Beranda Sekolah Hebat Opini Guru TPOT Tingkatkan Kemampuan Menganalisis Unsur Intrinsik Cerita Fantasi

TPOT Tingkatkan Kemampuan Menganalisis Unsur Intrinsik Cerita Fantasi

337
SRI WIDIYASTUTI, S.Pd. GURU SMP NEGERI 2 EROMOKO KABUPATEN WONOGIRI
SRI WIDIYASTUTI, S.Pd. GURU SMP NEGERI 2 EROMOKO KABUPATEN WONOGIRI

Salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran sastra adalah kemampuan menganalisis unsur pembangun karya sastra terutama unsur intrinsik. Salah satu tujuannya adalah agar siswa mampu mengapresiasi karya sastra yang dibaca.

Selama ini pembelajaran sastra belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Karya sastra yang sebenarnya mempunyai fungsi rekreatif ini, belum mendapat tempat di hati para siswa, sehingga ketika mereka dituntut untuk memahami dengan menganalisis unsur intrinsik cerita fantasi masih mangalami kesulitan. Pada akhirnya guru kecewa karena hasil tes jauh dari harapan.

Rendahnya tingkat kemampuan siswa dalam menganalisis unsur intrinsik cerita fantasi ini bukan semata-mata bersumber dari kemampuan siswa yang rendah, akan tetapi pangkal permasalahannya justru berawal dari guru. Guru dalam proses pembelajaran kurang menempatkan diri siswa sebagai subjek utama dalam pembelajaran, miskin kreativitas dan inovasi serta gaya mengajar yang otoriter dan konvensional. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran berlangsung kurang efektif. Jika masalah ini tidak segera diatasi berbagai dampak pendidikan/pengajaran akan muncul diantaranya: a) Siswa akan semakin malas dalam memahami materi pembelajaran tentang   menemukan unsur intrinsik cerita fanatasi;  b) Siswa semakin takut, menjauhi, dan malas belajar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia; c) Guru tidak mengetahui kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami kompetensi materi pembelajaran; d) Iklim pembelajaran di kelas semakin tidak kondusif sehingga proses pembelajaran terhambat.

Memperhatikan asumsi dan kenyataan di atas menarik untuk menyimak kembali proses pembelajaran yang berlangsung pada pembahasan kompetensi menentukan unsur intrinsik cerita fantasi, sebab tuntutan profesionalisme bagi guru adalah kemampuan guru untuk menentukan pendekatan dan strategi pembelajaran yang tepat sesuai materi pembelajaran. Fakta ini membuat penulis tertarik untuk meningkatkan kemampuan menganalisis unsur intrinsik cerita fantasi  siswa dengan menerapkan metode The Power of Two (TPOT).

Main Sufanti dalam Zaini menjelaskan bahwa metode The Power of Two (TPOT) merupakan strategi pembelajaran untuk mendorong pembelajaran kooperatif  dan memperkuat arti penting serta mamfaat sinergi dua orang. Setrategi ini mempunyai prinsip bahwa berpikir berdua jauh lebih baik daripada berpikir sendiri.

Zaini, dkk. (2007:55) memaparkan langkah-langkah pembelajaran dengan strategi ini adalah sebagai berikut: a)  Ajukan satu atau lebih pertanyaan yang menuntut perenungan dan pemikiran; b) Siswa diminta menjawab pertanyaan tersebut secara individu; c)  Setelah semua siswa menjawab dengan lengkap semua pertanyaan, mintalah  mereka berpasangan dan saling bertukar jawaban satu sama lain dan membahasnya; d) Mintalah pasangan-pasangan tersebut membuat jawaban baru untuk setiap pertanyaan, sekaligus memperbaiki jawaban individual mereka. e) Ketika semua pasangan telah menulis jawaban-jawaban baru bandingkan dengan jawaban setiap pasangan di dalam kelas. Mintalah kepada siswa secara keseluruhan untuk memilih jawaban yang terbaik.

Melalui penerapan metode THE POWER OF TWO (TPOT), terbukti dapat menciptakan suasana pembelajaran yang efektif, efisien dan menyenangkan khususnya dalam meningkatkan ketrampilan siswa dalam menganalisis unsur intrinsik cerita fantasi.

SRI WIDIYASTUTI, S.Pd.

GURU  SMP NEGERI 2 EROMOKO

KABUPATEN WONOGIRI