JATENGPOS.CO.ID SEMARANG – Di balik geliat pendidikan anak usia dini di Kecamatan Semarang Barat, ada sosok yang bekerja senyap namun konsisten. Femega Dian Putriani, Bunda PAUD Kecamatan Semarang Barat.
Wajahnya berseri ketika menerima kabar bahwa ia meraih peringkat pertama Apresiasi Bunda PAUD tingkat Nasional yang diberikan oleh Kementerian Pendidikan. Penghargaan itu baginya bukan sekadar piala, melainkan pengakuan bahwa peran Bunda PAUD yang kerap luput dari sorotan sebenarnya memegang peran penting dalam pondasi pendidikan anak usia dini.
“Kadang kami merasa peran Bunda PAUD tidak terlalu terlihat. Tapi ketika kementerian memberikan apresiasi, itu menjadi bukti bahwa peran ini sangat penting,” ujarnya pada Selasa (18/11/2025).
Penghargaan tersebut, lanjut Femega, menjadi tambahan energi untuk memperkuat advokasi dan sosialisasi ke seluruh lembaga PAUD di wilayahnya.
Tahun ini, Apresiasi Bunda PAUD mengangkat tema Wajib Belajar 13 Tahun, menegaskan bahwa masa preschool bukan sekadar persiapan akademik, tetapi fondasi karakter dan kesiapan belajar seorang anak.
“Penambahan satu tahun itu justru ke bawah, ke PAUD. Ini menunjukkan bahwa PAUD adalah fondasi utama sebelum anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya,” jelasnya.
Dengan semangat itu, Femega bersama tim di Kecamatan Semarang Barat gencar melakukan edukasi, advokasi, hingga kampanye publik melalui berbagai kanal media. Tidak hanya tentang pentingnya PAUD, tetapi juga tentang pemerataan kualitas layanan di semua lembaga.
Salah satu persoalan besar yang ia temui adalah banyaknya pos PAUD swadaya yang belum memiliki legalitas. Biaya pendirian yayasan yang mencapai sekitar Rp5 juta membuat banyak masyarakat kesulitan memenuhi syarat izin operasional.
Femega kemudian mengambil langkah tak biasa: membentuk satu lembaga payung untuk menaungi pos-pos PAUD tersebut agar bisa memperoleh legalitas resmi. “Setelah berizin, mereka bisa masuk Dapodik, murid mendapatkan NISN, guru dapat kesejahteraan yang lebih baik, serta bisa mengakses BOSP dan akreditasi,” katanya.
Dari 119 PAUD di Semarang Barat, sebagian besar kini telah mengantongi izin, menyisakan beberapa yang masih dalam proses. Sebanyak 27 di antaranya adalah PAUD swadaya.
Upaya Semarang Barat tidak berhenti di sana. Kecamatan ini menjadi salah satu lokasi piloting project PAUD Emas dari Bunda PAUD Provinsi Jawa Tengah. PAUD Emas merupakan konsep PAUD berbasis swadaya masyarakat, semuanya dikelola oleh warga sekitar.
Di salah satu PAUD Emas, terdapat sumber air artetis. Penjualan air tersebut sepenuhnya digunakan untuk kebutuhan operasional sekolah. Guru-gurunya pun warga sekitar, dan layanan diberikan gratis untuk anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Tinggal di wilayah perkotaan menghadirkan tantangan tersendiri. Heterogenitas masyarakat membuat pemerataan kualitas PAUD perlu usaha ekstra. Femega ingin memastikan guru-guru di PAUD swadaya tidak merasa kalah dibanding sekolah PAUD swasta yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
“Kami memberikan pelatihan pembelajaran mendalam, kelas orang tua, hingga kegiatan kebersamaan seperti piknik dan jalan sehat. Tujuannya agar guru-guru PAUD merasa setara,” ujarnya.
Dengan jumlah anak usia sekolah sekitar 2.300, ketersediaan 119 PAUD dinilai memadai. Bahkan di satu kelurahan bisa berdiri tiga hingga empat PAUD. Biaya pos PAUD yang hanya dua hingga tiga ribu rupiah per kedatangan memungkinkan semua keluarga, termasuk yang kurang mampu, mengakses pendidikan dini.
Camat Semarang Barat, Elly Asmara, yang juga suami Femega, menegaskan bahwa pemerintah kecamatan memiliki peran strategis dalam mendukung program PAUD. Berdasarkan Perwal Nomor 7 Tahun 2018, kecamatan memiliki tanggung jawab dalam koordinasi penyelenggaraan pendidikan.
“Ini sangat terkait dengan tugas kami. Kami bangga Bunda PAUD Semarang Barat diapresiasi. Artinya, ada praktik baik yang divalidasi oleh kementerian,” ujarnya.
Ia mendorong seluruh perangkat wilayah—camat, lurah, dan instansi terkait—agar mendukung penuh peran Bunda PAUD di masing-masing kecamatan. Tanpa dukungan tersebut, program tidak akan optimal.
Elly juga menyoroti pentingnya kolaborasi untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Selain mendorong minat sekolah di PAUD, kecamatan aktif membantu pemenuhan hak-hak anak seperti akta kelahiran. “Semarang adalah kota layak anak, dan Semarang Barat kecamatan layak anak. Pemenuhan hak anak itu wajib,” tegasnya.
Di akhir percakapan, Femega menyampaikan harapannya: tidak ada satu anak pun di Semarang Barat yang melewatkan pendidikan PAUD. “Setahun saja mengikuti PAUD, anak menjadi lebih matang secara emosi, mandiri, dan mampu bersosialisasi. PAUD bukan mengejar baca-tulis, tapi kesiapan belajar,” pungkasnya.
Di tangan Femega dan dukungan penuh dari kecamatan, Semarang Barat terus berupaya menjadikan PAUD sebagai fondasi kuat bagi generasi masa depan—dimulai dari semangat warga, untuk warga. (sgt)







