JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P. mengatakan fenomena global seperti pandemi Covid-19, dinamika perang Rusia-Ukrania berpengaruh kepada harga minyak dan gandum, serta adanya turbulensi energi menjadi tantangan ketahanan Indonesia saat ini.
“ Mengelola negara di tengah situasi global seperti saat ini bukanlah hal mudah. Untuk itu pemerintah dituntut untuk bekerja cepat dan profesional, dengan tetap berpijak pada asas clean goverment dan juga good governance. Tidak mudah bagi pemerintah untuk mencari titik keseimbangan antara demokrasi dan stabilitas,” ujar Moeldoko saat menjadi nara sumber di seminar kebangsaan yang digelar UKSW bertajuk “Membangun Wawasan Kebangsaan di Era Disrupsi Informasi: Strategi Pemerintahan Jokowi Menjaga Keamanan Nasional”, Senin (18/07).
Menghadapi kondisi ini, pria yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI ini menyebut bahwa generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan perlu disiapkan agar cita-cita Indonesia menjadi negara maju tahun 2045 tercapai.
“Generasi muda perlu memiliki kemampuan memecahkan masalah kompleks, berpikir kritis, serta kreatif dan inovasi. Hal itu menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ketahanan Indonesia saat ini. Tanpa ketiga kunci itu, kita akan ketinggalan. Be innovative or die,” ujar Moeldoko.
Sementara Gubernur Jawa Tengah yang membuka acara seminar tersebut secara daring mengatakan, tema yang dibahas dalam seminar ini sangatlah menarik. Hal ini menurutnya tidak lepas dari dibutuhkannya konsolidasi dari seluruh elit negara dalam menjaga keamanan negara.
“Wawasan berbangsa, kita bangun dalam menghadapi kondisi yang tidak gampang. Saat ini pun terjadi gejolak geopolitik. Dalam hal ini peran perguruan tinggi, pemerintahan dan masyarkat penting untuk menyukseskan konsolidasi. Menjadi menantang dan menarik karena kita dituntut untuk berpikir mencari solusi alternatif dan berbagi peran,” tegas Ganjar dihadapan para peserta yang terdiri dari akademisi UKSW, forkopimda Provinsi Jawa Tengah, forkopimda Kota Salatiga, serta sejumlah tamu undangan.
Sementara, Rektor UKSW Neil Semuel Rupidara, S.E., M.Sc., Ph.D., mengatakan bahwa negara menargetkan ribuan orang untuk bersekolah hingga meraih gelar profesor dan kembali untuk memajukan Indonesia. “ Namun realitanya tidak semuanya memiliki jiwa kebangsaan yang tinggi. Untuk itu saya berharap seminar ini dapat membawa pesan menuju Indonesia yang diimpikan,” tandasnya.
Sementara itu, Doktor Geopolitik Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Dr. Ir. Hasto Kristiyanto, M.M., menyebut bahwa tujuh variabel pemikiran geopolitik Soekarno dapat menjadi peta jalan kebijakan pertahanan negara dalam mengkaji dan melahirkan kebijakan pertahanan negara.
“ Ketujuh variabel itu yakni demografi, teritorial, sumber daya alam, militer, politik, ko-eksistensi damai serta sains dan teknologi,” ucap peneliti pemikiran politik Soekarno dan relevansinya terhadap pertahanan negara tersebut.
Turut hadir sebagai narasumber dalam seminar ini adalah Ketua Komisi Informasi Pusat Republik Indonesia, Dr. Ir. Donny Yoesgiantoro, M.M., M.P.A, Mantan Ketua Dewan Pers dan Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Ir. Yoseph Stanley Adi Prasetyo serta Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Andi Widjajanto, S.Sos., M.Sc. (deb)




