JATENGPOS.CO.ID-Di salah satu sudut Kabupaten Pati terdapat peninggalan sejarah pemerintah Kolonial Belanda yang kini menjadi destinasi masyarakat, yaitu Waduk Gunungrowo. Waduk yang sudah ada pada tahun 1925 ini berlokasi di Desa Sitiluhur, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Tempat ini menyajikan taman di atas waduk yang berbentuk bundar dengan pemandangan gunung di sekelilingnya, cocok untuk menjadi tempat bersantai.
Tempat ini memiliki pemandangan air dengan pantulan cahaya matahari di permukaannya. Tidak hanya itu, waduk ini dikelilingi rentetan gunung dan pepohonan yang menambah kesan keindahan alam, sehingga cocok dijadikan tempat untuk menenangkan pikiran. Selain itu, di tepi waduk banyak warung-warung berjejeran yang menyediakan jajanan desa dengan harga yang relatif murah, dan juga menyediakan gazebo sebagai tempat lesehan di sana, serta wahana bermain kecil untuk anak-anak. Untuk menuju lokasi, pengunjung dapat melewati jalan dari Pasar Tlogowungu dengan waktu tempuh 15 menit.

Awalnya, tempat ini hanya infrastruktur irigasi milik Pemerintah Kolonial Belanda yang digunakan untuk mengairi lahan pertanian dari Gembong hingga Juwana. Waduk tersebut beroperasi sejak tahun 1925. Namun, saat masa Kolonial Belanda berakhir, waduk ini jadi milik warga Desa Sitiluhur dan mulai dikelola secara mandiri. Karena tempat ini memiliki pemandangan alam yang indah, banyak warga sekitar yang sering bermain di lingkungan waduk. Seiring waktu, banyak warga yang mengunjunginya, sehingga Waduk Gunungrowo dijadikan destinasi wisata oleh warga lokal.

Menurut Ulya, seorang wisatawan, Waduk Gunungrowo memiliki pemandangan alam yang asri. Ia telah mengunjungi tempat tersebut berkali-kali, bahkan dulu saat dia pulang sekolah ia menyempatkan waktu untuk berkunjung dan menikmati suasana di sana. Ia lebih sering berkunjung di hari Senin dan Selasa karena di hari tersebut lebih sedikit pengunjungnya. ”Saya sering kali sengaja pulang melewati rute waduk agar saya bisa mampir sebentar untuk sekadar duduk dan menikmati suasana di waduk. Sering kali saya datang di hari kerja, suasana di hari Senin atau Selasa tentunya lebih sepi, dan suasana itu yang lebih saya sukai,” kata Ulya.(Fadlan)



