24 C
Semarang
Kamis, 15 Januari 2026

Menjaga Nafas Terakhir Wayang Klithik Wonosoco

JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Di sebuah desa di Lereng Pegunungan Kendeng, suara kayu yang saling beradu perlahan kembali terdengar. Bukan sekadar bunyi, melainkan gema sejarah panjang yang hampir terhenti. Wayang Klithik Wonosoco, seni pedalangan kayu yang telah hidup ratusan tahun di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kembali dihadirkan ke hadapan publik di tengah ancaman kepunahan yang nyata.

Berbeda dengan wayang kulit yang akrab dengan kisah Mahabharata dan Ramayana, Wayang Klithik Wonosoco bertumpu pada babad lokal. Setiap lakon merekam asal-usul desa, dinamika kekuasaan masa lalu, hingga hubungan manusia dengan alam dan spiritualitas. Di balik kelir sederhana, tersimpan ingatan kolektif masyarakat Wonosoco tentang siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Namun tradisi itu kini berada di titik rapuh. Wayang Klithik Wonosoco hanya memiliki satu dalang aktif yakni Ki Sutikno, generasi kedelapan pewaris tradisi ini. Tak ada murid, tak ada penerus. Wayang yang dahulu menyatu dengan denyut ritual desa, kini hanya tampil pada momen tertentu, seperti sedekah bumi dan merti sumber.

“Wayang Klithik bukan hanya pertunjukan. Di dalamnya ada doa, nilai, dan sejarah desa,” tutur Ki Sutikno.

Baca juga:  Berburu Senja di Pantai Marina Semarang, Ramai Pengunjung hingga Kuliner Menggoda Selera

Kegelisahannya bukan semata soal usia atau fisik, melainkan tentang hilangnya suara leluhur desa jika wayang ini berhenti dipentaskan. Kondisi inilah yang mendorong Bustomy Rifa Aljauhari, penggiat budaya asal Kudus, menggagas program pelestarian bertajuk Sang Dalang Terakhir.

Program ini dirancang sebagai ikhtiar penyelamatan Wayang Klithik Wonosoco melalui dokumentasi film, penguatan ruang pertunjukan, serta kegiatan edukatif yang melibatkan masyarakat dan komunitas seni.

“Wayang Klithik bukan sekadar arsip budaya. Ia adalah praktik budaya hidup yang memuat pengetahuan sejarah lokal, relasi manusia dengan alam, serta nilai spiritual masyarakat Jawa,” ujar Bustomy.

Dia menjelaskan, Wayang Klithik memiliki keterkaitan erat dengan ritual merti sumber. Dalam konteks ini, wayang menjadi medium doa, pengingat sejarah, sekaligus sarana pewarisan nilai moral lintas generasi.

Melalui program Sang Dalang Terakhir, para penggiat seni dan komunitas budaya di Kota Kretek, diajak untuk membuka ruang regenerasi. Harapannya, generasi muda kembali menemukan ketertarikan pada wayang kayu yang nyaris terlupakan ini. ‘’Nantinya, dokumentasi dan pertunjukan pun dikemas lebih relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisinya,’’ imbuhnya.

Upaya tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia serta Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Dana Indonesiana. Dukungan ini menjadi penanda penting bahwa Wayang Klithik Wonosoco bukan hanya milik satu desa, melainkan bagian dari kekayaan budaya bangsa yang terancam putus regenerasi.

Baca juga:  Genjot Peningkatan Kunjungan Wisata, PT KA Wisata dan Pemkot Bandung Jalin Kerja Sama

Sementara Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Kudus, Jatmiko Muhardi Setyanto, menilai Wayang Klithik sebagai identitas budaya khas Kudus yang perlu dikenalkan lebih luas.

“Wayang Klithik tidak boleh berhenti pada satu generasi. Pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi dan ruang publik, agar seni tradisi ini tetap relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Sebagai puncak rangkaian program, Wayang Klithik Wonosoco dipentaskan pada Sabtu (10/1/2026) malam, di Taman Padang Mbulan turut Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus. Lakon baru disajikan tetap berpijak pada babad lokal, namun membuka dialog dengan realitas sosial masa kini. Kelir menjadi ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan.

Bagi masyarakat Wonosoco, pementasan itu bukan sekadar tontonan. Ia adalah ikhtiar kolektif menjaga babad sejarah agar tetap bernapas, berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui bayang-bayang wayang kayu. Selama masih ada yang mau mendengar dan mewarisi, Wayang Klithik Wonosoco belum benar-benar berakhir. (han/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...