Sotoru Pelatih Timnas Putri Indonesia

JATENGPOS.CO.ID,  JAKARTA – Ketua PSSI, Erick Thohir, secara resmi mengumumkan Satoru Mochizuki sebagai pelatih Timnas Indonesia Putri yang baru. Bagaimana rekam jejaknya? Mochizuku lahir di Shiga, Jepang, pada 18 Mei 1964. Usianya 59 tahun. Dia memegang lisensi kepelatihan AFC A dari Federasi Sepak Bola Chinese Taipei (CTFA).

Satoru Mochizuki merupakan salah satu pelatih berpengalaman di Jepang. Ia memulai kariernya pada tahun 1998 saat menukangi tim J League 1, Kyoto Sanga FC. Setelah dari Kyoto Sanga FC, Satoru direkrut oleh Vissel Kobe pada tahun 2000. Kemudian dari tahun 2008, Satoru mulai menjadi pelatih di Timnas Putri Jepang.

Satoru turut menjadi bagian dari keberhasilan Timnas Putri Jepang meraih peringkat empat Olimpiade Beijing 2008, juara Piala Dunia Wanita 2011 di Jerman, dan runner-up Olimpiade London 2012.

“Kita harus lihat bagaimana Jepang serius membangun sepak bolanya dan bahkan Jepang sudah membuktikan untuk tim putrinya itu pernah juara dunia dan (itu yang) membuat di sebelah kiri saya (menunjuk Satoru Mochizuki),” ujar Erick Thohir.

Erick juga mengapresiasi keterlibatan Federasi Sepak Bola Jepang atau JFA di balik penunjukan Satoru Mochizuki sebagai pelatih Timnas Putri Jepang. Sebab, JFA yang merekomendasikan langsung pelatih berlisensi AFC Pro kepada PSSI.

“Yang saya bilang kami di PSSI sangat-sangat mengapresiasi dengan JFA (Federasi Sepak Bola Jepang) yang benar-benar secara tulus ikhlas benar-benar mau membantu sepak bola Indonesia dengan memberikan salah satu coach terbaiknya untuk membangun sepak bola Indonesia,” sambungnya.

“Dan tentu kita melihat banyak CV (curriculum vitae), tapi coach Satoru track record-nya jelas, pernah menjadi pelatih tim nasional muda wanita Jepang, lalu tim nasional, dan hasilnya luar biasa, juara dunia, pernah di Olimpiade, dan lain-lain. Saya rasa ini sebuah kehormatan untuk kita bisa mendapatkan salah satu coach terbaik yang bisa bantu bangun sepak bola putri Indonesia,” terang Erick Thohir menambahkan.

PSSI memberikan kontrak dua tahun kepada Satoru Mochizuki. Dia diberi target membangun pondasi Timnas Putri Indonesia yang diproyeksikan lolos ke Piala Dunia Wanita 2035.

“Kesepakatan sama coach (Satoru) itu kita menginginkan punya blueprint lima tahun, tapi beliau langsung jawab 10 tahun. Saya juga senang. Dan beliau menjawab, saya juga ingin mendidik pelatih-pelatih Indonesia. Saya langsung terharu, lalu disampaikan juga, saya bila diberi kesempatan mendidik para pelatih yang di sekolah-sekolah saya mau, terharu lagi,” paparnya.

“Jadi kontraknya jangan dua tahun, kalau bisa lima tahun. Kalau memang orangnya serius, beliau juga sudah mulai (belajar) Bahasa Indonesia, bicara nasi goreng, terima kasih, ya ini bagus lah. Saya rasa dengan juga kita membawa pelatih sekaliber Satoru, bagus buat benchmarking semua pelatih,” tutur lelaki yang juga menjabat sebagai Menteri BUMN tersebut.

Satoru Mochizuki menggantikan Rudy Eka Priyambada sebagai arsitek Timnas Indonesia Putri. Namun, pekerjaan rumah (PR) PSSI masih ada untuk sepak bola putri yaitu dengan menggelar kompetisi rutin. (bls/riz)