Tradisi Menjamas Keris di Bulan Suro, Agar Tidak Korosi dan Tetap Awet

25
Pemerhati keris, Dekan Bawono sedang membersihkan kerisnya . Momen saat bulan Suro. Foto : Dekan Bawono/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Bagi sebagian masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa yang masih nguri-nguri budayanya, setiap pergantian tahun baru 1 Suro dalam penanggalan Jawa, salah satunya digunakan untuk menjamas atau membersihkan keris.

Sebagaimana dilakukan Dekan Bawono (47) warga Perum Domas, Salatiga ini. Ditemui di rumahnya, Selasa ( 10/8) kemarin, pria asli Solo ini sedang membersihkan puluhan bilah keris di rumahnya.

“ Menjamas keris merupakan bagian dari kearifan local, tradisi dari leluhur. Ada nilai dan pesan filosofis dari tradisi menjamas itu,“ ujar bapak dua putera yang dikenal sebagai pemerhati keris di Salatiga ini.

Alumnus UNS jurusan sejarah ini menambahkan, sebenarnya tidak hanya di bulan Suro saja keris itu dibersihkan, bilamana sudah kotor dan muncul karat, bisa sewaktu-waktu dibersihkan. Namun karena sudah menjadi tradisi setiap bulan Suro maka hal itu sah-sah saja.

” Tujuan membersihkan itu supaya tidak karat dan korosi. Karena jika karat dan korosi, maka keris itu lama-lama akan keropos. Bila rusak maka unsur seni dan keindahannya otomatis akan hilang,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, untuk membersihkan keris, tergantung tingkat korosinya ( karatan). Bila hanya kotor dan korosi sedikit, maka cukup dibersihkan dengan kain lap, kuas dengan dicampur minyak.” Namun bila korosinya parah, bisa direndam dulu ke dalam air kelapa. Kemudian setelah karatnya rontok, dibilas dengan jerus nipis, kemudian dicuci dengan air dan diminyaki,” jelasnya.

Minyak apa untuk membersihan keris ? Menurut Dekan, selain mudah didapatkan di toko-toko yang menjual minyak, kita bisa membuat sendiri dengan membuat minyak klentik. Justru minyak alami itu sangat bagus karena awet dan tidak merusak bilah.

“ Jadi jangan salah persepsi, memberi minyak itu bukan berarti memberi sesaji. Itu persepsi yang salah. Makna yang terkandung jelas supaya selalu bersih, sehingga awet. Bila awet, seni dan keindahanya terjaga dan bisa diwariskan ke anak cucu sehingga tidak punah,” imbuhnya.

Bagaimana dengan cerita keris sakti dan sebagainya itu ? menurut Dekan, memang bagi yang percaya, keris ada yang memiliki tuah atau yoni tertentu. Namun demikian, intinya semua kekuatan itu berasal dari Tuhan YME.

Yang jelas menurut Dekan, rakyat Indonesia harus berbangga memiliki warisan keris buatan para empu. Karena selain wayang dan batik, senjata asli Nusantara ini sudah diakui secara resmi oleh Unesco, lembaga PBB yang mengurusi budaya. Dimana keris masuk dalam peninggalan warisan dunia. “ Wayang, keris dan batik sudah diakui oleh Unesco ( PBB) sebagai warisan budaya dunia,” tandasnya.

Menurut Dekan yang kini memiliki puluhan keris mulai dari jaman kerajaan Singasari hingga Mataram itu, diakuinya Keris sebagai warisan budaya dunia itu tidaklah berlebihan, karena di dalam sebilah keris, banyak nilai-nilai budaya, seni dan filosofis yang bisa dipetik. Karena keris tidak hanya sekedar senjata tajam saja. Di dalam keris ada nilai filosofis, budaya, religi dan sebagainya.

“ Tehnik nenek moyang kita ( empu pembuat keris) meski sederhana namun sudah luar biasa, karena sudah bisa meleburkan baja, besi, dan titanium yang memiliki titik lebur yang berbeda-beda ke dalam keris. Inilah kelebihannya yang tidak dimiliki oleh bangsa lain pada massanya,” jelas Dekan alumni jurusan Sejarah UNS Solo ini.

Setiap bilah keris, baik itu yang lurus atau yang lekuk memiliki nama ( dhapur) yang berbeda. Setiap nama itu mengandung arti filosofis dan makna yang berbeda pula. Demikian pula pamor (corak ) putih di bilah keris juga memiliki nama yang berbeda pula sesuai dengan gambar atau bentuknya.

Semisal saja, ada pamor yang bentuknya mirip kulit semangka, maka disebut pamor kulit semongko, ada juga mirip daun blarak ( daun kelapa) maka disebut pamor blarak dan sebagainya. ” Itulah keunikan keris,” pungkasnya. (rit)