Ketika Sejarah, Kereta, dan Sastra Bertemu di Tawang


JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Siang itu, hall Stasiun Semarang Tawang tidak hanya dipenuhi aktivitas calon penumpang. Suasana sejenak berubah ketika bait-bait puisi dibacakan, membawa cerita tentang perjalanan, pertemuan, perpisahan, dan kota yang terus bergerak.

 

Senin (28/9/2026), pembacaan puisi “Di Stasiun Tawang” karya Louis-Philippe Dalembert mengawali rangkaian perayaan HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero) di KAI Daop 4 Semarang. Dari hall stasiun, cerita kemudian berlanjut menuju rangkaian KA Argo Merbabu yang tampil dengan wajah berbeda.

 

Puisi tersebut dibacakan melalui kolaborasi KAI Daop 4 Semarang bersama Triyanto Triwikromo, sastrawan dan akademisi Universitas Diponegoro, serta Ucik Fuadhiyah, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang sekaligus sastrawati dan peneliti.

 

Pemilihan Stasiun Semarang Tawang sebagai ruang pembacaan puisi terasa memiliki makna tersendiri. Stasiun yang berdiri sejak 1914 itu selama lebih dari seabad menjadi tempat orang datang dan pergi, menyimpan kisah yang tidak semuanya tercatat dalam jadwal perjalanan.

 

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang Luqman Arif mengatakan, stasiun bukan sekadar tempat kereta berhenti. Di dalamnya ada cerita manusia yang terus berganti dari waktu ke waktu.

 

“Kereta api dan sastra memiliki satu ruang pertemuan yang sama, yaitu manusia dan perjalanannya. Stasiun menjadi tempat banyak cerita dimulai maupun berakhir,” katanya.

 

Dari puisi, perayaan kemudian bergerak menuju sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat. Di rangkaian KA Argo Merbabu, sejarah perkeretaapian Indonesia dihadirkan melalui vintage livery yang terinspirasi dari kereta seri ABL-9000.

 

Peluncuran vintage livery dilakukan Executive Vice President PT KAI Daop 4 Semarang Mohamad Arie Fathurrochman. Rangkaian tersebut menjadi bagian dari cara KAI merayakan usia 81 tahun dengan menghadirkan kembali salah satu jejak perjalanan kereta api Indonesia.

Baca juga:  Re.juve Gelar “Run to Raise” Untuk Mangrove

 

Vintage livery itu merupakan hasil kolaborasi KAI Daop 4 Semarang dengan Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). Satu rangkaian KA Argo Merbabu terdiri atas sembilan kereta eksekutif New Image, satu kereta makan New Image hasil modifikasi Balai Yasa Tegal, serta satu kereta pembangkit.

 

Sebanyak 450 tempat duduk tersedia dalam satu rangkaian. KA Argo Merbabu tetap menjalankan layanan pada relasi Semarang Tawang–Gambir pulang pergi, namun kini tampil membawa nuansa yang mengingatkan pada perjalanan kereta api masa lalu.

 

ABL-9000 sendiri mulai digunakan Djawatan Kereta Api atau DKA pada 1 Oktober 1954. Sebanyak 49 unit kereta tersebut dipesan DKA dari tiga pabrikan asal Prancis, yakni Société Lorraine, Carel Fouché, serta Brissonneau et Lotz.

 

Kereta tersebut memiliki konfigurasi kelas 1 dan kelas 2 dalam kompartemen yang dipisahkan sekat berpintu. Pada masa awal pengoperasiannya, ABL-9000 digunakan untuk mendukung layanan ekspres pada sejumlah rute, termasuk Jakarta–Surabaya, Jakarta–Semarang, Jakarta–Yogyakarta, dan Jakarta–Bandung.

 

Ada pula catatan sejarah yang membuat ABL-9000 semakin menarik. Pada 1955, kereta tersebut digunakan untuk mendukung perjalanan peserta Konferensi Asia-Afrika.

 

“Yang kami hadirkan hari ini bukan sekadar tampilan livery lama. Ada cerita panjang di baliknya,” ujar Luqman.

 

Seiring perkembangan zaman, sebagian ABL-9000 mengalami perubahan fungsi dan dikonversi menjadi kereta kelas ekonomi. Sebagian lainnya kembali dikonversi menjadi kereta kelas eksekutif pada dekade 1990-an dan digunakan dalam layanan KA Argo Lawu.

Baca juga:  Kedubes Denmark Lirik Fasilitas Pengelolaan Sampah SBI di Cilacap

 

Kini, jejak visualnya kembali hadir melalui KA Argo Merbabu. Bukan sebagai kereta yang sama, tetapi sebagai pengingat bahwa perjalanan perkeretaapian Indonesia dibangun dari begitu banyak cerita yang saling bersambung.

 

Luqman mengatakan, HUT ke-81 KAI menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan perusahaan sekaligus mengenang sejarah perkeretaapian yang telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa.

 

“HUT ke-81 KAI menjadi momentum untuk melihat perjalanan perusahaan sekaligus mengenang sejarah perkeretaapian yang telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa. Melalui vintage livery ini, kami menghadirkan kembali nuansa salah satu kereta bersejarah dalam bentuk yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat saat ini,” jelasnya.

 

Stasiun Tawang dan Argo Merbabu akhirnya menjadi dua bagian dari satu cerita. Yang satu menyimpan jejak lebih dari seabad perjalanan, sementara yang lain membawa kembali wajah kereta dari masa lalu ke perjalanan hari ini.

 

Di antaranya ada puisi yang mengingatkan bahwa perjalanan kereta api pada akhirnya bukan hanya tentang rel dan gerbong. Ada manusia yang menunggu, bertemu, berpisah, dan membawa kisahnya masing-masing.

 

“81 tahun KAI adalah perjalanan yang panjang. Kami ingin merayakannya dengan mengingat dari mana perjalanan ini berasal, menghargai cerita yang telah menjadi bagian dari sejarah, sekaligus terus melangkah bersama masyarakat,” pungkas Luqman.

 

Siang itu, setelah puisi selesai dibacakan dan vintage livery diperkenalkan, perjalanan kereta kembali berlangsung seperti biasa.

 

Namun, ada sesuatu yang tertinggal di Stasiun Tawang. Sebuah cerita lama yang kembali hadir, kali ini melalui bait puisi dan wajah Argo Merbabu.(aln)


TERKINI

Rekomendasi

...