JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Keramaian Car Free Day (CFD) Kartasura pada Minggu (11/1) pagi diwarnai dengan pemandangan unik dan menarik. Sejumlah seniman dari Indonesia, Jepang, dan Taiwan menampilkan tarian diiringi musik langsung, dalam rangka Pre-Event International Rain Festival (IRF) 2026.
Acara dimulai dengan arak-arakan (longmarch) dari Gapura Benteng Kartasura. Para penari, termasuk Kanae Asakawa dari Jepang, serta Lucy Lu dan Huang Yen Chen dari Taiwan, menari sepanjang jalan menuju titik pentas.
Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi, di mana ribuan warga sibuk mengabadikan momen kolaborasi lintas negara ini dengan kamera ponsel mereka.
Seniman Indonesia yang terlibat dalam kolaborasi ini adalah musisi Mumtaz Pajut Nurogo dan Yuspianal Imtihan, serta penari Marvel Gracia, Magnum Arkan Nala, dan Mugiyono Kasido.
Mereka berkolaborasi membawakan repertoar yang bertajuk “Untaian Terima Kasih Atas Berkah Hujan.” Selain sajian kolaborasi utama, ditampilkan pula tarian “Gugur Gunung” oleh murid Studio Mugidance dan tari “Minak Jinggo” yang dibawakan langsung oleh Direktur Festival, Magnum Arkan Nala.
“Kegiatan pre-event ini dimaksudkan untuk lebih mendekatkan masyarakat pada kesenian, pada IRF, dan mengembangkan rasa toleransi pada perbedaan budaya,” ujar Magnum Arkan Nala.
Dalam interaksi yang menarik, sajian seni diselingi dengan pemberian tanaman Lidah Mertua (Sansevieria), yang dikenal sebagai tanaman anti-polutan, kepada penonton. Aksi ini menunjukkan pesan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat hubungan antara seniman dan masyarakat.
Puncak sajian di CFD ditutup dengan tarian tradisional/tari kerakyatan Koshigaya, Jepang, yaitu “Koshigaya Bon Odori.” Dipimpin langsung oleh Kanae Asakawa, yang memang asli dari Koshigaya, masyarakat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, bergabung dan bergembira bersama menarikan tarian tersebut.
“Saya sangat senang dengan respon masyarakat terhadap budaya Jepang, saya sangat menghargainya,” kata Kanae usai acara CFD, Minggu (11/1).
Antusiasme masyarakat terbukti dengan banyaknya pengunjung yang meminta swafoto bersama para seniman mancanegara.
“Saya senang bisa menarikan tarian Jepang, menarik gerakannya dan tidak sulit diikuti. Besok IRF saya akan datang ke tempat festival, semoga bisa ikut menari ini lagi,” kata Eni, salah seorang pengunjung dari Semarang. (dea/rit)



