buka PMB Siapkan Sembilan Jenis Beasiswa

Sistem ember dapat dirancang dengan wadah bagian atas untuk menampung bahan organik dan wadah bagian bawah untuk menampung cairan hasil proses pengolahan. Dengan pemilahan yang benar dan pengelolaan yang tepat, sampah rumah tangga berpeluang dimanfaatkan menjadi pupuk untuk tanaman sayur, buah, maupun tanaman hias.

Meski demikian, pupuk cair yang dihasilkan tidak dianjurkan langsung digunakan tanpa pengolahan dan pengujian yang sesuai. Pengenceran serta uji coba pada sebagian kecil tanaman perlu dilakukan terlebih dahulu untuk memastikan penggunaannya aman bagi tanaman.

Sumanto berharap gerakan pengelolaan sampah dapat dimulai dari satu rumah, kemudian meluas ke tingkat rukun tetangga (RT), hingga menjadi kebiasaan bersama di masyarakat. Upaya tersebut dapat melalui sosialisasi dan pemilahan sampah pada pekan pertama, dilanjutkan demonstrasi alat dan panduan pengolahan pada pekan kedua, kemudian pendampingan serta evaluasi pada pekan ketiga dan keempat.

Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat menjadi kunci penting dalam mengatasi persoalan sampah. Dengan keterlibatan setiap rumah tangga, beban TPA dapat dikurangi dan sampah organik yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan kembali.

“Mulai dari rumah, bergerak bersama. Kalau sampah rumah tangga bisa kita selesaikan dari sumbernya, lingkungan akan lebih bersih dan manfaatnya bisa kita rasakan bersama,” pungkasnya. (biz/muz)



TERKINI

Rekomendasi

...