Video Klip Lagu Efektifkan Pembelajaran Menulis Teks Drama

Fera Dwi Astuti, S.Pd. SMP Negeri 1 Rembang

Jatengpos.co.id-Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang produktif dan ekspresif. Keterampilan ini merupakan keterampilan yang kompleks karena memerlukan keterampilan berbahasa lainnya, yaitu membaca, berbicara, dan menyimak. Namun, dalam kenyataannya keterampilan ini masih belum dikuasai secara memadai oleh peserta didik. Sesuai dengan standar isi kurikulum 2013, peserta didik kelas VIII dituntut untuk dapat menulis naskah drama satu babak. Keterampilan menulis naskah drama merupakan salah satu keterampilan bidang apresiasi sastra. Melalui pembelajaran keterampilan tersebut, diharapkan peserta didik mampu menulis teks drama dan menghasilkan karya yang baik. Namun, harapan tersebut belum tercapai dan mendapatkan banyak kendala.

Kendala tersebut terjadi karena adanya hambatan. Hambatan yang berasal dari peserta didik. Peserta didik kurang berminat pada pembelajaran menulis teks drama. Hambatan lainnya dari guru. Guru kurang dapat memotivasi peserta didik untuk menyukai pembelajaran menulis teks drama. Teknik yang digunakan guru juga kurang bervariasi sehingga cenderung monoton. Pembelajaran menulis teks drama masih konvensional dengan pendekatan dan metode yang belum mampu menumbuhkan stimulus atau rangsangan berpikir produktif pada peserta didik.

Peserta didik dituntut tidak hanya memahami atau membaca, tetapi juga untuk memproduksi atau mencipta naskah drama. Selama ini asumsi menulis naskah drama dimata sebagian peserta didik merupakan sebuah pelajaran yang sulit dibanding dengan bentuk karya sastra yang lain. Hal ini dikarenakan menulis naskah drama membutuhkan proses kreatif dan keterampilan menulis untuk dapat merangsang penonton maupun pemain. Hal tersebut membutuhkan proses kreatif dan ide cerita yang bagus jika naskah drama dipersiapkan untuk pementasan.

Pelaksanaan pembelajaran menulis teks drama hendaknya diarahkan pada keterlibatan peserta didik dalam pengalaman membuat teks drama itu sendiri. Artinya, pengalaman yang melibatkan peserta didik pada pencarian nilai-nilai keindahan dan penemuannya sekaligus (Sumardi, 1997:39). Hal tersebut dapat ditafsirkan bahwa guru harus mampu mendorong siwa untuk aktif. Para peserta didik diajak untuk melihat, mengalami, atau merasakan pengalaman hidupnya. Ketika para peserta didik dapat menikmati pengalamannya, tugas guru memotivasi untuk mengungkapkan kembali pengalaman itu dalam bentuk dialog-dialog teks drama.

Sesuai dengan usia perkembangannya yang tergolong remaja, peserta didik kelas VIII masih memerlukan stimulus (rangsangan) untuk menciptkan pengalaman langsung dalam mengungkapkan idenya. Artinya, untuk menciptakan daya imajinasi dalam menulis teks drama memerlukan rangsangan tertentu. Musik merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar baik secara sadar maupun tidak sadar (De Porter, 2005:73). Musik dapat dijadikan rangsang dalam menulis teks drama. Menulis teks drama dengan video klip lagu yang disajikan merupakan rangsang baru untuk menggali imajinasi peserta didik dalam menuangkan ide menulis teks drama. Syair lagu yang menarik, berkesan, dan diminati peserta didik digunakan untuk memancing agar peserta didik dapat menulis teks drama. Menulis teks drama dengan video klip lagu diawali dengan melihat, mengamati, dan mendengarkan video yang ditayangkan. Adegan-adegan yang ditampilkan dalam video klip tersebut digunakan untuk menentukan tema dan suasana teks drama sedangkan lirik lagunya digunakan sebagai model fisik untuk menuliskan dialog-dialog dalam teks drama. Hasil dari penciptaan suasana dan model fisik video klip lagu itulah yang akan dikembangkan peserta didik menjadi teks drama.

Guru memang dituntut untuk lebih kreatif sebagai fasilitator, terlebih menghadapi generasi milineal saat ini. Inovasi harus terus dikembangkan agar materi tersampaikan sesuai dengan yang diharapkan. Pemanfaatan video klip lagu dalam pembelajaran menulis teks drama merupakan stimulus (rangsangan) yang baik untuk memudahkan peserta didik menuangkan ide. Dengan pemberian stimulus yang tepat diharapkan kemampuan anak dalam memahami materi pembelajaran meningkat.