Tingkatkan Geliat Literasi dengan Gebyar Literasi

Fera Dwi Astuti, S.Pd. SMP Negeri 1 Rembang

Gaung literasi yang telah didengungkan beberapa tahun yang lalu, membawa perubahan yang signifikan dalam perkembangan dunia pendidikan. Adanya menu wajib di setiap sekolah untuk menambahkan jam literasi membuat Bpk/Ibu guru berpikir keras untuk menyajikan literasi sebagai jam yang menyenangkan. Banyak ahli menjabarkan tentang definisi literasi. Menurut National Institute for Literacy menjelaskan bahwa literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga, dan masyarakat.

Pada tataran sekolah menengah, kemampuan melek aksara tentunya sudah dikuasai, sekadar kemampuan bisa membaca dan menulis. Lebih tepatnya ada tiga tahapan yang perlu dikuasai peserta didik dalam berliterasi. Tahap pertama, pembiasaan. Pembiasaan diartikan menjadikan membaca sebagai suatu habit yang dilakukan secara kontinu. Tahap kedua, pengembangan. Naik satu level dari pembiasaan. Pengembangan diartikan kemampuan siswa mengimplementasikan apa yang dibaca dalam konteks nyata. Tahap terakhir adalah pembelajaran. Tataran tertinggi dalam literasi, yang dapat diartikan pengaplikasian literasi dalam pembelajaran di kelas.

Variasi kegiatan literasi telah banyak dilakukan di SMP Negeri 1 Rembang. Dimulai dari pembiasaan siswa selama 15 menit sebelum KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) selama tiga hari berturut-turut (Selasa, Rabu, dan Kamis). Dari pembiasaan tersebut ada sejumlah tagihan yang harus diselesaikan oleh siswa. Dalam kenyataannya pembiasaan seperti ini memang bagus dan perlu dilakukan secara kontinu. Tahap selanjutnya adalah pengembangan. Dalam tahap pengembangan, kegiatan literasi disatukan dalam satu jam pembelajaran pada akhir pekan dengan kegiatan Gebyar Literasi.

Gebyar Literasi adalah kegiatan yang memfasilitasi siswa-siswi yang memiliki bakat dan potensi dalam semua bidang, baik seni, sastra, maupun olahraga. Bakat dan potensi inilah yang kemudian ditampilkan dalam ajang Gebyar Literasi. Dalam setiap minggunya dijadwalkan satu kelas untuk perform dengan tiga atau empat atraksi. Misalnya: musikalisasi puisi, menyanyi, atraksi taekwondo, PSHT, barongan, tong-tong klek, drama musikal, pantomim, menari, dan fashion show. Antusias siswa dalam kegiatan ini sangat luar biasa. Di samping bakat dan potensi mereka tersalurkan, kegiatan seperti ini nyatanya memang jauh lebih efektif dan menyenangkan. Menumbuhkan semangat literasi  jika hanya memberi materi saja atau memberi tagihan untuk menyelesaikan bacaan buku tertentu juga akan cepat membosankan. Untuk itu, pendekatan dengan menumbuhkan minat dengan hal-hal yang mereka sukai akan jauh lebih bermakna.

Untuk persiapan Gebyar Literasi sendiri dimulai dengan pembuatan jadwal kelas yang bertugas. Tim Literasi bekerja sama dengan wali kelas memilih bakat dan potensi apa yang akan ditampilkan dalam acara tersebut. Setelah acara selesai, siswa diberikan tagihan terhadap penampilan yang disajikan. Dari sini secara tidak langsung siswa belajar memberikan ulasan baik berupa pujian maupun kritikan dengan bahasa yang santun. Siswa juga belajar menganalisis unsur-unsur intrinsik karya sastra jika yang disajikan drama musikal, musikalisasi puisi, dsb. Tagihan yang diberikan bisa ditulis dalam buku khusus literasi ataupun di upload dalam media sosial berupa instagram.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, guru juga harus mengimbanginya dengan metode pembelajaran yang tak kalah menariknya agar pesan yang ingin disampaikan untuk siswa sampai kepada mereka. Definisi literasi tidak terkotak hanya melek baca dan tulis tetapi juga berkembang dalam ranah yang lebih luas.