Wajah Baru Genosida Muslim Uyghur, Aktivis Serukan Dukungan Dunia Islam

JATENGPOS.CO.ID,  – Intensitas perjuangan etnis Muslim Uyhur, khususnya di Turki akhir-akhir ini mengalami peningkatan baik berupa aksi demonstrasi, gugatan hukum, diskusi dan bentuk gerakan perlawanan lainnya. Aksi protes ini juga dipicu oleh praktik karantina Covid-19 yang diberlakukan selama 45 hari oleh Pemerintah Tiongkok kepada etnis Muslim Uyghur di Xinjiang, disaat kebijakan karantina di seluruh dunia hanya 7 hari.

Karantina ini dianggap hanya ‘akal-akalan’ untuk mengurung serta membatasi ruang gerak masayarakat Uyghur. Lebih dari itu, kebijakan karantina juga dinilai merupakan siasat genosida dalam bentuk baru, membiarkan masyarakat Uyghur kelaparan di dalam rumah-rumah mereka sendiri. Bagaimana aktivis Uyghur merespon masalah ini dan bagaimana perjuangan organisasi Uyghur merebut hak-haknya dalam hari-hari mendatang? Berikut wawancara eksklusif dengan Seyit TumturkPresiden Majelis Nasional Turkistan Timur.      

Intensitas perjuangan etnis Muslim Uyhur, khususnya di Turki akhir-akhir ini mengalami peningkatan, bisa Anda jelaskan pemicu utamanya?

Peningkatan advokasi, aksi protes, dan sejenisnya di Turki oleh diaspora Turkistan Timur, alasannya adalah karena kebijakan penindasan dan genosida di Turkistan Timur yang hampir mencapai puncaknya. Virus Coronavirus yang kita kenal terutama yang diproduksi oleh China di laboratorium mikrobiologi di Wuhan, telah merenggut nyawa jutaan orang dan telah dibayar mahal oleh dunia. Selain itu telah melumpuhkan dunia secara ekonomi. China dalam hal ini menjadikan virus ini sebagai alasan untuk selama 45 hari mengunci penduduk Turkistan Timur di rumah mereka, memenjarakan mereka, mengunci mereka, dan membiarkan mereka mati kelaparan. Ini adalah genosida. Pembiaran hingga mereka mati kelaparan ini menjadi perhatian utama kita, dan menjadi pertanyaan apa tujuan dari Pemerintah China dengan masa karantina 45 hari? Disaat masa karantina di dunia adalah satu minggu atau 7 hari.

Kami di sini memiliki keprihatinan serius tentang penggunaan China atas masyarakat Turkistan Timur sebagai kelinci percobaan atau sebagai hewan uji dan senjata mikrobiologi yang diujikan pada masyarakat Turkistan Timur dengan mengkarantina mereka selama 45 hari. Di masa depan, mungkin saja beberapa senjata mikrobiologis tersebut telah digunakan untuk pemusnah massal masyarakat Turkistan Timur.

Bagaimana peran organisasi Majelis Nasional Turkistan Timur yang Anda pimpin?

Kami mendeklarasikan Majelis Nasional Turkistan Timur di Paris, ibu kota Prancis, pada 1 Oktober 2018, kami mendeklarasikan Majelis Nasional Turkistan Timur dalam pemilihan yang dihadiri oleh 20 organisasi dari sekitar 15 negara, dan hampir 200 delegasi dan organisasi yang hadir. Saya dipilih melalui pemungutan suara diantara beberapa pimpinan majelis sebagai presiden majelis.

Pada saat sebelum dibentuknya majelis secara nasional, LSM, asosiasi, dan yayasan saat itu sayangnya tidak cukup untuk mengumpulkan organisasi-organisasi tersebut dengan sarana dan kemampuan yang mereka miliki dan untuk memimpin masyarakat Turkistan Timur. Hal itu menjadi tantangan bagi kami untuk menciptakan badan tertinggi politik yang akan merangkul semua masyarakat dan melakukannya untuk masyarakat kami. Itu sebabnya kami mendirikan Majelis Nasional Turkistan Timur.

Karena jika Majelis Nasional didirikan disini dengan panggilan terbuka untuk semua organisasi yang ada, Majelis ini tidak akan berada di tangan siapapun sendirian, Majelis ini akan dipilih secara demokratis dan didirikan dengan kehendak masyarakat Turkistan Timur yang akan terwujud dan keinginan masyarakat Turkistan Timur akan bersatu di sini. Kekuatan dari majelis ini yang akan membawa permasalahan Turkistan Timur ke ranah internasional melawan Pemerintah China dan merubah opini publik dunia yang akan menjadi sasaran kami disini.

Kami mendirikan Majelis Nasional Turkistan Timur dengan pemikiran bahwa kami akan berperan aktif menghadapi Pemerintah China dengan bersatu di bawah payung Majelis Nasional Turkistan Timur ini. Namun sayangnya, setelah tahun 2018, dampak Coronavirus yang menyebabkan masalah di dunia oleh China, menghalangi kami untuk bertindak, berkumpul, dan mengaktifkan peran Majelis Nasional Turkistan Timur tentang masalah ini. Kemudian, kami belum bisa melakukan kegiatan tingkat tinggi yang kami targetkan selama 3-4 tahun karenda terdampak virus.

Kini kondisi virus sudah mulai normal dan kami insya Allah, sedang berpikir untuk mengundang kembali kedalam majelis ini kepada semua orang Uyghur dan organisasi kami yang ada, dan untuk menyatukan mereka di bawah satu atap dengan cara yang demokratis kembali dengan mengadakan pemilihan atau periode kepemimpinan majelis yang kedua, dengan cara yang adil.

Tentu saja dilain pihak, kondisi politik di Turki, serta upaya intervensi China didalamnya berusaha untuk mencegah kami beraktivitas, dan itu memiliki dampak yang sangat negatif dan untuk alasan ini, kami tidak dapat membuat Majelis Nasional Turkistan Timur aktif, akan tetapi kami akan memenuhi tanggung jawab ini di masa-masa yang akan datang.

 

Program-program efektif apa yang dalam waktu dekat ini dijalankan?

Seperti yang kita ketahui, salah satu kebijakan genosida paling utama terungkap dalam waktu-waktu ini, Pada tahun 2015-2016 PBB menyebutkan bahwa 1 juta orang Turki Uyghur ditahan oleh China 3 tahun yang lalu, dan pelanggaran hak asasi manusia dilakukan dengan memasukkan Muslim Uyghur Turki ke kamp-kamp dan penjara di bawah pengawasan intelijen dan penanaman ideologis yang serius. PBB menyatakan kekhawatiran tentang kehidupan masyarakat Uyghur di sana.

Tapi hari ini, menurut informasi yang kami terima, setidaknya ada 5 juta masyarakat Muslim Uyghur berada di kamp dan penjara pemerintah China. Segala macam asimilasi, penyiksaan dan pembantaian dilakukan terhadap orang-orang Turki Uyghur dari konfirmasi yang kami dapat, termasuk perdagangan organ, pemaksaan terhadap penempatan pemuda-pemuda China untuk ditempatkan di rumah-rumah orang Uyghur dan tinggal Bersama perempuan Uyghur dimana para pria Uyghur berada di kamp dan penjara.

Seolah hal ini tidak cukup, China telah mengunci rumah-rumah masyarakat Turkistan Timur selama 45 hari terakhir menggunakan karantina Coronavirus sebagai alasan, Pemerintah China menutup pintu-pintu rumah mereka dan kematian massal bisa saja menunggu didepan mata akibat kelaparan yang mengintai.

Kami tentu saja khawatir tentang permasalahan karantina yang diterapkan selama 45 hari terhadap orang-orang Turkistan Timur, disaat masa karantina di dunia atau negara lainnya hanya sekitar 1 minggu. Di sini perlu dipertanyakan apa yang menjadi target China dan kebijakan genosida apa yang ingin diterapkan oleh China.

Selain di Turki, apakah Majelis Nasional Turkistan Timur juga berjaringan di sejumlah negara lain?

Kami memiliki partisipan dari 20 organisasi dan dari 15 negara yang berpartisipasi dalam pembentukan Majelis Nasional Turkistan Timur pada 1 Oktober 2018 di Paris, sayangnya, seperti yang kita  ketahui bersama, ranah aktivitas kami menyempit karena Coronavirus dan prosedur karantina, dan selain itu perpolitikan di Turki dan hubungan Pemerintah China didalamnya mencegah kami dengan fokus pada tujuan kami.

Untuk alasan ini, pekerjaan kami sebagai Majelis dari masyarakat Turkistan Timur, mengalami penundaan dalam aktivitas politik baik pengorganisasian maupun menjadi corong yang aktif menyuarakan kepentingan masyarakat Turkistan Timur. Kedepannya, kami akan melakukan kegiatan kami yang sempat tertunda di bidang demokrasi dengan cara yang paling aktif untuk menghadapi Pemerintah China, baik dari segi organisasi maupun dalam hal menjadi penyuara bagi masyarakat Turkistan Timur dan akan melakukan kegiatan kami dengan serius baik di Turki maupun di ranah internasional.

Kami memiliki partisipan yang menjadi anggota Majelis Nasional Turkistan Timur yang berada di luar negara Turki baik di Asia Tengah seperti Kazakhstan, Kirgistan, beberapa negara di Eropa, Jepang, Australia, Kanada, Amerika, akan tetapi karena kami yang berada di Turki sebagai lokomotif, terpaksa dalam keadaan pasif untuk saat ini sebagaimana alasan politik Turki dan pengaruh China.

Sebagaimana kita ketahui sayangnya, organisasi ini tidak dapat aktif, karena jika lokomotif diblokir, gerbong-gerbong yang adapun tidak memiliki kesempatan untuk bergerak. Namun insyaAllah akan kami aktifkan baik lokomotif maupun gerbong-gerbong tersebut untuk ke depannya.

Apa isu strategis saat ini yang perlu dilakukan untuk terus menyuarakan perjuangan etnis Muslim Uyghur?

Pemerintah Komunis China tidak hanya melakukan diskriminasi atau genosida terhadap masyarakat Uygur, tetapi juga proses pemusnahan massal, genosida massal, dipraktikkan di semua bidang, seperti pengekangan dalam praktik agama, penghapusan budaya terhadap perempuan dan anak-anak.

Banyak contoh terkait hal ini, yang terakhir adalah tercantum dalam laporan Komisaris Tinggi HAM PBB, yang menyatakan telah tercatat dalam dokumen mereka tentang bagaimana kebijakan asimilasi dan pengekangan beragama diterapkan bagi perempuan dan anak-anak Uygur.

Menurut Anda bagaimana peran negara-negara Islam di luar Turki saat dalam mendukung perjuangan Anda?

Kasus Turkistan Timur harus menjadi tanggung jawab bersama setiap umat Muslim yang mengatakan saya seorang Muslim dan semua negara Islam.

Turki pertama kali masuk memeluk agama Islam pada saat berlokasi geografis di Turkistan Timur. Imam Maturidi yang merupakan pemimpin praktik keimanan kita, yang kita sebut Imam Maturidi dan Ahl As-Sunnah Wal-Jamaah, juga merupakan seorang Turki Uighur. Turki yang kemudian memuliakan Islam bersama dengan Sultan Satuk Buğra Han, penguasa Karakhanid Sultan Satuk Buğra Han, dalam hal memberikan kontribusi dan pelayanan yang besar untuk penyebaran Agama Islam juga berasal dari Turki Uyghur.

Dalam hal ini, dunia Islam memiliki tanggung jawab yang tak terelakkan untuk Turkistan Timur. Sedangkan dunia Turki merasakan tanggung jawab dalam hal kekerabatan dan etnis, disaat esensi dan memori dunia suku Turki secara historis adalah di wilayah Turkistan Timur. Dalam Divanı Lügatit Türk karya Kaşgarlı Mahmut, di mana nama Turki disebutkan untuk pertama kalinya, diambil dalam 23 tahun pekerjaannya dengan berkeliling ke semua suku Turki dan membuktikan bahwa bahasa Turki dapat menjadi bahasa dunia. Dalam hal ini, persemakmuran Turki memiliki tanggung jawab dan tugas yang sangat serius di negara-negara seperti Turki, Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, Turkmenistan, dan Azerbaijan yang serumpun dengan Uyghur.

Sekali lagi, orang-orang Turkistan Timur adalah bagian tak terpisahkan dari hal kemanusiaan dan merupakan wilayah yang paling tertindas, sehingga umat manusia harus memenuhi tanggung jawab ini untuk mengangkat dan menyelamatkan martabat manusia yang tertindas di Turkistan Timur.

Sebagai ringkasan yang saya katakana sebelumnya, jika kita merasa kita manusia, dapat menemukan tanggung jawabnya untuk mendukung Turkistan Timur karena masyarakat Turkistan Timur adalah wilayah yang paling tertindas secara kemanusiaan. Jika kita mengatakan kita adalah Muslim, maka Turkistan Timur adalah Muslim yang paling tertindas dalam wilayah kenegaraan Islam, dan bagi mereka yang mengatakan bahwa mereka berasal dari suku Turki, maka Turkistan Timur adalah merupakan wilayah yang paling tertindas di dunia Turki, dan semua elemen tersebut harus mengambil tanggung jawab atasnya.

Sayangnya, kami belum melihat adanya dukungan atau kontribusi yang serius di dunia Islam atau dunia Turki (Negara-negara dengan kesukuan rumpun Turkic) di luar Turki. Meskipun Turki terkadang memendam untuk menjelaskan kesalahan yang telah dibuat Pemerintah China untuk melindungi hubungan diplomatisnya dengan China, Turki adalah satu-satunya negara yang telah merangkul tujuan masyarakat Turkistan Timur, baik di dunia Islam maupun di dunia Turki, dan membawanya ke platform internasional dan pemberitaan global. Seperti pada sebelumnya, Presiden Recep Tayyip Erdoğan membuat pidato bersejarah pada 22 September 2020, mengatakan bahwa kita tidak bisa tetap tuli terhadap saudara-saudara Muslim Uyghur disana dan bahwa kita harus terus mengikuti perkembangan informasi tentang mereka.

Sayangnya, Pada platform internasional di PBB, pada saat banyak negara seperti Amerika dan beberapa negara lainnya, terutama di Barat yakni Eropa mengutuk China atas genosida di Turkistan Timur yang mereka praktikkan dan memberikan hak suara mereka dalam voting pembahasan Turkistan Timur, bahwa di Turkistan Timur telah terjadi pemberlakuan genosida, Negara-negara Islam dan negara berbasis kesukuan Turki seperti Kazakhstan, Uzbekistan dan lain-lain yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak berpartisipasi dalam pemungutan suara ini dan memposisikan China sebagai pemilik status yang sah dalam perlakuan kejam dan genosida di Turkistan Timur. Secara otomatis sama dengan menganggap China berhak dan tidak bersalah dalam perlakuannya terhadap masyarakat Turkistan Timur, itu semua masih sangat jelas dalam ingatan kami.

Sekali lagi, lima bulan lalu, Perdana Menteri Pakistan Imran Khan, satu minggu sebelum pemilihan Pakistan, untuk melindungi kekuasaannya, Dia mengatakan pernyataan kontroversial bahwa China adalah negara yang mengikuti jalan Muhammad SAW.

Saya sebagai masyarakat Turkistan Timur yang mengimani dan memuliakan nabi kita Bersama Rasulullah Muhammad SAW,  yang dikatakan oleh PM Pakistan bukan hanya fitnah terhadap masyarakat Turkistan Timur, tapi juga kepada Nabi kita. Ini juga merupakan fitnah dan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Saya pikir itu adalah pengkhianatan terbesar terhadap Islam yang mulia. Sayangnya, ini adalah cerminan dari komunitas agama, ulama, partai politik, dan pemimpin negara-negara Islam, yang berdiam diri terhadap statemen yang menghina Nabi kita sejak dua puluh tahun yang lalu, yang telah muncul kembali.

Mereka, para ulama dan pemimpin negara Islam tidak mengeluarkan sepatah kata pun terhadap perkataan Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan yang mengatakan bahwa China adalah pengikut jalan Nabi Muhammad dan melawan genosida yang benar terjadi di Turkistan Timur. Meskipun begitu, masyarakat Pakistan adalah saudara kita yang membersamai kita, PM Pakistan telah kehilangan kursinya dengan penghinaan dan pengkhianatan ini, dia kemudian kehilangan kursinya dengan omong kosong pra-pemilihan ini, dan dia kehilangan martabat dan kehormatannya.

Bagaimana peran Indonesia dan Malaysia sendiri menurut Anda?

Indonesia dan Malaysia adalah dua negara penting di dunia Islam. Dua negara penting dengan potensi penduduk Muslim yang sangat besar. Pada saat yang sama, dua negara saudara penting di Asia Tenggara ini juga berbatasan dengan China melalui laut, dan memiliki beberapa konflik perbatasan laut dengan China. Dukungan yang diberikan negara-negara tersebut kepada masyarakat Turkistan Timur oleh Malaysia dan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yakni dukungan masyarakat Muslim Malaysia dan masyarakat Indonesia kepada Umat Islam yang tertindas di Turkistan Timur, sebenarnya telah mencerahkan wajah. dunia Islam dan telah membawa kepala dunia Islam tegak.

Selama berada di Indonesia pada tahun 2019, kami hadir dalam aksi demonstrasi untuk Turkistan Timur yang dihadiri puluhan ribu orang dan didukung oleh masyarakat Indonesia. Dalam unjuk rasa tersebut, saya juga menyampaikan pidato sebagai Presiden Majelis Nasional Turkistan Timur, di aksi yang kami lakukan di Jakarta, di depan kedutaan besar China. Aksi ini merupakan aksi yang menjadi sejarah dunia dalam perjuangan Turkistan Timur dengan partisipasi terbanyak dan esensi yang disampaikan. Dalam hal ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas nama 35 juta saudara Muslim kita yang tertindas di Turkistan Timur.

Saya juga berharap kepekaan dan ketulusan yang sama atas nama Malaysia, karena Malaysia memberi kami dukungan besar dalam upaya ribuan saudara Turkistan Timur kami untuk pergi ke Asia Tenggara untuk melarikan diri dari penganiayaan China dan untuk kabur dari pembantaian China. Perdana Menteri Malaysia saat itu Abdul Razak Hussein dan Perdana Menteri Turki saat itu Recep Tayyip Erdogan menjawab permintaan bantuan kami dan saling bertemu dengan perdana menteri Malaysia dan sekitar 15 ribu saudara Turkistan Timur kami yang berada Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, dan Indonesia dapat diselamatkan ke Turki. Kami berterima kasih kepada pemerintah Malaysia dan rakyat Malaysia dalam hal ini. (yo5/Diq)