Tim PKM K UNDIP yang Diketuai Oleh Idha Arsila Berhasil Ciptakan Cat Air dari Tulang Ayam

53
Lima mahasiswa Universitas Diponegoro yang diketuai oleh Idha Arsila dan beranggotakan Apriliana Widiastuti, Alina Maftucha, Nur Laili Saroya, dan Taufik Pradipta Adikusuma melakukan inovasi pemanfaatan tulang ayam. FOTO : DOK/JATENG POS

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Pemberlakuan PSBB hingga PPKM memaksa setiap masyarakat untuk melakukan pembatasan interaksi dengan orang lain. Tidak menutup kemungkinan akan timbul stress pada setiap diri masyarakat akibat kurang kesiapannya dalam menghadapi pemberlakuan kebijakan dari pemerintah. Sebagin besar stress berawal dari ketidakmampuan dalam menemukan cara kreatif sebagai substitusi kegiatan sosial dengan individu lain di rumah masing-masing.

 

Stress yang dibiarkan dapat mempengaruhi kondisi kognitif (masalah konsentrasi, gangguan mental), behavior (gangguan tidur, penggunaan obat-obatan terlarang, alkohol), emosional (depresi, merasa terisolasi, mudah marah), dan fisik seseorang (permasalahan jantung, mual, ansietas, sakit leher, dan punggung).

 

Bila dibiarkan terus-menerus tentunya akan berdampak buruk pada kesehatan seseorang bahkan dapat berakhir pada gangguan kejiwaan yang serius.

 

Manajemen stress penting untuk dilakukan agar tubuh tetap dalam keadaan sehat baik secara jasmani maupun rohani. Salah satu bentuk manajemen stress adalah terapi seni lukis.

 

Tujuan terapi seni lukis sendiri bukan hanya untuk menghasilkan bentuk bernilai seni, tetapi lebih mengutamakan kebebasan berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan seseorang. Saat ini terapi seni lukis banyak dimanfaatkan sebagai media untuk menyelesaikan konflik emosional dalam menangani kasus ansietas (kecemasan), trauma, skizofrenia, maupun kasus-kasus psikologis lain.

 

Menanggapi hal tersebut, lima mahasiswa Universitas Diponegoro yang diketuai oleh Idha Arsila dan beranggotakan Apriliana Widiastuti, Alina Maftucha, Nur Laili Saroya, dan Taufik Pradipta Adikusuma melakukan inovasi pemanfaatan tulang ayam yang berjudul “Pemanfaatan Limbah Tulang Ayam dalam Bentuk Cat Air Aplikatif sebagai Media Koping Stres yang Solutif”.

 

Di bawah bimbingan dosen keperawatan yang menggeluti bidang kewirausahaan Ns. Niken Safitri Dyan K, S.Kep., MSi.Med, ide kreativitas inovasi cat air ini telah mendapatkan pendanaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kementrian Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan 2021 pada bulan Juni yang lalu.

 

Pemanfaatan limbah tulang ayam sebagai bahan dalam pembuatan cat air didasarkan pada bahan dari cat air itu sendiri yakni pigmen warna, gom Arabic, aditif, dan pengawet. Hal ini berkaitan erat dengan karakteristik limbah tulang ayam yang seringkali dimanfaatkan sebagai pakan ternak dalam bentuk serbuk.

 

Tulang ayam memiliki warna dasar putih kekuningan akibat proses mineralisasi ketika pembentukannya. Warna putih merupakan salah satu golongan warna netral sehingga mudah dicampur dengan warna lain tanpa mengubah tingkat kepekatan warna. Selain itu, tulang ayam normal memiliki kandungan kolagen sebanyak 15,8 – 32,8 % dan memiliki sifat pelekat.

 

Sifat pelekat inilah yang dapat dimanfaatkan dengan hal yang lebih bermanfaat seperti cat air. Ditambah lagi jumlah limbah tulang ayam di Indonesia yang sangat besar yakni mencapai 336,18 kg per kapita membuat peluang pengelolaan limbah ini menjadi barang yang lebih bernilai.

 

Produk cat air yang dihasilkan terdiri dari 10 warna dan dikemas dengan menggunakan mini pack yang trendy dan praktis. Tekstur cat air tulang ayam memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan tekstur cat air pada umumnya.

 

Meskipun berbahan dasar tulang ayam namun cat ini tetap menghasilkan lukisan yang tidak kalah kualitasnya dengan cat air lain. Walaupun cat air ini meninggalkan sedikit serbuk sebagai akibat dari adanya unsur tulang. Warna-warna yang tersedia juga dapat dengan mudah dicampur dengan warna lain. Sehingga pengguna dapat dengan leluasa memadukan warna dan menghasilkan lukisan sesuai dengan apa yang diinginkan. Selain itu masih minimnya pemanfaatan bahan organik untuk produksi cat air membuat pembeda pada produk ini.

 

Ditinjau dari bahan utama pembuatan, cat air yang terbuat dari bahan alami tepung tulang ayam tentu lebih aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Cat air ini tidak menggunakan bahan pigment dan extender dari minyak bumi yang biasanya ada dalam produk cat air pada umumnya. Oleh karena itu, cat air ini aman jika sampai tertelan ataupun mengenai bagian kulit yang sensitif pada tubuh pengguna.

 

Pemaparan dari platform Instagram Kennes, Idha Arsila selaku ketua tim menjelaskan bahwa proses produksi cat air dari tulang ayam diawali dengan melakukan studi literatur untuk menemukan dasar atau sumber yang valid mengenai limbah tulang ayam serta pemanfaatannya sebagai salah satu metode koping stres. Kemudian dilanjutkan proses pembuatan cat air yang secara rinci terbagi menjadi lima tahapan yakni pra-produksi, pembuatan tepung tulang ayam, rangkaian proses produksi cat air, pengemasan produk, dan publikasi serta pemasaran produk.

 

Tentunya tidak perlu diragukan lagi, produk ini dapat menjadi solusi dan inovasi baru bagi masyarakat Indonesia sebagai produk karya anak bangsa yang membanggakan. Pemanfaatan limbah menjadi barang yang lebih berharga merupakan peluang bisnis yang menggiyurkan karena masih minimnya para produsen melirik ranah ini sehingga diharapkan produk ini terus berkembang dan mampu bersaing baik di tingkat nasional maupun internasional.(biz/rew)

 

DATA PENULIS

Nama                  : Idha Arsila

Program Studi      : Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran (FK)

Universitas Diponegoro