Warga Demak Korban Sandera Ingin Kembali ke Papua

Bupati Demak HM Natsir menyambut kedatangan warga Demak yang sempat disandera kelompok kriminal bersenjata di Tembagapura, Mimika, Papua. FOTO : ADHI PRAMANTO/JATENGPOS.CO.ID

JATENGPOS.CO.ID, DEMAK — Setelah disandera oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, akhirnya 38 warga Demak berhasil pulang ke kampung halaman mereka di Desa Kedondong Demak Kota. Kedatangan mereka malam lalu disambut langsung oleh bupati Demak HM Natsir di pendopo kabupaten, kemarin.

Keharuan terlihat saat keluarga mereka menyambut bersama bupati. Pasalnya hampir satu bulan lebih, mereka disandera KKB di Tembagapura Mimika, Papua. Semua harta benda mereka dirampas KKB hingga hanya tersisa pakaian yang menempel saja. Bukan hanya itu, mereka juga mengalami siksaan dan pelecehan seksual oleh anggota KKB tersebut.

Slamet Riyadi (26) yang merupakan salah satu sandera menceritakan, bahwa dirinya sangat bersyukur bisa kembali ke Demak bersama ayah dan adiknya, setelah selama sebulan lebih disekap KKB. Sebelumnya dia sudah membayangkan tidak bisa berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya di Demak. Namun berkat usaha pemerintah melalui TNI, dirinya bersama 43 warga Jateng lainnya akhirnya berhasil kembali ke Jawa.

“Kami sangat bersyukur bisa pulang ke rumah, namun jika kondisi sudah aman, tentulah kami akan kembali ke Papua. Karena disana adalah tempat kami mencari makan selama ini,” ujar Slamet yang bekerja sebagai pencari emas di Papua.

Kondisinya sendiri saat berada di Papua sangat mencekam karena terus berada dalam cengkraman KKB yang bersenjata lengkap, sehingga tidak bisa keluar dari Desa Longsor, Tembagapura, Mimika, Papua.

Dirinya mengaku sempat melarikan diri dari anggota KKB yang membawa senjata, namun akhirnya berhasil lolos setelah bersembunyi di sapiteng. Meski demikian, Slamet akhirnya tertangkap setelah sempat bersembunyi selama beberapa hari.

“Saya digabungkan dengan sandera lainnya, yang berasal dari daerah Demak juga,” teranganya.

Yang menyedihkan, selama dalam penyanderaan, mereka hanya diberi makan sehari sekali, dan hanya nasi putih ditaburi garam.

“Beberapa diantara kami, juga ada yang dipukul menggunakan ujung senjata api laras panjang, yang jelas kami bersyukur bisa kembali ke rumah,” imbuh Slamet.

Bupati Demak HM Natsir mengaku bahagia dengan kembalinya warga Demak yang disandera KKB di Tembagapura Papua. Selama ini baik keluarga maupun pemkab merasa sangat kawatir dengan kondisi warga Demak yang disandera di Papua. Begitu mendengar kabar, bahwa mereka berhasil dibebaskan pasukan TNI, bupati mengatakan bahwa ini merupakan sebuah anugrah yang luar biasa bagi keluarga yang menunggu di rumah.

“Kami merasa sangat lega bisa membawa mereka pulang lagi ke Demak,” ucap bupati.

Terpisah, Kepala Dinas Ketegakerjaan dan Perindustrian Demak, Eko Pringgolaksito menjelaskan, bahwa warga Demak yang disandera KKB berhasil dibawa pulang. Adapun jumlah mereka ada sebanyak

38 warga Demak yang terdiri dari warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota, Desa Gebang, Kecamatan Bonang, dan Desa Melati, Kecamatan Mijen.

“Evakuasi terhadap para sandera dilakukan seminggu lamanya, kami ditugaskan untuk menjemput mereka yang tidak bisa pulang karena harta bendanya dirampas KKB. Meski demikian kondisi kesehatan mereka cukup baik,” jelas Eko.

Ditambahkan Eko, bahwa selama ini mereka bekerja dengan cara menyewa lahan milik warga setempat dengan nilai sewa antara Rp 10 juta hingga Rp 15 juta per kavlingnya. Selama menambang emas buangan dari PT Freeport kehidupan mereka rata-rata berkecukupan. (adi/muz)