Beranda Jateng Petani Kendal Tolak Kebijakan Pemerintah Impor Beras, Ini Alasannya

Petani Kendal Tolak Kebijakan Pemerintah Impor Beras, Ini Alasannya

BERBAGI
Sebagian petani di wilayah kecamatan Brangsong mulai memanen hasil tanaman padi dibantu Babinsa Koramil setempat. FOTO:ADYE VIANT/JATENGPOS

JATENGPOS.CO.ID. KENDAL-  Sejumlah petani dan pengusaha penggilingan padi di Kendal menolak rencana pemerintah yang akan melakukan impor beras. Jika hal itu direalisasikan, maka akan menyebabkan harga gabah menjadi turun, tatkala beras milik para petani melimpah di saat panen raya.

Muhdor (42) salah seorang petani asal kelurahan Pekauman Kecamatan Kota Kendal mengatakan seharusnya pemerintah bisa pro petani ketika mengeluarkan kebijakan perlu tidaknya mengimpor beras sehingga nantinya tidak merugikan petani.

“Kami mohon pemerintah agar membatalkan terkait kebijakan mengimpor beras itu. Sebab bentar lagi petani akan panen raya padi. Tak hanya di wilayah Kendal saja, namun panen raya ini hampir seluruh Indonesia. Jangan sampai alih-alih impor beras untuk mencukupi ketersediaan akan beras justru merugikan petani, akibat banyaknya beras impor jadikan harga gabah jadi rendah,” kata dia, Rabu (17/1).

Ia mengungkapkan,  bahwa panen raya padi di Kabupaten Kendal sendiri akan terjadi pada awal Februari 2018 yang sebagian tanaman padi sudah mulai panen dan bulan Maret panen rayanya. Kebanyakan panen padi yang diakukan pada awal bulan depan tersebut akan diulakukan oleh petani yang lebih dahulu melakukan penanaman padi.

“Seperti Petani di Desa Puguh, Kuncen dan Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon yang melakukan awal penanaman. Maka mereka akan panen di akhir Januari ini,” ungkap Muhdor.

Hal senada, pengusaha penggilingan padi warga di desa Jambearum Kecamatan Patebon juga menolak  rencana pemerintah yang akan mengimpor beras. Dikatakan jika pemerintah tidak perlu merealisasikannya dalam mengimpor beras, sebab saat ini sudah mulai panen dan bulan Februari hingga Maret panen raya.

Jika pemerintah tetap mengimpor beras, maka stok beras bisa melimpah, sehingga harga gabah bisa turun dan petani akan merugi. Padahal kebutuhan untuk merawat tanaman padi banyak yang naik, seperti upah tenaga dan lainnya.

“Kalau bisa ya jangan impor, karena sekarang sudah mulai panen padi,” pinta Samsudin. (via/muz)

 

BERBAGI