30 C
Semarang
Rabu, 14 Januari 2026

Menjaga Tradisi Menolak Bala, Desa Penggung Gelar Merti Dusun Wayang Kulit “Sri Mulih”

JATENGPOS.CO.ID, BOYOLALI – Alunan gamelan terdengar syahdu dari Desa Penggung, Kecamatan Boyolali, Selasa (13/1) malam. Ratusan warga berkumpul, bukan sekadar menonton pertunjukan, melainkan merayakan sebuah janji leluhur yang telah dijaga selama lintas generasi melalui tradisi Merti Dusun.

Tahun ini, Merti Dusun Desa Penggung tampil beda. Di tengah ketergantungan banyak wilayah terhadap anggaran pemerintah, warga Penggung justru menunjukkan taji kemandirian. Dana sebesar Rp95 juta berhasil dihimpun murni dari kantong pribadi masyarakat secara gotong royong.

Kepala Desa Penggung, Suyamto, menjelaskan bahwa nilai materiil tersebut merupakan simbol keberdayaan warga. Ia menekankan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan hanya bisa dicapai jika masyarakat terlibat aktif secara fisik maupun finansial.

“Ini menjadi bukti semangat gotong royong kami. Visi kami adalah meningkatkan taraf hidup melalui kerja cerdas, sehingga desa bisa maju dan mandiri tanpa harus selalu bergantung pada dana desa,” ujar Suyamto di sela acara.

Baca juga:  Gelar Expo Sambut Liburan Imlek, Museum KA Ambarawa Hadirkan 30 UMKM

Secara historis, Merti Dusun di Desa Penggung berakar dari peristiwa kelam masa lalu saat wabah penyakit melanda. Alkisah, seorang tokoh masyarakat bernazar akan memindahkan lokasi desa dan menggelar wayang kulit jika warga selamat dari wabah tersebut. Sejak saat itu, pagelaran wayang dengan lakon khusus, Sri Mulih, menjadi agenda wajib yang tidak boleh ditinggalkan.

Tahun ini, dalang Tantut Sutanto didapuk membawakan lakon tersebut pada siang hari, disusul lakon Bima Bungkus pada malam harinya. Ritual ini diawali dengan prosesi khidmat di Kepunden, sebuah petilasan sesepuh desa, sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para leluhur.

Ketua Panitia, Tri Haryanto, memaparkan bahwa rangkaian kegiatan telah dimulai sejak Minggu lalu dengan kerja bakti massal di lingkungan RW 07 hingga RW 11. Selain aspek ritual, panitia juga menghadirkan sisi hiburan dan ekonomi melalui pentas karawitan lintas generasi—mulai dari siswa SD hingga kelompok bapak-bapak—serta bazar pasar murah yang diikuti pelaku UMKM.

Baca juga:  Disbudpar Kudus Genjot Penerimaan Daerah

“Kami ingin tradisi ini tidak hanya menjadi ritual statis, tapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi warga melalui pasar murah,” pungkas Tri.

Misi Desa Penggung adalah meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan kerja keras dan cerdas untuk mewujudkan Desa Penggung yang maju, mandiri, demokratis dalam kesejahteraan.

Melalui perayaan ini, Desa Penggung seolah mengirimkan pesan kuat: bahwa di tangan masyarakat yang kompak, tradisi tetap lestari dan kemandirian ekonomi bukan sekadar mimpi. (dea/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...