Sosiolog UNS Wanti-wanti: Fenomena Open BO atau Prostitusi Online Sangat Berbahaya

SOSIOLOG: Dr. Argyo Demartoto, MS. i. Foto:jan/jatengpos

JATENGPOS. CO. ID, SOLO- Fenomena terbunuhnya pengusaha kerajinan tembaga Boyolali, Bayu Handono (36), oleh pasangan sesama jenisnya, Irwan (27), menimbulkan keprihatinan banyak pihak.

Dr. Argyo Demartoto, MS.i, sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo mewanti-wanti masyarakat harus sangat hati-hati dengan fenomena open BO (booking online) alias prostitusi online yang sedang marak. Banyak jebakan kriminal dan ancaman keselamatan jika seseorang terjerumus ke dalamnya.

Kematian bos kerajinan tembaga itu juga akibat dari maraknya prostitusi online (open BO) karena korban mengenal pelaku dari aplikasi MiChat.

“Kalau bisa dihindari. Tetapi kalau sudah terjerumus di dalamnya harus tahu ilmunya, tahu aturan mainya, tahu resikonya, sehingga tidak menjadi korban, ” katanya saat podcast dengan JatengPosTV, di Solo, (13 Mei 2024).

Dalam kasus pembunuhan oleh pelaku di Boyolali itu, menurut Dr. Argyo, yang juga Kepala Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNS, akibat korban tidak tahu aturan main dan resikonya.

Salah satu aturan main open BO alias prostitusi online adalah harus ada kesepakatan sebelum melakukan hubungan. Misalnya harus sepakat berapa tarifnya, berapa jam, servicenya mau seperti apa, hanya sekadar jasa seks, atau berlanjut ke relasi hubungan cinta hati ke hati dan lainya.

“Bahkan aturan yang detil sampai hal-hal teknis, maaf misalnya apakah sperma keluar di mulut, apakah keluar di wajah, semua harus sepakat di awal. Jika tidak, akhirnya timbul masalah yang akhirnya berakibat fatal sampai pembunuhan, ” tambahnya.

Seperti dalam kasus terbunuhnya bos kerajinan tembaga Boyoali, kata Dr. Argyo, salah satunya juga karena konflik tarif. Saat korban membooking pertama dan kedua, pelaku mau dibayar Rp 200 ribu. Tetapi saat hubungan badan kedua minta naik Rp 500 ribu. Karena tidak ada kecocokan akhirnya bertengkar.

“Maka harus ada kata sepakat sejak awal, biar tidak terjadi konflik. Kalau melihat korban pengusaha sukses, harusnya memenuhi permintaan pelaku demi keselamatan nyawanya, nyatanya tidak terjadi karena dari awal tidak ada perjanjian, ” jelasnya.

Asal tahu, bos kerajinan tembaga Boyolali, Bayu Handono (36), dibunuh teman sesama jenisnya Irwan (27), warga Sragen setelah melakukan hubungan badan (5/7/2024).

Korban sudah tiga kali memesan (open BO) alias booking online jasa pelaku melaui MuChat di rumahnya. Dua kali booking berjalan lancar. Tetapi untuk yang ketiga cek cok soal tarif dari Rp 200 ribu minta naik menjadi Rp 500 ribu. Hingga terjadilah pembunuhan di rumah korban.

Setelah terbunuh harta korban seperti sepeda motor dan uang juga dibawa kabur. Korban kenal pelaku melalui aplikasi MiChat dan booking online (open BO). Sudah pernah melakukan hubungan badan hingga tiga kali di rumah korban. Saat hubungan intim, korban sebagai pihak wanita. Kini, pelaku sudah ditangkap.

“Pelaku ini mungkin juga punya orientasi sek bermacam-macam, bisa sesama jenis, atau hetero seks (lawan jenis). Karena motivasinya ekonomi, jadi mana yang menghasilkan.”

“Maka berhati-hatilah, prostitusi online tidak saja membawa dampak kekerasan dan nyawa, tetapi juga faktor kesehatan. Karena pengguna jasa tidak tahu apakah penjaja seks sehat atau tidak, tertular HIV/AID atau tidak, “pesannya. (jan)